penggunaan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika siswa kelas X semester 1 di SMA Negeri 1 Sakra

Diposkan oleh wawan yawarmansyah on Sabtu, 28 Mei 2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fisika merupakan cabang IPA yang mempelajari tentang kejadian-kejadian alam. Fisika bukan merupakan kumpulan pengetahuan semata, melainkan proses dan sikap ilmiah yang tidak dapat dipisahkan. Karena itu dalam mengajar fisika kita tidak hanya dengan informasi saja, melainkan juga mengajarkan proses mendapatkan konsep-konsep fisika, sehingga pada akhirnya timbul sikap ilmiah.
Belajar fisika akan menyenangkan kalau memahami keindahan dan manfaatnya, jika siswa sudah mulai tertarik baik oleh manfaatnya ataupun dari lapangan kerjanya, mereka akan bisa lebih mudah dalam menguasai fisika. Maka motivasi belajar sudah menjadi modal pertama untuk menghadapi halangan atau kesulitan ketika sedang belajar fisika.
Untuk mengetahui pencapaian tujuan pembelajaran, pada setiap akhir program pengajaran dilakukan evaluasi. Indikator keberhasilan dari pencapaian tujuan pengajaran tersebut adalah kemampuan belajar siswa yang diwujudkan dalam bentuk Ujian Akhir Nasional (UAN). Hasil UAN
Fisika yang diperoleh siswa dari tahun ke tahun sangat tidak menggembirakan. Hal ini menandakan kualitas pendidikan Fisika masih rendah. Misalnya, dalam mata pelajaran Fisika dalam dua tahun terakhir pada SMU Negeri 1 Sakra Timur. Dari hasil observasi dan pengamatan guru mata pelajaran fisika di SMA Negeri 1 Sakra Timur diperoleh bahwa prestasi belajar fisika masih tergolong rendah. Hal ini bisa dilihat dari perolehan UAN yang rendah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari table 1.1 berikut:
Tabel 1.1. Rata-rata Nilai UAN Fisika Siswa SMA Negeri 1 Sakra Timur
Tahun Ajaran Nilai Terendah Nilai Tertinggi Rata-rata Nilai UAN Simpangan Deviasi
2004/2005 4.32 5.00 4.61 0.35
2005/2006 4.59 6.32 5.00 0.67
(SMA Negeri 1 Sakra Timur)
Prestasi belajar siswa khususnya mata pelajaran fisika pada tiap tahun ajaran masih relatif rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-ratanya yang mencapai 4,61 (2004/2005) dan 4,90 (2005/2006). Rendahnya prestasi belajar fisika siswa pada waktu kelas X disebabkan karena kurangnya motivasi, minat dan aktivitas belajar dari siswa itu sendiri. Pada umumnya siswa kurang aktif dan kebanyakan diam serta tidak mau bertanya tentang materi yang belum dimengerti. Siswa biasanya hanya mencatat dan mendengar apa yang disampaikan oleh guru. Pada umumnya siswa juga kadang-kadang dipaksa oleh guru untuk mencatat yang telah disampaikan.
Kurangnya minat dan aktivitas belajar siswa ini terkait dengan sistem pengajaran yang digunakan oleh sekolah yang masih menggunkan metode ekspositori yaitu guru menulis di papan tulis, siswa mengerjakan soal dibuku LKS, serta pemberian PR yang sifatnya monoton dan kurang variatif. Selain itu juga, guru kurang memahami siswa cara menciptakan proses belajar yang dapat membangkitkan minat, dorongan, dan semangat belajar siswa. Akibatnya siswa kurang aktif karena hanya menerima dan mengerjakan apa yang diberikan oleh guru. Hal ini tentunya akan berdampak pada siswa kurang percaya diri baik dalam bertanya, menyampaikan ide, maupun dalam menyelasaikan suatu permasalahan yang diberikan oleh guru dan dapat berdampak pada rendahnya prestasi belajar siswa. Penyebab lainnya adalah para guru fisika mengajar berdasarkan asumsi tersembunyi bahwa pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke pikiran siswa. Dengan asumsi tersebut mereka memfokuskan diri pada upaya penuangan pengetahuan ke dalam kepala para siswanya (Sadia, 1997:1).
Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tersebut meliputi pengetahuan fisik, pengetahuan logika-matematika dan pengetahuan sosial. Tidak semua pengetahuan dapat diterima dengan mudah oleh siswa. Hal ini dapat diketahui dari contoh yang dikemukakan oleh Piaget yaitu pengetahuan sosial seperti lambang matematika, lambang fisika dapat dipelajari secara langsung. Tetapi pengetahuan fisik dan logika matematika tidak dapat ditransfer secara utuh dari pikiran guru ke pikiran siswa tetapi harus dibangun di dalam pikiran siswa sendiri sebagai usaha keras siswa untuk mengorganisasi pengalaman-pengalamannya dalam hubungannya dengan skema atau struktur mental yang telah ada sebelumnya ( De Vries and Zan, 1994 : 193-195 ; Bodner, 1986 : 2 ; Dahar, 1988 : 192 ).
Salah satu alternatif yang akan dicoba untuk diterapkan dalam upaya menangani permasalahan tersebut diatas adalah dengan menerapkan suatu model pembelajaran yakni model pembelajaran konstruktivisme. Menurut Ella (2004:109) dalam menerapkan teori konstruktivis dalam belajar dapat digunakan model pembelajaran, pembelajaran ini melibatkan beberapa tahap, yaitu: Pengenalan, pembelajaran kompetensi, pemulihan, pendalaman dan pengayaan. Pada dasarnya penerapan konstruktivisme dalam belajar adalah belajar untuk mengkonstruksi (dibangun dalam pikiran) dari hasil interpretasi atas sesuatu peristiwa, menemukan dan mentransformasikan informasi, memeriksa informasi yang baru serta merevisinya bila perlu. Dalam model pembelajaran konstruktivisme harus tercipta hubungan kerjasama antara guru dengan murid dan antar sesama murid.
Menurut Boediono (2001), beberapa bentuk kondisi belajar yang sesuai dengan filosofi "constructivism" antara lain: diskusi yang menyediakan kesempatan agar semua peserta didik mau mengungkapkan gagasan, pengujian dan penelitian sederhana, demonstrasi dan peragaan prosedur ilmiah, dan kegiatan praktis lain yang memberi peluang peserta didik untuk mempertajam gagasannya. Demonstrasi yang dimaksud disini adalah cara yang digunakan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang dapat menumbuhkan dan menghidupkan gairah belajar. Tujuan dari penggunaan metode demonstrasi dalam proses belajar mengajar ialah untuk memperjelas pengertian konsep dan memperlihatkan cara melakukan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu. Sedangkan guru hanya sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik.
Oleh karena itu, di dalam penelitian ini peneliti akan mencoba menyelidiki apakah penggunaan model pembelajaran konstruktivisme pada pokok bahasan suhu dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika siswa di SMA Negeri 1 Sakra Timur. Karena melalui model pembelajaran ini diharapkan dapat mengajak siswa berperan aktif dan melibatkan segenap kemampuan yang dimiliki siswa sehingga pemahaman tentang suatu konsep dapat diterima dengan demikian diharapkan prestasi siswa dapat meningkat.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah “Apakah penggunaan model pembelajaran konstruktivisme dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika siswa kelas X semester 1 di SMA Negeri 1 Sakra”.
1.3 Tujuan penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika pada siswa kelas X semester 1 di SMA Negeri 1 Sakra Timur melalui penggunaan model pembelajaran konstruktivisme.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi siswa: Memacu motivasi dan minat siswa serta mendorong siswa agar lebih aktif dalam belajar serta sebagai pengalaman langsung bagi mereka tentang pelaksanaan model pembelajaran tersebut.
b. Bagi guru: Menambah sumbangan pemikiran dalam rangka perbaikan model pembelajaran agar lebih bervariasi sehingga dapat meningkatkan hasil belajar.
c. Bagi sekolah: Sebagai sumbangan nyata bagi program pembelajaran di SMA Negeri 1 Sakra Timur, sekaligus menambah koleksi buku bacaan dan pengetahuan baru tentang model pembelajaran.

1.5 Batasan Masalah
Untuk membatasi luasan masalah penelitian, maka penelitian ini dibatasi pada pokok bahasan suhu dan pemuaian kelas X1 semester 2 di SMA Negeri 1 Sakra Timur tahun ajaran 2007/2008.
1.6 Definisi Operasional
1. Konstruktivisme adalah suatu teori yang memandang bahwa pengetahuan itu dibangun sendiri secara aktif dalam diri setiap individu dengan cara mengkaitkan pembelajaran dengan pengalaman nyata.
2. Aktivitas belajar adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan untuk mencapai pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap.
3. Presatasi belajar adalah hasil penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa setelah melakukan aktivitas belajar.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konstruktivisme
2.1.1 Pengertian Konstruktivisme
Untuk menciptakan suasana belajar agar siswa lebih aktif guru menggunakan berbagai macam model pembelajaran yang diyakini memiliki dampak positif terhadap hasil belajar, salah satunya yaitu konstruktivisme. Berdasarkan penelitian tentang bagaimana anak-anak memperoleh pengetahuan, Pieget sampai pada kesimpulan, bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Penelitian inilah yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Piaget mengemukakan, bahwa “pengetahuan itu dibangun sambil anak (yang belajar) mengatur pengalaman-pengalamannya yang terdiri atas struktur-struktur mental atau skema-skema yang sudah ada padanya (Karso, 1993)”.
Konstruktivisme adalah perkataan bahasa Inggris yaitu "Constructivism" dan berasal dari kata " Construct " yang artinya membina. Konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam pikiran manusia. Konstruktivisme merupakan satu kepercayaan bahawa pembelajaran bermula dari pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam memori atau struktur kognitif pelajar. Dalam proses pembelajaran, baru diproses dan diserapkan untuk dijadikan sebahagian daripada struktur kognitif di dalam minda pelajar. Pendekatan yang masih dianggap baru ini memberi idea-idea terkini tentang pertumbuhan kognitif dan pembelajaran. Ini bersesuaian dengan apa yang dinyatakan oleh Grayson (1991) bahawa pengetahuan tidak diterima secara pasif tetapi diterima secara aktif oleh pelajar. (---------,------)
Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata yang sering disebut dengan struktur kognitif. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan mengkordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru, yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. Selanjutnya, Piaget (dalam Bell,1981: Stiff dkk.,1993) berpendapat bahwa “skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itulah yang disebut pengetahuan (-------,----).
Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi (persepsi, konsep, dsb) atau pengalaman baru kedalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang. Sedangkan Akomodasi adalah proses restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagaia akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata tersebut ( Hamzah, 2002).
Menurut para penganut konstruktif, pengetahuan dibina secara aktif oleh seseorang yang berfikir. Seseorang tidak akan menyerap pengetahuan dengan pasif. Untuk membangun suatu pengetahuan baru, peserta didik akan menyesuaikan informasi baru atau pengetahuan yang disampaikan guru dengan pengetahuan atau pengalaman yang telah dimilikinya melalui berinteraksi sosial dengan peserta didik lain atau dengan gurunya (Ella, 2004).
Sedangkan menurut Wan (2005), Konstruktivisme diartikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan menciptakan sesuatu dari apa yang dipelajari. Konstrutivisme sebenarnya bukan merupakan ide yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang itu mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih baik.
Menurut Schuman (1996), konstruktif dikemukakan dengan dasar pemikiran bahwa “semua orang membangun pandangannya terhadap dunia melalui pengalaman individu atau skema”. Konstruktif menekankan pada menyiapkan peserta didik untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi yang tidak tentu atau ambigus (Ella, 2004).
Menurut teori belajar konstruktivisme, mengemukakan bahwa teori belajar konstruktivisme memandang anak sebagai mahluk yang aktif dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Guru, yang dipandang sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, seyogyanya mengetahui tingkat kesiapan anak untuk menerima pelajaran, termasuk memilih motede yang tepat dan sesuai dengan tahap perkembangan anak (Ghozali, 2003).
Jadi, Konstruktivisme adalah suatu teori yang memandang bahwa pengetahuan itu dibangun sendiri secara aktif dalam diri setiap individu dengan cara mengkaitkan pembelajaran dengan pengalaman nyata.
2.1.2 Model Pembelajaran Konstruktivisme
Model pembelajaran merupakan suatu rencana atau kerangka yang dapat digunakan untuk merancang mekanisme pengajaran yang bermakna. Menurut Westbrook & Rogers (1994), jenis program pembelajaran yang di terapkan mempengaruhi pengembangan kemampuan penalaran siswa. Komponen utama yang secara langsung membentuk model pembelajaran adalah materi subjek yang dibahas, guru pengajar, tahap berpikir siswa sebagai subjek belajar, pendekatan dan metode, serta alat evaluasi yang digunakan (Sutarno,2003).
Model pembelajaran telah mendapatkan perhatian yang besar dikalangan peneliti pendidikan sains pada masa akhir-akhir ini. Model ini memiliki masa depan yang menjanjikan dalam bidang pendidikan sains. Daya tarik dari model konstruktivisme ini adalah pada kesederhanaanya. Menurut Mulyasa (2004:239) Model pembelajaran konstruktivisme memperlihatkan bahwa pembelajaran merupakan proses aktif dalam membuat sebuah pengalaman menjadi masuk akal, dan proses ini sangat dipengaruhi oleh apa yang sudah diketahui orang sebelumnya. Karena itu, dalam setiap kegiatan pembelajaran guru harus memperoleh, atau sampai pada, persamaan pemahaman dengan murid.
Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa. Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusia berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dijadikan ide dan pengembangan konsep baru (Dina, ).
Implikasi dari pandangan konstruktivisme di sekolah ialah pengetahuan tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata. Dalam belajar sains menurut pandangan konstruktivisme adalah proses konstruktif yang menghendaki partisifasi aktif dari siswa, sehinggga disini peran guru berubah dari sumber dan pemberi informasi menjadi pendiagnosis dan fasilitator belajar siswa (Sutarno,2003).
Menurut Davis (1996), pandangan konstruktivis dalam pembelajaran berorientasi pada: (1) pengetahuan dibangun dalam pikiran melalui proses asimilasi atau akomodasi, (2) dalam pengerjaan, setiap langkah siswa dihadapkan kepada apa, (3) informasi baru harus dikaitkan dengan pengalamannya tentang dunia melalui suatu kerangka logis yang mentransformasikan, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan pengalamannya, dan (4) pusat pembelajaran adalah bagaimana siswa berpikir, bukan apa yang mereka katakan atau tulis (---------,2007).
Menurut Drs. Akh. Hidayat (2003) ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme adalah keaktifan dan keterlibatan siswa belajar dalam proses upaya belajar sesuai dengan kemampuan, pengetahuan awal dan gaya belajar masing-masing dengan bantuan guru sebagai fasilitator yang membantu warga belajar apabila warga belajar mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar (, , , , , 2004).
Belajar menurut model konstruktivis merupakan proses aktif siswa untuk mengkonstruksi pikirannya. Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman pengalaman yang telah dimilikinya. Proses belajar dalam model konstruktivis bercirikan oleh hal-hal sebagai berikut (Suparno, 1997:61).
1. Belajar berarti memberi makna. Makna yang diciptakan oleh siswa berasal dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Konstruksi ini dipengaruhi pengertian yang telah dipunyai.
2. Konstruksi arti adalah proses yang terus menerus. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan yang baru, akan diadakan rekonstruksi baik secara kuat maupun lemah.
3. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta melainkan lebih merupakan suatu pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan melainkan merupakan perkembangan itu sendiri. Suatu perkembangan menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang.
4. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut.
5. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman siswa dengan dunia fisik dan lingkungannya.
6. Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui siswa mengenai konsep-konsep, tujuan dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari.
( Wilantara,2003).

Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstruktivisme adalah sebagai berikut:
1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.
2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.
3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.
4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru, dan siswa-siswa.
5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih aktif.
6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga pembelajaran menjadi menarik siswa mau belajar.

Harlen (1992 : 51) mengembangkan model konstruktivisme dalam pembelajaran di kelas. Pengembangan model konstruktivisme tersebut mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Orientasi dan Elicitasi Ide. Merupakan proses untuk memotivasi siswa dalam mengawali proses pembelajaran. Melalui Elicitasi siswa mengungkapkan idenya dengan berbagai cara.
2. Restrukturisasi ide. Meliputi beberapa tahap yaitu klarifikasi terhadap ide, merombak ide dengan melakukan konflik terhadap situasi yang berlawanan, dan mengkonstruksi dan mengevaluasi ide yang baru.
3. Aplikasi. Menerapkan ide yang telah dipelajari.
4. Review. Mengadakan tinjuan terhadap perubahan ide tersebut
( Wilantara,2003).
Tahapan belajar-mengajar konstruktivisme menurut Mulyasa (2004:243) adalah sebagai berikut
1. Pemanasan-apersepsi
a. Pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami peserta didik.
b. Motivasi peserta didik dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi peserta didik.
c. Peserta didik didorong agar tertarik untuk mengetahui hal-hal yang baru.
2. Eksplorasi
a. Materi/keterampilan baru dikenalkan
b. Kaitkan materi ini dengan pengetahuan yang sudah ada pada peserta didik.
c. Cari metodologi yang paling tepat dalam meningkatkan penerimaan peserta didik akan materi baru tersebut.

3. Konsolidasi pembelajaran
a. Libatkan peserta didik secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi ajaran baru.
b. Libatkan siswa secara aktif dalam problem solving.
c. Letakkan penekanan pada kaitan structural, yaitu kaitan antara materi ajar yang baru dengan berbagai aspek kegiatan/kehidupan di dalam lingkungan.
d. Cari metodologi yang paling tepat sehingga materi ajar dari dapat terproses menjadi bagian dari pengetahuan peserta didik.
4. Pembentukan sikap dan prilaku
a. Peserta didik didorong untuk menerapkan konsep/pengertian yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari.
b. Peserta didik membangun sikap dan perilaku baru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelarjari.
c. Cari metodologi yang paling tepat agar terjadi perubahan pada sikap dan perilaku peserta didik.
5. Penilaian formatif
a. Kembangkan cara-cara untuk menilai hasil pembelajaran peserta didik.
b. Gunakan hasil penilaian tersebut untuk melihat kelemahan atau kekurangan peserta didik dan masalah-masalah yang dihadapi guru.
c. Cari metodologi yang paling tepat yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
2.2 Aktivitas belajar siswa
Dalam belajar diperlukan aktivitas, sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting didalam interaksi belajar mengajar.
Aktivitas belajar menurut Hamalik (2002:34) adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan untuk mencapai pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap. Oleh karena itu, guru yang bertindak sebagai fasilitator dan mediator dalam pembelajaran hendaknya mampu menciptakan pembelajaran yang dapat mengikut sertakan siswa secara aktif baik indivindu maupun kelompok dalam kegiatan pembelajaran.
Menurut Usman (1995:22) aktivitas belajar murid dapat digolongkan ke dalam beberapa hal:
1. Aktivitas visual (visual activities) seperti membaca, menulis, melakukan eksperimen, dan demonstarsi.
2. Aktivitas lisan (oral activities) seperti bercerita,.membaca sajak, Tanya jawab, diskusi, menyanyi.
3. Aktivitas mendengarkan (listening activities) seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan.
4. Aktivitas gerak (motor activities) seperti senam, menari, atletik, melukis.
5. Aktivitas menulis (writing activities) seperti mengarang, membuat makalah, membuat surat.

Dalam diri masing-masing siswa terdapat “prinsip aktif” yakni keinginan berbuat dan bekerja sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut, sistem pembelajaran dewasa ini menekankan pada pendayagunaan asas aktifitas (keaktifan) dalam proses belajaran dan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Azas aktivitas adalah azas yang mengaktifkan jasmani dan rohani. Azas ini hendaknya guru dalam memberikan setiap pengajaran berusaha membangkitkan aktivitas, baik jasmani maupun rohani kepada murid pada waktu menerima pelajaran. Keaktifan jasmani adalah kegiatan yang nampak bila murid sibuk bekerja seperti melakukan percobaan, membuat konstruksi model dan lain-lain. Sedengkan keaktifan rohani adalah kegiatan yang nampak bila murid sedang mengamati dengan teliti, mengingat memecahkan persoalan dan mengambil kesimpulan (_ _ _ _, 1981:25).
Menurut Hamalik (2003:175) Penggunaan asas aktivitas besar nilainya bagi pengajaran para siswa, oleh karena:
1. Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.
2. Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral.
3. Memupuk kerja sama yang harmonis dikalangan siswa.
4. Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri.
5. Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis.
6. Mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara orang tua dengan guru.
7. Pengajaran diselengggarakan secara realistis dan konkret sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan verbalistis.
8. Pengajaran disekolah menjadi hidup sebagaimana aktivitas dalam kehidupan di masyarakat.

Jadi dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar dapat membangkitkan minat dan motivasi dalam diri siswa melalui pengalaman langsung tanpa adanya paksaan dari orang lain sehingga belajar akan menjadi lebih bermakna.
Didalam aktivitas belajar siswa, terdapat 6 (enam) indikator pada penilaian aktivitas siswa yang masing-masing indikator terdapat 4 (deskriptor), antara lain sebagai berikut:
1. Kesiapan siswa dalam mengikuti dan menerima materi pelajaran
a. Siswa menyiapkan alat kelengkapan belajarnya
b. Siswa mengikuti arahan yang diberikan oleh guru
c. Siswa menjawab pertanyaan guru mengenai materi yang berhubungan dengan materi yang sedang dipelajari
d. Siswa tidak mengerjakan pelajaran lainnya
2. Interaksi siswa dengan guru
a. Siswa mengajukan pertanyaan kepada guru terkait dengan hal yang belum jelas
b. Siswa mengemukakan pendapatnya jika ada yang perlu disampaikan kepada guru
c. Siswa berusaha menjawab dengan baik pertanyaan guru
d. Siswa berusaha memperbaiki jawaban pertanyaan yang sudah dijawab salah sebelumnya
3. Interaksi siswa dengan siswa
a. Siswa bertanya kepada rekannya yang lebih mampu
b. Siswa menjawab pertanyaan temannya
c. Siswa memperhatikan penjelasaan temannya
d. Siswa mencoba memperbaiki kesalahan temannya dalam mengerjakan soal
4. Kerjasama kelompok
a. Melakukan diskusi bersama anggota kelompoknya
b. Adanya pembagian tugas dalam kelompok
c. Saling membantu antar sesama kelompok
d. Mengerjakan tugas kelompok dengan seksama
5. Keterampilan siswa dalam Eksperimen/demonstrasi
a. Siswa mampu menggunakan alat percobaan dengan benar
b. Siswa melakukan pengukuran dengan benar
c. Siswa mencatat data hasil pengukuran
d. Siswa bertanggung jawab terhadap alat percobaan yang digunakan
6. Partisipasi dalam kegiatan pembelajaran
a. Siswa melakukan observasi demonstrasi/eksperimen
b. Siswa mempresentasikan hasil karya pada teman sekelasnya
c. Siswa menanggapi hasil karya rekannya
d. Siswa mempu menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran



2.3 Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan suatu gambaran dari suatu penguasaan kemampuan para peserta didik sebagaimana telah ditetapkan untuk suatu pelajar tertentu. Setiap usaha yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran baik oleh guru sebagai pengajar, maupun oleh peserta didik sebagai pelajar bertujuan untuk mencapai prestasi yang setinggi-tingginya. Prestasi belajar adalah sebuah kata yang terdiri dari dua kata, yakni “prestasi” dan “belajar”.
“Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok”. Prestasi tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak melakukan suatu kegiatan (Djamarah, 1994:19).
Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan (Ahmadi dan Supriyono, 2004:128).
Prestasi belajar adalah hasil penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa setelah melakukan aktivitas belajar. Ini berarti prestasi belajar tidak akan bisa diketahui tanpa dilakukan penilaian atas hasil aktivitas belajar siswa. Fungsi prestasi belajar bukan saja untuk mengetahui sejauhmana kemajuan siswa setelah menyelesaikan suatu aktivitas, tetapi yang lebih penting adalah sebagai alat untuk memotivasi setiap siswa agar lebih giat belajar, baik secara individu maupun kelompok (Djamarah, 1994:24).
Sedangkan Menurut Nurinasari (2004), “Prestasi belajar merupakan suatu gambaran dari penguasaan kemampuan para peserta didik sebagaimana telah ditetapkan untuk suatu pelajaran tertentu”. Setiap usaha yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran baik oleh guru sebagai pengajar, maupun oleh peserta didik sebagai pelajar bertujuan untuk mencapai prestasi yang setinggi-tinginya.
Menurut Ahmadi dan Supriyono (2004:138) prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu.
Yang tergolong faktor internal adalah:
1. Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termasuk faktor ini misalnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh, dan sebagainya.
2. Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh terdiri atas:
a. Faktor intelektif yang meliputi :
1. Faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat.
2. Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang dimiliki.
b. Faktor non-intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, penyesuaian diri.
3. Faktor kematangan fisik maupun psikis.
Yang tergolong faktor eksternal, ialah:
a. Faktor sosial yang terdiri dari atas:
1. Lingkungan keluarga;
2. Lingkungan sekolah;
3. Lingkungan masyarakat;
4. Lingkungan kelompok;
b. Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
c. Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fisilitas belajar dan iklim.
24 Kerangka Berfikir
Prestasi belajar fisika di SMU Negeri 1 Sakra Timur tergolong rendah. Disamping itu metode yang digunakan masih dominan menggunakan metode ekspositori. Peran guru lebih dominan yang menyebabkan keterlibatan siswa atau peran aktif siswa dalam pembelajaran kurang.
Dalam proses belajar mengajar, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dan keterampilan dalam memilih dan melaksanakan metode, strategi belajar yang baik dan menentukan pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran yang dapat membuat siswa belajar secara efektif dan efisien sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai secara maksimal. Selain itu juga, guru harus kreatif menciptakan proses kegiatan belajar mengajar yang tidak lagi bersifat ekspositori yaitu guru menulis papan ditulis, siswa mengerjakan soal dibuku LKS serta pemberian PR yang sifatnya monoton dan kurang variasi. Namun siswa juga diikut aktifkan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga suasana kelas menjadi lebih hidup. Di dalam memilih dan menentukan metode atau model yang digunakan oleh guru akan berdampak pada tinggi rendahnya aktivitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran yang mengakibatkan akan berdampak pula pada prestasi belajar.
Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterlibatan langsung siswa belajar salah satunya menggunakan model pembelajaran konstruktivisme yang dikemas dalam nuansa yang menarik untuk membangkitkan minat dan membuat siswa lebih aktif dalam belajar. Karena model pembelajaran ini menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan aktif belajar. Guru hanya bersifat sebagai fasilitator pembelajaran. Materi pembelajaran terintegrasi, menggunakan pemikiran, pengalaman, dan minat siswa untuk mengarahkan pembelajaran. Siswa terlibat dalam proses pembelajaran, sehingga suasana belajar akan menjadi menarik, karena siswa telah diajak untuk belajar.
Pengajaran yang berasaskan pendekatan Konstruktivisme memberi peluang kapada guru untuk memilih kaedah-kaedah pengajaran dan pembelajaran yang sesuai dan menentukan sendiri yang diperlukan untuk memperoleh sesuatu konsep atau pengetahuan.
Menurut Mulyasa (2004:239), Model pembelajaran konstruktivisme memperlihatkan bahwa pembelajaran merupakan proses aktif dalam membuat sebuah pengalaman menjadi masuk akal, dan proses ini sangat dipengaruhi oleh apa yang sudah diketahui orang sebelumnya. Karena itu, dalam setiap kegiatan pembelajaran guru harus memperoleh, atau sampai pada, persamaan pemahaman dengan murid. Dalam model konstruktivisme, pembelajaran melibatkan negosiasi (pertukaran pikiran) dan interprestasi. Wacana penyesuaian pikiran ini dapat dilakukan antara murid dengan guru, atau antara sesama murid. Karena itu strategi pembelajaran kooperatif (kerjasama) adalah sangat ideal. Dalam model konstruktivisme harus tercipta hubungan kerjasama antara guru dengan murid, atau antara sesama murid.
Dengan demikian untuk mengatasi masalah yang dihadapi di SMU Negeri 1 Sakra Timur akan dicoba diterapkan model pembelajaran konstruktivisme sehingga diharapkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dapat meningkat yang pada akhirnya nanti berdampak pada prestasi belajar siswa.
2.5 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian kajian teori dan kerangka berfikir di atas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah “Penerapan model pembelajaran konstruktivisme akan dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika siswa kelas X1 semester 2 di SMA Negeri 1 Sakra Timur Tahun Ajaran 2007/2008”











BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research), yang pada hakekatnya merupakan bentuk kajian yang dilakukan oleh pelaku tindakan pada saat mengajar di kelas yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan.
3.2 Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X1 semester 2 tahun pelajaran 2007/2008 di SMA Negeri 1 Sakra Timur. Adapun jumlah siswa yang menjadi subyek penelitian ini adalah 41 orang yang terdiri dari 20 orang siswa yang berjenis kelamin laki-laki dan 21 orang siswa yang berjenis kelamin perempuan.
Obyek penelitian ini adalah 1) aktivitas, dan 2) Prestasi terhadap penggunaan model pembelajaran konstruktivisme dengan model demonstrasi.pada pokok bahasan Suhu.
3.3 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan 2008 di SMU Negeri 1 Sakra Timur tahun pelajaran 2006/2007



3.4 Faktor yang Diselidiki
Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan ada beberapa faktor yang ingin diselidiki yaitu sebagai berikut:
1. Faktor siswa: dengan melihat peningkatan hasil belajar siswa melalui hasil evaluasi yang diperoleh pada setiap siklus.
2. Faktor pengajar: dengan melihat cara pengajar merencanakan pengajaran dan pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan menggunakan model pembelajaran konstruktivisme melalui metode demonstrasi.
3. Proses belajar mengajar: dengan melihat aktivitas siswa dan pengajar selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
3.5 Prosedur Penelitian
Penelitian ini tergolong penelitian tindakan kelas (classroom action research). Oleh karenanya prosedur yang digunakan dalam penelitian ini adalah prosedur penelitian tindakan kelas. Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini terdiri dari beberapa siklus. Untuk dapat melihat kemampuan siswa dalam belajar, maka pengajar mengumpulkan data hasil tes belajar siswa untuk materi sebelumnya yang berfungsi sebagai evaluasi awal. Sedangkan observasi awal dilakukan untuk dapat mengetahui tindakan yang tepat yang akan diberikan dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun tiap siklus itu, akan dilaksanakan sesuai dengan skenario yang telah dibuat dan tiap siklus dibagi menjadi 4 (empat) tahap kegiatan yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi dan refleksi.

Adapun kegiatan tiap tahap untuk masing-masing siklus dirinci sebagai berikut:
1. Perencanaan, kegiatan yang dilakukan pada tahap perencaaan ini adalah:
1. Membuat skenario pembelajaran.
2. Membuat lembar observasi.
3. Merencanakan analisis hasil tes.
2. Pelaksanaan tindakan, dengan langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah direncanakan.
Langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:
a. Tahap Apersepsi meliputi:
1. Guru menyampaikan materi pelajaran yang akan dipelajari.
2. Guru menyampaikan manfaat mempelajari materi tersebut.
3. Guru mengaitkan materi yang dipelajari dengan materi yang telah dipelajari sebelumnya.
b. Tahap Eksplorasi melliputi:
1. Guru mendemonstarsikan cara kerja alat sebelum siswa melakukan kegiatan eksperimen.
2. Guru memberikan LKS kepada masing-masing kelompok sehingga siswa dihadapkan pada masalah yang tertuang dalam LKS.
3. Guru memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk berdiskusi.


c. Tahap Diskusi dan Penjelasan konsep meliputi:
1. Memberikan kesempatan kepada setiap perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.
2. Memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi hasil kerja kelompok yang tampil sehingga di temukan suatu konsep.
3. Guru Memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk bertanya maupun menjawab permasalahan yang muncul dari kelompok lain.
d. Tahap Pengembangan dan Aplikasi meliputi:
1. Guru memberikan penegasan, penguatan dan pembenaran terhadap jawaban kelompok yang presentasi.
2. Memberikan kesempatan siswa bertanya.
3. Mengarahkan siswa membuat kesimpulan materi yang telah dipelajari.
4. Memberikan tugas rumah untuk mengerjakan soal latihan yang ada pada buku paket.
4. Observasi dan evaluasi, pada tahap ini dilakukan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat peneliti, dimana pada tahap ini peneliti diobservasi oleh guru bidang studi tentang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar apakah sudah sesuai dengan skenario pembelajaran dan siswa diobservasi oleh observer. Pada akhir siklus dilakukan evaluasi belajar yang dilakukan dengan memberikan tes dalam bentuk obyektif dan subyektif

5. Refleksi, pada tahap ini guru dan peneliti mengkaji pelaksanaan dan hasil yang diperoleh dalam pemberian pada siklus I. Sebagai acuan dalam refleksi ini adalah observasi dan evaluasi. Hasil ini digunakan sebagai dasar memperbaiki serta menyempurnakan perencanaan pada siklus selanjutnya.
Adapun langkah kegiatan yang dilakukan untuk masing-masing siklus II dan III hampir sama seperti siklus I yang terdiri dari 4 tahapan kegiatan yaitu perencanaan, pelaksanakan tindakan, observasi, dan evaluasi serta refleksi, tetapi pada siklus II tahapan-tahapan kegiatan yang dilakukan tergantung pada hasil refleksi siklus I, begitu juga dengan siklus III yang tergantung pada hasil refleksi siklus II.



















3.6 Teknik Pengumpulan Data
Data tentang aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dikumpulkan melalui metode observasi yang berisikan deskriptor-deskriptor dalam indikator yang telah ditentukan. Observasi dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran secara langsung tentang aktivitas belajar siswa dan aktivitas guru/peneliti selama proses belajar mengajar berlangsung. Dalam hal ini Hasil observasi guru/peneliti dijadikan sebagai masukan bagi guru/peneliti yang bersangkutan untuk lebih meningkatkan kualitas dirinya pada pengajaran selanjutnya.
Instrumen penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data aktivitas belajar siswa dan aktivitas guru/peneliti adalah dengan menggunakan lembar observasi yang berisikan deskriptor-deskriptor dalam indikator kegiatan.siswa dan guru/peneliti. Setiap deskriptor yang tampak pada masing-masing indikator selama observasi dicatat pada daftar observasi dengan memberikan nilai sesuai dengan banyaknya deskriptor yang tampak. Skor 4 diberikan jika semua deskriptor yang tampak, skor 3 diberikan jika ada 3 deskriptor yang tampak, skor 2 diberikan jika ada 2 deskriptor yang tampak, skor 1 diberikan jika ada 1 deskriptor yang tampak, skor 0 diberikan jika tidak ada deskriptor yang tampak
Sedangkan pengumpulan data tentang hasil belajar siswa diambil dengan menggunakan instrumen yang berupa tes tertulis yang bersifat obyektif dan subyektif pada tiap siklus. Data hasil belajar siswa digunakan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa.

3.7 instrumen Penelitian
Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini berupa tes tertulis yang bersifat obyektif dan subyektif. Namun sebelum dilakukan ujicoba instrumen. Ujicoba instrument dilakukan di SMU Negeri 1 Sakra Timur Kelas II. Uji instrumen ini bertujuan untuk mengetahui baik atau tidaknya butir soal yang diberikan, maka perlu dilakukan analisis butir soal. Menurut Suharmo (1984), tes yang baik adalah tes yang memenuhi syarat: validitas, reabilitas, indeks daya beda, indeks kesukaran, objektifitas, dan kepraktisan.
3.7.1 Validitas
Validitas adalah suatu ketelitian dan ketepatan suatu alat pengukuran, yang bila alat pengukuran tersebut (dalam hal ini tes) dipergunakan untuk mengukur memberikan hasil sesuai dengan besar kecilnya gejala yang diukur. Untuk menghitung validitas item tes digunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan:
koefisien korelasi biserial
Mean skor dari subjek-subjek yang menjawab betul item yang dicari korelasinya dengan tes
Mean skor total (skor rata-rata dari seluruh pengikut tes)
Standar deviasi skor total
proposi subjek yang menjawab betul item tersebut

(Arikunto,1998:270)
3.7.2 Reliabilitas
Reliabilitas adalah suatu keajegan (ketetapan/kemantapan) suatu alat pengukuran yang bila alat pengukuran tersebut (dalam hal ini tes) dipergunakan untuk mengukur, selalu memberikan hasil yang ajeg (tetap/mantap). Dalam menentukan reliabilitas tes dapat menggunakan teknik belah dua ganjil atau awal akhir, selanjutnya meng-korelasikan skor belah pertama dan skor belah kedua dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan:
Koefisien korelasi antar x dan y
Jumlah subyek
Skor belahan pertama
Skor belahan kedua
(Arikunto, 1998:162)
Oleh karena indeks korelasi yang diproleh baru menunjukkan hubungan antar dua belahan instrumen, maka untuk memproleh indeks reliabilitas tes ke-seluruhan dihitung dengan persamaan Spearman-Brown yaitu:

Keterangan:
= Reabilitas tes
Koefisien korelasi antara x dan y
(Arikunto, 1988:173)
3.7.3 Indeks Daya Beda
Indeks daya beda menunjukkan angka besarnya daya beda. Indeks daya beda suatu tes adalah bagaimana kemampuan tes itu untuk membedakan siswa-siswa yang termasuk kelompok atas atau pandai dengan siswa-siswa yang termasuk kelompok bawah atau kurang. Daya pembeda tes dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Keterangan:
Daya pembeda
Banyak kelompok atas yang menjawab item itu dengan benar
Banyak kelompok bawah yang menjawab item itu dengan benar
Jumlah peserta kelompok atas
Jumlah peserta kelompok bawah
Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
(P = Indeks kesukaran item)
Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar (Arikunto , 1999:88)
Adapun ketentuan indeks daya beda yaitu: (Suharmo:1984)
1. 0,00 ≤ D ≤ 0,20 : jelek
2. 0,21 ≤ D ≤ 0,40 : cukup
3. 0,41 ≤ D ≤ 0,70 : baik
4. 0,71 ≤ D ≤ 1,00 : baik sekali.
3.7.4 Indeks Kesukaran Soal
Indeks kesukaran soal ialah bilangan yang menyatakan mudah dan kesukaran suatu tes. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Untuk menghitung indeks kesukaran soal suatu tes di-pergunakan rumus:

Keterangan :
TK = Indeks tingkat kesukaran soal
U = Jumlah siswa kelompok atas yang menjawab benar
L = jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab benar
T = Jumlah siswa seluruhnya
(Purwanto :1990)


Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran item di klasifikasikan sebagai berikut :
Soal dengan 0,00 ≤ P ≤ 0,30 adalah soal sukar
Soal dengan 0,31 ≤ P ≤ 0,70 adalah soal sedang
Soal dengan 0,71 ≤ P ≤ 1,00 adalah soal mudah
(Purwanto:1990)
3.7.5 Objektivitas
Obyektif berarti tidak adanya unsur pribadi yang mempengaruhi. Sebuah tes dikatakan memiliki obyektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subyektif yang mempengaruhi. Hal ini terutama terjadi pada system skoringnya. Objektivitas suatu tes ditentukan oleh tingkat atau kwalitas kesamaan skor- skor yang dipropleh dengan tes tersebut, meskipun hasil tes itu dinilai oleh beberapa orang penilai.
3.7.6 Praktikabilitas
Suatu tes dikatakan mempunyai kepraktisan yang tinggi, apabila tes tersebut bersifat praktis yaitu : 1) Mudah dilaksanakan. 2) Mudah pe-meriksaannya. 3) Mempunyai petunjuk yang jelas.





3.8 Teknik Analisis Data
1. Aktivitas Belajar Siswa
Peningkatan aktivitas belajar siswa dapat diketahui melalui observasi terhadap perilaku siswa selama mengikuti proses pembelajaran dengan lembar observasi yang terdiri dari indikator-indikator dengan beberapa deskriptor.
Data aktifitas belajar siswa dianalisis dengan cara sebagai berikut:
a. Menentukan skor untuk tiap indikator aktivitas siswa pada penelitian ini peneliannya mengikuti aturan berikut: Skor 4 diberikan jika semua diskriptor nampak, skor 3 diberikan jika 3 deskriptor nampak, skor 2 diberikan jika 2 deskriptor nampak, skor 1 diberikan jika 1 deskriptor nampak, dan skor 0 diberikan jika tidak ada deskriptor nampak.
b. Menghitung Aktivitas belajar siswa dengan rumus:

Keterangan: A = Rata-rata skor aktivitas belajar siswa
Σ = Total skor = Jumlah skor yang diperoleh oleh siswa
n = Banyak siswa
i = Banyak item
c. Menentukan Mi rerata (Mean) ideal dan SDi simpangan baku ideal dengan rumus sebagai berikut:
(Skor tertinggi + Skor terendah)
(Skor tertinggi – Skor terendah)
Keterangan: Mi = Rerata(Mean Ideal)
SDi = Standar depiasi ideal
Sehingga
Untuk menentukan kriteria aktivitas siswa, dianalisis secara diskriptif kualitatif dengan menggunakan skor skala 1-5, sehingga diperoleh skor maksimal ideal (SMI) adalah skor maksimalnya 4 dikalikan dengan jumlah item aktivitas siswa yang dinilai.
Kualifikasi aktivitas belajar siswa ditentukan berdasarkan pedoman konversi seperti pada tabel 3.1 berikut:
Interval Nilai Kriteria

30,00
Sangat aktif


Aktif


Cukup aktif


Kurang aktif


Sangat kurang aktif
(Nurkencana, 1992)




2. Prestasi Belajar Siswa
Data prestasi belajar fisika yang diperoleh siswa dianalisis dengan mencari ketuntasan belajar dan rata-rata kelas. Sedangkan kualifikasi prestasi belajar siswa diperoleh dengan pedoman konversi seperti pada table 3.3 berikut:
Tabel 3.2 Pedoman Konversi Skor Prestasi Belajar Siswa
NO SKOR KATEGORI
1 85-100 Sangat Baik
2 70-84 Baik
3 55-69 Cukup
4 40-54 Kurang
5 0-39 Sangat Kurang
(Depdikbud,1995)
Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa pada pembelajaran yang dicapai pada tiap siklus, digunakan rumus sebagai berikut:
a. Menentukan nilai rata-rata kelas

Keterangan: R = Nilai rata-rata kelas
ΣX = Jumlah nilai yang diperoleh siswa
N = Jumlah siswa yang ikut tes (Sudjana,1992)
Prestasi belajar siswa dikatakan meningkat apabila terdapat peningkatan rata-rata nilai dari rata-rata sebelumnya.



b. Menentukan ketuntasan individual
Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa, data dianalisis dengan rumus:

Keterangan: KK = Ketuntasan Klasikal
X = Jumlah Siswa yang memperoleh nilai
Z = Jumlah siswa yang ikut tes. (Sudjana,1992)

Kelas dapat dikatakan tuntas secara klasikal terhadap materi pelajaran yang diajarkan jika ketuntasan klasikal mencapai 85 %.












DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Supriyono, Widodo. 2004.Psikologi Belajar (Edisi Revisi). Jakarta: PT Rineka Cipta.

Azhar, M. 1993. Proses Belajar Mengajar Pola CBSA. Surabaya: Usaha Nasional.
Depdikbud. 1995. Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). Suplemen 1999: Jakarta.

Djamarah, Syaiful. 1994. Prestasi Belajar Dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.

Djamarah, Syaiful dan Zain, Aswan. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Ghozali, Abbas. 2003. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan. http://www.depdiknas.go.id/jurnal/40/editorial 40.html

Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Karso, dkk. 1993. Dasar-Dasar Pendidikan MIPA. Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.

Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Nurkencana dan Sumartama. 2001. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.

Nurinasari, Betha. 2004. Sistem Pembelajaran KBK Terhadap Motivasi Belajar Para Peserta Didik Pada Bidang Studi Fisika. http: // artikel.us/art 05-07.html.

Sudjana. 1992. Metode Statistik. Bandung: Tarsito.

Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Ciputat: PT Logos Wacana Ilmu.

Syah, Muhibin. 2005. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

_ _ _ _ . 1981. Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM. Jakarta: C.V. Rajawali.

Usman, Uzer. 2006. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Yulaelawati, Ella. 2004. Kurikulum Dan Pembelajaran Filosofi Teori Dan Aplikasi. Bandung: Pakar Raya.

{ 1 komentar... read them below or add one }

mustaphaawan mengatakan...

CopAs dulu ah

Poskan Komentar

terima kasih atas komentar anda, blog ini do follow

Share it