ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN (GLOMERULONEFRITIS AKUT)

Posted by wawan yawarmansyah on Friday, June 10, 2011

A. PENGERTIAN
GNA adalah reaksi imunologi pada ginjal terhadap bakteri atau virus tertentu. Yang sering terjadi ialah akibat infeksi kuman streptococcus, sering ditemukan pada usia 3-7 tahun.

(Kapita Selecta, 2000)

B. ETIOLOGI
 Streptococcus beta hemoliticus group A.
 Keracunan (timah hitam, tridion)
 Penyakit sipilis
 Trombosis vena renalis
 Penyakit kolagen

(Kapita Selecta, 2000)


C. MANIFESTASI KLINIK
1. Hematuria
2. Oliguria
3. Edema ringan sekitar mata atau seluruh tubuh
4. Gangguan gastrointestinal
5. Sakit kepala, merasa lemah
6. Nyeri pinggang menjalar sampai ke abdomen

D. PENATALAKSANAAN
1. Istirahat selama 1-2 minggu
2. Modifikasi diet.
3. Pembatasan cairan dan natrium
4. pembatasan protein bila BUN meningkat.
5. Antibiotika.
6. Anti hipertensi
7. Pemberian diuretik furosemid intravena (1 mg/kgBB/kali)
8. Bila anuria berlangsung lama (5-7hari) dianjurkan dialisa peritoneal atau hemodialisa.

E. PENGKAJIAN
1. Riwayat kesehatan umum, meliputi Gg/peny. yang lalu, berhubungan dengan peny. sekarang. Contoh: ISPA
2. Riwayat kesehatan sekarang,Meliputi; keluhan/gg. yang berhubungan dgn. Peny. saat ini. Seperti; mendadak, nyeri abdomen,Pinggang, edema.

F. PENGKAJIAN FISIK
1. Aktivitas/istirahat
- Gejala: kelemahan/malaise
- Tanda: kelemahan otot, kehilangan tonus otot
2. Sirkulasi
- Tanda: hipertensi, pucat,edema
3. Eliminasi
- Gejala: perubahan pola berkemih (oliguri)
- Tanda: Perubahan warna urine (kuning pekat, merah)
4. Makanan/cairan
- Gejala: peBB (edema), anoreksia, mual,muntah
- Tanda: penurunan haluaran urine
5. Pernafasan
- Gejala: nafas pendek
- Tanda: Takipnea, dispnea, peningkatan frekwensi, kedalaman (pernafasan kusmaul)
6. Nyeri/kenyamanan
- Gejala: nyeri pinggang, sakit kepala
- Tanda: perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada laboratorium didapatkan:
 Hb menurun
 Ureum dan serum kreatinin meningkat
 Elektrolit serum (natrium meningkat)
 Urinalisis (BJ. Urine meningkat, albumin , Eritrosit , leukosit )
 Pada rontgen:
IVP abnormalitas pada sistem penampungan (Ductus koligentes)

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kelebihan volume cairan bd.produksi urine yang menurun akibat dari penurunan filtrasi ginjal.
2. perubahan nutrisi; kurang dari kebutuhan bd. Intake yang kurang.
3. Intoleransi aktivitas bd. Kelemahan fisik, bedrest.
4. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit (infeksi sekunder) bd. Perubahan metabolisme dan sirkkulasi tubuh.

I. IMPLEMENTASI
Diagnosa keperawatan 1.
 Observasi tanda vital tiap 2 jam
 Kaji status cairan, observasi intake dan output
 Jelaskan pada pasien pentingnya pembatasan cairan
 Timbang BB tiap hari pada waktu, alat dan pakaian yang sama
 Observasi hasil lab: BJ. Urine, Albumin, elektrolit, darah (kalium dan natrium)
Diagnosa keperawatan 2.
 Catat pemasukan makanan setiap kali habis makan
 Catat gejala yg timbul stlh makan, seperti: mual muntah
 Kaji pola dan kebiasaan makan pasien
 Sajikan makanan yang menarik dan selalu hangat, porsi kecil tapi sering.
 Pemberian diet tinggi kalori rendah protein, tinggi karbo hidrat rendah garam.
 Observasi hasil lab: BUN dan serum creatinin.
Diagnosa Keperawatan 3.
 Kaji aktivitas yang biasa dilakukan Pasien setiap hari
 Anjurkan pasien melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya
 Bantu aktivitas yang belum dapat dilakukan sendiri oleh pasien.
 Batasi aktivitas pasien selama di rawat
Diagnosa Keperawatan 4.
 Jelaskan pd pasien tujuan dari setiap tind. yg dilakukan.
 Observasi keadaaan perkembangan kulit setiap hari.
 Kebersihan kuku.
 Miring kiri-kanan setiap 2 jam.
 Lakukan masase,olesi minyak untuk memperlancar aliran darah
 Pertahankan kondisi kulit tetap kering.
 Anjurkan pasien memakai pakaian/alat-alat tenun dari bahan katun

J. EVALUASI
 Intake dan output cairan seimbang.
 Tidak ada udema.
 Tanda-tanda vital: TD: 120/80 mmHg, RR: 20 X/m, HR: 80 X/mt, suhu: 367o C.
 Kadar elektrolit darah normal.
 Tidak ada mual, muntah.
 Pasien dapat menghabiskan porsi makanan yang dihidangkan.
 Tidak ada gatal-gatal dan lecet pada kulit.
 Tahan terhadap aktivitas tanpa ada kelelahan.
More aboutASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN (GLOMERULONEFRITIS AKUT)

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN (GLOMERULONEFRITIS AKUT)

Posted by wawan yawarmansyah

A. PENGERTIAN
GNA adalah reaksi imunologi pada ginjal terhadap bakteri atau virus tertentu. Yang sering terjadi ialah akibat infeksi kuman streptococcus, sering ditemukan pada usia 3-7 tahun.
(Kapita Selecta, 2000)

B. ETIOLOGI
 Streptococcus beta hemoliticus group A.
 Keracunan (timah hitam, tridion)
 Penyakit sipilis
 Trombosis vena renalis
 Penyakit kolagen

(Kapita Selecta, 2000)


C. MANIFESTASI KLINIK
1. Hematuria
2. Oliguria
3. Edema ringan sekitar mata atau seluruh tubuh
4. Gangguan gastrointestinal
5. Sakit kepala, merasa lemah
6. Nyeri pinggang menjalar sampai ke abdomen

D. PENATALAKSANAAN
1. Istirahat selama 1-2 minggu
2. Modifikasi diet.
3. Pembatasan cairan dan natrium
4. pembatasan protein bila BUN meningkat.
5. Antibiotika.
6. Anti hipertensi
7. Pemberian diuretik furosemid intravena (1 mg/kgBB/kali)
8. Bila anuria berlangsung lama (5-7hari) dianjurkan dialisa peritoneal atau hemodialisa.

E. PENGKAJIAN
1. Riwayat kesehatan umum, meliputi Gg/peny. yang lalu, berhubungan dengan peny. sekarang. Contoh: ISPA
2. Riwayat kesehatan sekarang,Meliputi; keluhan/gg. yang berhubungan dgn. Peny. saat ini. Seperti; mendadak, nyeri abdomen,Pinggang, edema.

F. PENGKAJIAN FISIK
1. Aktivitas/istirahat
- Gejala: kelemahan/malaise
- Tanda: kelemahan otot, kehilangan tonus otot
2. Sirkulasi
- Tanda: hipertensi, pucat,edema
3. Eliminasi
- Gejala: perubahan pola berkemih (oliguri)
- Tanda: Perubahan warna urine (kuning pekat, merah)
4. Makanan/cairan
- Gejala: peBB (edema), anoreksia, mual,muntah 
- Tanda: penurunan haluaran urine
5. Pernafasan
- Gejala: nafas pendek
- Tanda: Takipnea, dispnea, peningkatan frekwensi, kedalaman (pernafasan kusmaul) 
6. Nyeri/kenyamanan
- Gejala: nyeri pinggang, sakit kepala
- Tanda: perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah 
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada laboratorium didapatkan:
 Hb menurun
 Ureum dan serum kreatinin meningkat
 Elektrolit serum (natrium meningkat)
 Urinalisis (BJ. Urine meningkat, albumin , Eritrosit , leukosit )
 Pada rontgen:
IVP abnormalitas pada sistem penampungan (Ductus koligentes)

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kelebihan volume cairan bd.produksi urine yang menurun akibat dari penurunan filtrasi ginjal.
2. perubahan nutrisi; kurang dari kebutuhan bd. Intake yang kurang.
3. Intoleransi aktivitas bd. Kelemahan fisik, bedrest.
4. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit (infeksi sekunder) bd. Perubahan metabolisme dan sirkkulasi tubuh.

I. IMPLEMENTASI
Diagnosa keperawatan 1.
 Observasi tanda vital tiap 2 jam
 Kaji status cairan, observasi intake dan output
 Jelaskan pada pasien pentingnya pembatasan cairan
 Timbang BB tiap hari pada waktu, alat dan pakaian yang sama
 Observasi hasil lab: BJ. Urine, Albumin, elektrolit, darah (kalium dan natrium)
Diagnosa keperawatan 2.
 Catat pemasukan makanan setiap kali habis makan
 Catat gejala yg timbul stlh makan, seperti: mual muntah
 Kaji pola dan kebiasaan makan pasien
 Sajikan makanan yang menarik dan selalu hangat, porsi kecil tapi sering.
 Pemberian diet tinggi kalori rendah protein, tinggi karbo hidrat rendah garam.
 Observasi hasil lab: BUN dan serum creatinin.
Diagnosa Keperawatan 3.
 Kaji aktivitas yang biasa dilakukan Pasien setiap hari
 Anjurkan pasien melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya
 Bantu aktivitas yang belum dapat dilakukan sendiri oleh pasien.
 Batasi aktivitas pasien selama di rawat
Diagnosa Keperawatan 4.
 Jelaskan pd pasien tujuan dari setiap tind. yg dilakukan.
 Observasi keadaaan perkembangan kulit setiap hari.
 Kebersihan kuku.
 Miring kiri-kanan setiap 2 jam.
 Lakukan masase,olesi minyak untuk memperlancar aliran darah
 Pertahankan kondisi kulit tetap kering.
 Anjurkan pasien memakai pakaian/alat-alat tenun dari bahan katun

J. EVALUASI
 Intake dan output cairan seimbang.
 Tidak ada udema.
 Tanda-tanda vital: TD: 120/80 mmHg, RR: 20 X/m, HR: 80 X/mt, suhu: 367o C.
 Kadar elektrolit darah normal.
 Tidak ada mual, muntah.
 Pasien dapat menghabiskan porsi makanan yang dihidangkan.
 Tidak ada gatal-gatal dan lecet pada kulit.
 Tahan terhadap aktivitas tanpa ada kelelahan.



















More aboutASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN (GLOMERULONEFRITIS AKUT)

PERSENTASE PERILAKU ORANG TUA UNTUK MENINGKATKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT ANAK PADA SD NEGERI 5 BATURITI, TABANAN

Posted by wawan yawarmansyah on Thursday, June 9, 2011

LAPORAN INDIVIDU
KULIAH KERJA NYATA (KKN) PROGRAM ALTERNATIF
PERSENTASE PERILAKU ORANG TUA UNTUK MENINGKATKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT ANAK PADA SD NEGERI 5 BATURITI, TABANAN



PUSKESMAS : BATURITI 1
KECAMATAN : BATURITI
KABUPATEN : TABANAN

OLEH :
Irmayanti
(p07120108095)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. ANALISIS SITUASI
Sampai saat ini masalah kesehatan gigi termasuk salah satu
penyakit yang mendapat perhatian serius dari pemerintah. Penyebabnya adalah kurangnya perhatian dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan gigi sehingga angka kesehatan gigi di Indonesia terus menurun tiap tahunnya. Sejauh ini beberapa program sudah dilakukan Pemerintah untuk menaikkan derajat kesehatan gigi termasuk penyuluhan dan lain sebagainya akan tetapi kurang dapat menaikkan dearajat kesehatan gigi di sektor masyarakat. Pendidikan kesehatan gigi sejak dini sangat penting, untuk mencegah terjadinya kerusakan gigi sejak dini. Karena, kesehatan gigi sangat berpengaruh pada kesehatan umum dan tentunya aktivitas individu sehari-hari.
Tujuan dari pencegahan dan perawatan gigi sejak dini adalah untuk mendapatkan suatu keadaan gigi yang bebas dari penyakit, gigi yang sehat dan bersih. Mulut yang benar-benar sehat sangat jarang dijumpai, dimana mulut yang sehat adalah mulut yang memiliki gusi yang sehat dan tidak tercium bau mulut ( Halitosis ). Maka dari itu untuk mendapatkan mulut yang sehat kita harus menjaga kesehatan dan kebersihan mulut dengan mengurangi makanan manis yang bisa menimbulkan gigi berlubang, dan selalu memakan makanan yang bergizi untuk mencegah terjadinya penyakit gigi dan mulut.
Peran serta orang tua siswa sangatlah berpengaruh pada perilaku anak untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Pendidikan kesehatan gigi dan mulut tidaklah dituju pada anak-anak saja, melainkan orang tua siswa juga perlu pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut. Tidak hanya untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut sendiri, melainkan dapat memberikan contoh pada anak mereka masing-masing, oleh karena itu dibutuhkan suatu gagasan inovatif untuk memberi pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut kepada orang tua siswa, dan dapat memberikan saran-saran yang baik untuk kesehatan gigi dan mulut anak.

Untuk mewujudkan kesehatan yang optimal bagi anak-anak, maka diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan, penyembuhan penyakit, dan pemulihan kesehatan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Pelayanan usaha kesehatan dapat dikembangkan melalui puskesmas dengan melaksanakan kegiatan kesehatan gigi dan mulut. Dalam hal ini, pada lingkungan sekolah dasar merupakan sasaran yang tepat untuk pencegahan dan penanggulangan penyakit gigi dan mulut. Melalui aplikasi Irene’s Donut mengarahkan kepada orang tua siswa untuk mendidik siswa dalam melakukan kebiasaan pemeliharaan kesehatan gigi sejak dini yang dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut di kemudian hari, serta memberikan pengarahan pada orang tua siswa.
Penelitian Kesehatan Gigi dan Mulut ini dilakukan pada siswa SD Negeri 5 Baturiti, Kecamatan Baturiti – Kabupaten Tabanan. Dengan jumlah siswa sebanyak 124 orang, dan penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil sampel sebanyak 10 orang secara random atau acak serta mendatangi rumah masing-masing sampel. Disekolah ini masih jarang dilakukan program peningkatan kesehatan gigi dan mulut dalam bentuk penyuluhan, pemeriksaan, dan perawatan oleh tenaga kesehatan. Dengan dilakukannya penelitian kesehatan gigi dapat diketahui masalah kesehatan gigi dan mulut dan mengupayakan untuk seringnya dilakukan penyuluhan kesehatan gigi dan sikat gigi massal sebagai dasar program pencegahan.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pemikiran analisis situasi diatas, maka penulis dapat mengangkat permasalahan sebagai berikut :
1. Berapakah persentase perilaku orang tua sebelum dilakukannya penelitian menggunakan Irene’s Donut?
2. Berapakah persentase perilaku orang tua setelah dilakukannya penelitian menggunakan Irene’s Donut?
3. Apa saja saran yang dapat dianjurkan untuk meningkatkan perilaku kesehatan gigi dan mulut?
4. Apa saja yang dapat dilakukan peneliti setelah melakukan penelitian menggunakan Irene’s Donut?




BAB II
TUJUAN DAN MANFAAT

2.1. TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan rumusan permasalahan yang dikemukakan penulis di atas, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui persentase perilaku orang tua sebelum dilakukannya penelitian menggunakan Instrument Penelitian Irene’s Donut
2. Untuk mengetahui persentase perilaku orang tua setelah dilakukannya penelitian menggunakan Instrument Penelitian Irene’s Donut
3. Untuk mengetahui berbagai saran dari Instrument penelitian Irene’s Donut yang dapat dianjurkan untuk meningkatkan perilaku kesehatan gigi dan mulut
4. Untuk mengetahui yang dapat peneliti lakukan setelah melakukan penelitian menggunakan Instrument Penelitian Irene’s Donut


2.2. MANFAAT PENULISAN
Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya sebagai berikut :
1. Dapat memberikan masukan kepada orang tua siswa untuk meningkatkan perilaku mereka dalam bidang kesehatan gigi dan mulut, agar dapat memberikan contoh pada anak untuk tetap menjaga kesehatan gigi dan mulut.
2. Dapat memberikan masukan kepada anak- anak untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut diri sendiri agar kesehatan gigi dan mulut mereka mulai terjaga sejak dini.

3. Dapat memberikan masukan kepada petugas kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas agar dapat menyusun rencana kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna untuk masyarakat terutama anak-anak tingkat SD yang masih perlu banyak pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut.



BAB III
KERANGKA PENYELESAIAN MASALAH

3.1. ANATOMI GIGI
3.1.1. Pengertian Anatomi Gigi
Anatomi gigi merupakan ilmu yang mempelajari tentang susunan/striktur dan bentuk/konfigurasi gigi, hubungan antara gigi yang satu dengan gigi yang lain dan hubungan antara gigi dengan jaringan disekitarnya.
3.1.2. Awal Perkembangan Gigi
Mahkota dan bagian akar dibentuk jauh sebelum gigi tersebut keluar di dalam mulut (erupsi), mahkota dibentuk dahulu, baru akar. Perkembangan setiap gigi individu dimulai dengan pembentukan benih gigi. Benih gigi berasal dari 2 jaringan embrio yaitu bagian yang berkembang dari lamina gigi yang berasal dari ektodermal dan bagian lain yang berasal dari mesensim yang terletak di bawah ektodermal. Benih gigi dibentuk dari 3 organ pembentuk :
a. Organ enamel merupakan organ yang berkembang seperti tombol, tumbuh di atas lamina gigi (berasal dari ektodermal), dan berasal dari epitel dimana lapisan dalamnya membentuk enamel. Kuntum dari sel epithelial (organ enamel) dibentuk sebagai hasil dari pembiakan sel-sel. Perkembangan selanjutnya, mengahsilkan bentuk kuntum (bud), bentuk topi (cup), bentuk lonceng (bell) dari organ enamel.
b. Dental papilla (organ dentin) merupakan yang berkembang dari dasar jaringan mesensim (jaringan pengikat permulaan) yang berasal dari mesensim dan akan membentuk dentin dan tinggal di sekitar ruang sentral dari dentin sebagai pulpa.
c. Kantung gigi (organ periodontal) merupakan yang juga berkembang dari dasar jaringan mesensim, yang berasal dari jaringan mesensim dan akan membentuk struktur penyanggah gigi, sementum, tulang alveolar dan selaput periodontal.
Tidak semua gigi berkembang dalam waktu yang sama. Tanda-tanda pertama dari perkembangan gigi pada embrio ditemukan di daerah anterior mandibula waktu usia 5 saampai 6 minggu, sesudah terjadi tanda-tanda perkembangan gigi di daerah anterior maksila kemudian berlanjut kea rah posterior dari kedua rahang. Perkembangan dimulai dengan pembentukan lamina gigi. Dental lamina adalah suatu pita pipih yang terjadi karena penebalan jaringan epitel mulut (ektodermal) yang meluas sepanjang batas oklusal dari mandibula dan maksila pada tempat mana gigi-gigi akan muncul kemudian. Dental lamina tumbuh dari permukaan sampai dasar mesensim.
3.1.3. Bagian Gigi
A. Bagian gigi yang dilihat secara makroskopis (menurut letak dari email dan sementum) :
1. Mahkota/korona merupakan bagian gigi yang dilapisi jaringan enamel atau email dan normal terletak diluar jaringan gusi/gingival.
2. Akar/radix merupakan bagian gigi yang dilapisi jaringan sementum dan ditopang oleh tulang alveolar dari maksila dan mandibula.
3. Garis servikal atau biasa disebut semento enamel junction merupakan batas antara jaringan sementum dan email, yang merupakan pertemuan antara mahkota dan akar gigi.
4. Ujung akar atau apeks merupakan titik yang terujung dari suatu benda yang runcing atau yang berbentuk kerucut seperti akar gigi.
5. Tepi insisal (insisal edge) merupakan suatu tonjolan kecil dan panjang pada bagian korona dari gigi insisivus dan yang digunakan untuk memotong makanan.
6. Tonjolan atau Cups merupakan tonjolan pada bagian korona gigi kaninus dan gigi posterior, yang merupakan sebagian dari permukaan oklusal.
B. Bagian gigi yang dilihat secara mikroskopis
1. Email / Enamel
Enamel atau email berasal dari jaringan ectoderm, susunannya agak istimewa yaitu penuh dengan garam-garam CA. Bila dibandingkan dengan jaringan-jaringan gigi yang lain, email merupakan jaringan yang paling keras, paling kuat oleh karena itu ia merupakan pelindung gigi yang paling kuat terhadap rangsangan-rangsangan pada waktu pengunyahan. Tetapi email tidak mempunyai kemampuan untuk menggantikan bagin-bagian yang rusak.
2. Dentin
Dentin berasal dari jaringan mesoderm yaitu mempunyai susunan dan asal yang sama dengan jaringan tulang. Dentin mempunyai hubungan dengan jaringan-jaringan yang ada di dalam rahang/gusi sehingga bila rusak, dentin mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali.
3. Pulpa
Pulpa merupakan jaringan lunak yang terdiri dari pembuluh darah dan saraf, yang menyuplai oksigen dan nutrisi untuk gigi, serta berperan dalam menghasilkan kepekaan gigi. Fungsi utama pulpa adalah mengatur pertumbuhan dan perkembangan gigi. Pulpa terletak memanjang dari atap kamar pulpa sampai ujung saluran akar.
4. Sementum
Sementum bagian dari jaringan gigi dan termasuk juga bagian dari jaringan periodontium karena menghubungkan gigi dengan tulang rahang dengan jaringan yang terdapat di selaput periodontal. Jaringan sementum tidak mengadakan resorpsi atau pembentukan kembali tetapi mengalami apposisi makin tua umur maka makin tebal lapisan semen, pembentukan semen ini berjalan dari arah selaput periodontal sebagai lapisan.
3.1.4. Fungsi Gigi
Gigi geligi manusia mempunyai fungsi, sebagai berikut :
a. Untuk memotong dan memperkecil bahan-bahan makanan pada waktu pengunyahan. Gigi yang fungsinya untuk memotong adalah gigi insisivus, gigi yang fungsinya untuk merobek makanan adalah gigi kaninus, gigi yang fungsinya untuk mengoyak atau menggiling makanan adalah gigi molar.
b. Untuk mempertahankan jaringan penyanggahan, supaya tetap dalam kondisi yang baik, dan terikat dengan erat dalam lengkung gigi serta membantu dalam perkembangan dan perlindungan dari jaringan-jaringan yang menyanggahnya.
c. Untuk memproduksi dan mempertahankan suara atau bunyi
d. Untuk estetik
e. Untuk melindungi jaringan-jaringan penanamnya.
3.2. DENTAL PLAK
Permukaan gigi kita tidak pernah betul-betul bersih. Segera setelah kita sikat gigi pun, lapisan tipis (disebut biofilm) akan segera terbentuk, yang mengandung banyak sekali mikroorganisme baik maupun jahat, dan akan bergabung dengan sisa makanan yang kemudian disebut plak gigi.
Dental plak merupakan deposit lunak berwarna putih kekuningan yang tersusun dari garam-garam saliva dan koloni mikroorganisme mulut ( pada umumnya Streptococcus mutans ). Dental plak merekat kuat pada permukaan gigi dan lokasi tersering adalah pada daerah-daerah gigi yang sulit terjangkau saat menggosok gigi seperti pada pit dan fissure dari gigi-gigi premolar-molar atau pada daerah tersembunyi di samping gigi dengan malposisi. Pelekatannya melalui pellicle memerlukan gosok gigi dengan tepat untuk dapat terlepas, tidak sekedar kumur-kumur. Dental plak adalah ‘rumah’ ideal dari mikroorganisme mulut untuk menempel pada gigi, karena kuman terlindung dengan baik dari pembersihan alami dengan saliva dan lidah, kuman akan terus berkembang, membentuk asam dari sisa-sisa makanan dan memicu mineralisasi dari struktur keras gigi, dengan demikian gigi pun perlahan tapi pasti akan ‘keropos’ dan membentuk karies yang jika berlanjut dapat merusak pulp chamber dan memicu penyakit-penyakit pulpa. Namun jika proses tersebut terjadi pada dental plak yang terletak pada gigi dekat gusi, prosesnya akan berlangsung mulai dari marginal dan mengarah pada penyakit-penyakit periodontal (gingivitis marginal, periodontitis marginal bahkan hingga abses periodontal ).
Plak akan “matang” setelah 1-2 hari tanpa penyikatan gigi sama sekali, dan mengandung material organik seperti lemak, protein dan enzim serta material anorganik yaitu mineral terutama kalsium dan fosfor. Plak yang menumpuk dapat menyebabkan peradangan pada gusi, akibatnya gusi bengkak, warnanya merah terang, dan mudah berdarah. Kondisi ini juga dapat menyebabkan bau mulut karena plak akan diolah oleh bakteri dan menghasilkan senyawa sulfur yang menjadi sumber bau tak sedap.
3.3. KARIES GIGI
3.3.1. Pengertian Karies
Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi, yaitu email, dentin, dan sementum, yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Tandanya adalah adanya demineralisasi jaringan keras gigi yang kemudian diikuti oleh kerusakan bahan organiknya. Akibatnya terjadi invasi bakteri dan kematian pulpa serta penyebaran infeksinya ke jaringan peri apeks yang dapat menyebabkan nyeri. Walaupun demikian, mengingat mungkinnya remineralisasi terjadi, stadium yang sangat dini penyakit ini dapat dihentikan.
3.3.2. Etiologi Karies
Beberapa jenis karbohidrat makanan misalnya sukrosa dan glukosa, dapat diragikan oleh bakteri tertentu dan membentuk asam sehingga pH plak akan menurun sampai di bawah 5 dalam tempo 1-3 menit. Penurunan pH yang berulang-ulang dalam waktu tertentu akan mengakibatkan demineralisasi permukaan gigi yang rentan dan proses kariespun dimulai. Paduan keempat factor penyebab tersebut kadang-kadang digambarkan sebagai empat lingkaran yang bersitumpang. Karies baru bisa terjadi hanya kalau keempat factor tersebut diatas ada.
Keempat factor tersebut merupakan factor dalam :

WAKTU
PLAK
SUBSTRAT
HOST
KARIES
a. Host (Gigi dan Saliva)
Gigi adalah bagian tubuh yang terkeras dan terkuat dari anggota tubuh lainnya. Bahkan jika dibandingkan dengan tulang sekalipun. Hanya saja kelemahan dari gigi adalah tidak tahan terhadap serangan asam dan jika rusak, gigi tidak mempunyai daya reparatif (memperbaiki diri sendiri) sebagaimana anggota tubuh lainnya. Karena itu sekali lubang gigi terbentuk maka tidak ada jalan lain untuk mengembalikannya ke keadaan semula kecuali dengan ditambal. Sedangkan untuk mencegah terbentuknya karies maka pencegahan pertama adalah dengan mengurangi aktivitas fermentasi gula menjadi asam oleh bakteri yaitu mengurangi akumulasi plak dengan menggosok gigi setiap hari dan teliti setiap permukaan gigi sudah tersikat.
Plak yang mengandung bakteri marupakan awal bagi terbentuknya karies. Oleh karena itu kawasan gigi yang memudahkan pelekatan plak sangat mungkin diserang karies. Kawasan-kawasan tersebut yaitu:
a. Pit dan fisur pada permukaan oklusal molar dan premolar; pit bukal molar dan pit palatal insisif.
b. Permukaan halus di daera proksimal sedikit di bawah titik kontak
c. Email pada tepian di daerah leher gigi sedikit di atas tepi gingiva
d. Pemukaan akar yang terbuka, yang merupakan daerah tempat melekatnya plak pada pasien dengan resesi gingiva karena penyakit periodontium
e. Tepi tumpatan terutama yang kurang atau mengemper
f. Permukaan gigi yang berdekatan dengan gigi tiruan dan jembatan
b. Agent (Bakteri Kariogenik)
Walaupun penyebabnya rnultifaktor, namun dapat dikatakan bahwa pemicu terjadinya Ieries gigi adalah bakteri kariogenik Streptococcus mutans, terutama S. mutans serolipe c (Schachtele, 1990). S. mutans mempunyai sistem enzim yang dapat mensintesis gluten dari sukrosa. Enzim yang berperan adalah glukosiltransferase (GTF) yang terdapat di dalam dinding selnya (Lehner, 1992). Glukan ikatan glikosidik a(1-3) yang disintesis oleh GTF, merupakan prekursor pembentuk plak gigi (Schachtele, 1990).
Telah diketahui bahwa mikroorganisme penyebab karies gigi adalah bakteri Streptococcus mutans. Streptococcus mutans mempunyai kemampuan untuk melekat dan berkolonisasi pada jaringan mulut (Brady, 1992), hal ini karena Streptococcus mutans mempunyai berbagai polimer permukaan sel sebagai bahan antigen yang dikenal sebagai antigen B, 1/I1, IF, Pac, SR, P1 (Matshusita, 1994). Antigen tersebut berperan sebagai adhesin yang memiliki reseptor pada salah satu komponen saliva yang dikenal sebagai reseptor adhesin sehingga terjadi interaksi antara bakteri dengan saliva yang dapat membentuk lapisan biofilm di permukaan gigi atau bahan restorasi sehingga menghantar terjadinya proses kolonisasi.
Bakteri Streptococcus mutans dapat berikatan dan beragregasi dengan berbagai molekul saliva seperti: sIgA, B2, mikroglobulin, histidin rich polipeptides, glikoprotein 60 kD dan glikoprotein dengan berat molekul tinggi. Khusus untuk antigen Pac diketahui dapat berikatan dengan protein saliva dengan berat molekul 28000 kD, lisozim dan a amilase. Protein saliva yang berikatan dengan molekul Pac tersebut dikenal dengan agglutinin saliva sebagai media perlekatan (adherensi) bakteri Streptococcus mutans (Nakai dkk, 1993).

c. Environment
Bahan makanan (karbohidrat) dapat memicu terjadinya karies gigi harus kontak dengan permukaan gigi dalam waktu cukup lama. Karbodidrat ini apabila terdapat dalam jumlah cukup besar, sering dikonsumsi, terutama jenis yang lengket atau melekat pada gigi , maka kemungkinan terjadinya karies juga cukup tinggi. Ada jenis karbohidrat yang dijumpai, yaitu : tepung polisakarida, sukrosa dan glukosa, dimana sukrosa paling mudah menyebabkan terjadinya karies atau lubang gigi.
Karbohidrat ini dapat dijumpai pada hampir semua makanan, sedangkan makanan atau pada jajanan yang disukai pada anak-anak banyak dijumpai pada makanan : permen, coklat, kue-kue dan gula. Sedangkan karbohidrat dalam buah-buahan tidak menimbulkan karies, karena jumlahnya tidak banyak. Meskipun karbohidrat dapat menyebabkan karies, namun demikian kita tidak perlu takut untuk mengkonsumsinya, asalkan kita rajin membersihkan dan merawat gigi kita dengan baik dan benar.
Bakteri pada mulut seseorang akan mengubah glukosa, fruktosa, dan sukrosa menjadi asam laktat melalui sebuah proses glikolisis yang disebut fermentasi. Bila asam ini mengenai gigi dapat menyebabkan demineralisasi. Proses sebaliknya, remineralisasi dapat terjadi bila pH telah dinetralkan. Mineral yang diperlukan gigi tersedia pada air liur dan pasta gigi berflorida dan cairan pencuci mulut. Karies lanjut dapat ditahan pada tingkat ini. Bila demineralisasi terus berlanjut, maka akan terjadi proses pelubangan.
Dibutuhkan waktu minimum tertentu bagi plak dan karbohidrat yang menempel pada gigi untuk membentuk asam dan mampu mengakibatkan demineralisasi email. Karbohidrat ini menyediakan substrat untuk pembuatan asam bagi bakteri dan sintesa polisakarida ekstrasel. Makanan dan minuman yang mengandung gula akan menrunkan pH plak dengan cepat sampai pada level yang dapat menyebabkan demineralisasi email. Plak akan tetap bersifat asam selama beberapa waktu. Untuk kembali ke pH normal, dibutuhkan waktu 30-60 menit. Oleh karena itu, konsumsi gula yang sering dan berulang-ulang akan tetap menahan pH plak di bawah normal dan menyebabkan demineralisasi email.
Sintesa polisakarida ekstrasl dari sukrosa lebih cepat ketimbang glukosa, fruktosa dan laktosa. Oleh karena itu, sukrosa merupakan gula yang paling kariogenik, walaupun gula lainnya tetap berbahaya. Dan karena sukrosa merupakan gula yan paling banyak diknsumsi maka sukrosa merupakan penyebab karies utama.
d. Time
Waktu berperan pada perkembangan karies, dimana setelah seseorang mengkonsumsi gula atau karbohidrat/substrat makan terjadi penumpukan sisa makanan, jika tidak dibersihkan terjadi penumpukan sisa makanan yang nantinya menarik bakteri dan bakteri akan memetaboisme menjadi asam dan menurunkan pH. pH dapat menjadi normal karena dinetralkan oleh air liur dan proses sebelumnya telah melarutkan mineral gigi. Demineralisasi akan terjadi setelah 2 jam. Oleh karena itu dianjurkan untuk menggosok gigi setelah makan dan sebelum tidur, sebagai upaya pencegahan karies secara dini.
Tingkat frekuensi gigi terkena dengan lingkungan yang kariogenik dapat mempengaruhi perkembangan karies. Setelah seseorang mengonsumsi makanan mengandung gula, maka bakteri pada mulut dapat memetabolisme gula menjadi asam dan menurunkan pH. pH dapat menjadi normal karena dinetralkan oleh air liur dan proses sebelumnya telah melarutkan mineral gigi. Demineralisasi dapat terjadi setelah 2 jam.
Apabila keempat faktor tersebut saling bekerja sama maka proses karies akan semakin cepat terjadi. Sedangkan jika salah satu dari keempat faktor tersebut tidak bekerja maka karies tidak akan terjadi.
Selain Faktor dalam, terdapat juga factor luar yang mempengaruhi terbentuknya karies, antara lain :
a. Usia
Sejalan dengan pertambahan usia seseorang, jumlah kariespun juga akan bertambah. Hal ini jelas karena faktor-faktor resiko terjadinya karies akan lebih lama berpengaruh terhadap gigi. Seseorang yang memiliki faktor resiko terjadinya karies kuat akan menunjukkan jumlah karies lebih besar dibandingkan yang kurang kuat pengaruhnya.
b. Jenis Kelamin
Dari berbagai penelitian menyatakan bahwa prevalensi karies gigi tetap wanita lebih tinggi dibandingkan pria. Hal ini disebabkan karena erupsi gigi anak perempuan lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-laki sehingga gigi anak perempuan berada lebih lama di dalam mulut. Akibatnya gigi anak perempuan akan lebih lama berhubungan dengan faktor resiko terjadinya karies.
c. Suku Bangsa
Beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan pendapat hubungan suku bangsa dengan prevalensi karies, karena keadaan sosial ekonomi, pendidikan, makanan, cara pencegahan karies dan jangkauan pelayanan kesehatan gigi yang berbeda di setiap suku tersebut.
d. Letak Geografis
Keadaan geografis berpengaruh dalam hal terjadinya karies karena kandungan fluor air minum. Bila air minum mengandung fluor 1 ppm maka gigi mempunyai daya tahan terhadap karies tetapi bila air minum mengandung lebih besar dari 1 ppm maka akan terjadi Mottled teeth yang menyebabkan kerusakan email berupa bintik-bintik hitam.
e. Kultur Sosial Penduduk
Wycoff (1980) menjelaskan bahwa ada hubungan antara keadaan sosial ekonomi dan prevalensi karies. Faktor yang mempengaruhi keadaan ini adalah pendidikan dan penghasilan yang berhubungan dengan diet, kebiasaan merawat gigi dan lain-lain.
f. Kesadaran, Sikap dan Prilaku Individu
Keadaan kesehatan gigi dan mulut sangat ditentukan oleh pengetahuan dan kesadaran dari masing-masing individu akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, yang kemudian akan menentukan sikap dan prilaku yang diambil oleh masing-masing individu. Misalnya dengan kebiasaan menggosok gigi minimal 2 kali setelah sarapan dan sebelum tidur, rajin kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, dan lain-lain.
3.3.3. Penggolongan Karies
Karies dapat diklasifikasikan menjadi 6 (enam) golongan, antara lain :
a. Penggolongan karies berdasarkan dalamnya karies, ada 3 (tiga) jenis yaitu :
1. Karies Superficial
Karies Superficial merupakan karies yang baru menyerang sampai bagian enamel gigi.
2. Karies Media
Karies Media merupakan karies yang sudah menyerang enamel dan dentin tapi belum melewati setengah tebal dentin.
3. Karies Profunda
Karies Profunda merupakan karies yang telah menyerang lebih dari setengah tebal dentin dan terkadang sudah sampai atap dan pulpa gigi.

b. Penggolongan karies berdasarkan lokasi dari karies, ada 3 (tiga) jenis yaitu :
1. Pit dan Fissure Karies
Karies Pit dan Fissure merupakan karies yang terjadi pada daerah pit dan fissure dari gigi geligi belakang.
2. Smooth Surface Karies
Karies Smooth Surface merupakan karies pada daerah permukaan yang halus misalnya pada ujung cups dari gigi geligi belakang.
3. Cervical Karies
Karies Cervical merupakan karies pada daerah cervical gigi, biasanya terjadi pada gigi geligi yang telah mengalami retraksi gingival.
c. Penggolongan karies berdasarkan cepatnya penjalaran proses karies, ada 5 (lima) jenis yaitu :
1. Acute Karies / Aktiva Karies
Acute karies atau aktiva karies merupakan karies yang prosesnya berjalan sangat cepat, disinilah terlihat jaringan dentin yang kekuning-kuningan dan lunak.
2. Chronic Karies
Chronic karies merupakan karies yang prosesnya berjalan lambat, dentin terlihat coklat tua, karena pulpa gigi masih sempat membentuk sekunder dentin.
3. Rampant Karies
Rampant karies merupakan karies yang menyerang seseorang dengan hebat dan perjalanannya sangat cepat sekali sehingga hampir seluruh gigi diserang, demikian juga gigi yang telah ditumpat.
4. Jenile Karies
Jenile karies merupakan karies yang biasanya terjadi pada permukaan akar dari gigi yang telah mengalami retraksi gingiva, umumnya pada orang usia lanjut.
5. Arrested Karies
Arrested karies merupakan karies yang telah menyerang suatu gigi kemudian proses penjalarannya berhenti. Di daerah dentin sering terlihat adanya transparant dentin yang dibentuk dalam usaha menahan penjalaran karies
6. Penggolongan karies berdasarkan jumlah permukaan gigi yag terserang karies, ada 2 (dua) jenis yaitu :
7. Simple Karies
Simple karies merupakan karies yang terjadi hanya pada satu permukaan saja, misalnya : karies oklusal.
8. Compound atau Complex Karies
Compound atau complex karies merupakan karies yang terjadi dan mengenai lebih dari satu permukaan gigi
9. Penggolongan karies berdasarkan G.V. Black, karies dibagi menjadi 5 (lima) kelas yaitu :
10. Kelas I
Karies kelas I terjadi pada permukaan occlusal. Karies pada 2/3 occlusal, baik pada permukaan labial/lingual/palatal dari gigi-geligi, juga karies yang terdapat pada permukaan lingual gigi-geligi depan.
11. Kelas II
Karies kelas II merupakan karies yang terdapat pada permukaan proximal dari gigi-geligi belakang temasuk karies yang menjalar ke permukan occlusalnya.
12. Kelas III
Karies kelas III merupakan karies yang terdapat pada permukaan proximal dari gigi-geligi depan dan belum mengenai incisal edge.
13. Kelas IV
Karies kelas IV merupakan karies yang terdapat pada permukaan proximal gigi-geligi depan dan telah mengenai incisal edge.
14. Kelas V
Karies kelas V merupakan karies yang terdapat pada 1/3 cervical dari permukaan buccal/labial atau lingual palatinal dari seluruh gigi-geligi.
15. Kelas VI
Karies kelas VI merupakan karies yang terdapat pada daerah incisal edge gigi depan atau pada ujung cups dari gigi belakang.
d. Penggolongan karies berdasarkan gigi geligi yang mudah diserang karies, ada 14 jenis yaitu :
1. Molar satu bawah
2. Molar satu atas
3. Premolar dua atas
4. Premolar satu atas
5. Molar dua bawah
6. Molar dua atas
7. Premolar dua bawah
8. Incisive dua atas
9. Incisive dua bawah
10. Caninus atas
11. Premolar satu bawah
12. Incisive dua bawah
13. Incisive satu bawah
14. Caninus bawah
3.3.4. Proses Terjadinya Karies
Dari berbagai teori mengenai terjadinya karies, ternyata bukti-bukti penelitian banyak mendukung teori Miller, dengan penyempurnaan teori ini dan membuktikan bahwa interaksi antara faktor-faktor utama yaitu : host, agent,lingkungan dan waktu adalah cukup rumit. Permulaan terjadinya karies adalah larutnya permukaan enamel oleh asam hasil fermentasi karbohidrat oleh kuman. Dengan adanya sistem buffer yang ada pada saliva, plak, dan karang gigi, maka asam yang terjadi akan dinetralkan kembali. Hal ini telah dibutuhkan oleh Stephan bahwa setelah berkumur-kumur dengan larutan glukosa atau sukrosa, pH plak akan turun, tetapi secara berangsur-angsur akan meningkat kembali dalam waktu 40 menit dan menjadi normal setelah lebih kurang satu jam. Dengan meningkatnya pH kembali akan terjadi redeposisi ion-ion mineral dari cairan di sekitar email dan dapat terjadi presipitasi pada daerah yang semula mengalami dekalsifikasi. Dan jika gula masuk lagi, hal yang sama akan terjadi, demikian seterusnya sehingga proses karies dapat dianggap sebagai hasil kumulatif antara proses demineralisasi dan remineralisasi yang terjadi terus menerus atau proses disolusi (larut) jika pH turun dan presipitasi jika pH meningkat. Dengan kata lain jika keseimbangan bergeser kearah demineralisasi, karies atau erosi akan terjadi, sedang jika keseimbangan bergerak kearah remineralisasi gigi menjadi lebih tahan terhadap asam (Feyerskov & Thylstrup, 1986). Proses karies berjalan lama dan karies juga dapat disebut sebagai penyakit multi faktor yang kronis. Proses karies umumnya sudah terjadi lama sebelum tanda-tanda klinik dapat dilihat. Tahapan tersebut diantaranya:
a. tahap ultrastruktural
b. tahap yang terlihat dengan mikroskop cahaya (tahap sub klinik)
c. terlihat bercak putih (tahap klinik)
d. tahap kavitasi
e. kerusakan menyeluruh
Pada semua tahap perkembangan karies, proses remineralisasi masih mungkin terjadi terutama jika pasien aktif meningkatkan kebersihan mulutnya dan tidak mengonsumsi gula. Karena itu sampai pada tahap kavitasi karies masih mungkin tidak berkembang lagi atau terhenti. Saliva adalah cairan untuk remineralisasi yang cukup baik dan berfungsi protektif, pertahanan terhadap kuman patogen serta mempertahankan flora normal dalam rongga mulut.
Hal-hal yang mendukung terjadinya karies gigi:
a. Gigi yang peka, yaitu gigi yang mengandung sedikit fluor atau memiliki lubang, lekukan maupun alur yang menahan plak.
b. Bakteri, mulut mengandung sejumlah besar bakteri, tetapi hanya bakteri jenis tertentu yang menyebabkan pembusukan gigi. Yang paling sering adalah bakteri Streptococcus mutans.
c. Sisa-sisa makanan. Dalam keadaan normal, di dalam mulut terdapat bakteri. Bakteri ini mengubah semua makanan (terutama gula dan karbohidrat) menjadi asam.
Bakteri, asam, sisa makanan dan ludah bergabung membentuk bahan lengket yang disebut plak, yang menempel pada gigi. Plak paling banyak ditemukan di gigi geraham belakang.
Jika tidak dibersihkan maka plak akan membentuk mineral yang disebut karang gigi (kalkulus). Plak dan kalkulus bisa mengiritasi gusi sehingga timbul gingivitis (radang gusi).
3.3.5. Pencegahan Karies dengan Pengendalian Plak
Pencegahan maupun perawatan pada gigi dapat dilakukan dengan perawatan non invasive yaitu :

1. Peningkatan kebersihan mulut, yaitu dengan menyikat gigi secara teratur dan sempurna sebanyak 3 kali sehari terutama sebelum tidur malam. Gosoklah gigi dengan gerakan benar yaitu dari arah gusi ke permukaan puncak gigi, sentuhan sikat gigi pada gusi akan memberikan pijatan bagi gusi sehingga merangsang aliran darah pada gusi. Dianjurkan untuk tidak langsung menyikat gigi setelah makan karena biasanya suasana mulut sehabis makan menjadi asam. Bila langsung disikat, kemungkinan ada mineral yang terkikis dari gigi tersebut. Idealnya tunggulah selama satu jam dulu, baru sikat gigi.
2. Penggunaan benang gigi/dental floss untuk menjaga kebersihan mulut. Dental floss digunakan untuk membersihkan permukaan antara dua gigi yang sering menjadi tempat terselipnya makanan dan menjadi tempat penimbunan plak. Selain itu, dapat juga menggunakan sikat lidah.
3. Penilaian faktor diet. Penilaian secara menyeluruh terhadap diet sebaiknya dilakukan untuk menentukan makanan apa saja yang dapat menyebabkan karies gigi. Kontrol diet dalam pencegahan karies sangat bergantung pada kemauan pasien sendiri. Tugas dokter gigi memberikan pengetahuan yang cukup mengenai makanan dan minuman yang baik untuk kesehatan gigi. Misalnya, sehabis makan pasien dianjurkan makan buah – buahan yang berair dan berserat karena makanan tersebut memberikan efek self cleansing pada gigi geligi. Selain itu makanlah makanan yang mengandung vitamin terutama vitamin C yang menyehatkan gusi.
4. Mengkonsumsi xylitol, merupakan pemanis alami yang ada dalam konsetrasi rendah pada buah – buahan dan sayuran. Rasa manisnya sama dengan sukrosa tapi kandungan kalorinya 40% lebih rendah. Biasanya dikemas dalam bentuk permen karet dan memiliki manfaat dalam rongga mulut yaitu meningkatkan produksi dan pH saliva sehingga proses remineralisasi dapat meningkat dan menghambat terjadinya proses demineralisasi.
5. Peningkatan faktor pelindung saliva. Penurunan kemampuan proteksi saliva dapat menyebabkan terjadinya karies akibat penurunan produksi saliva. Penurunan tersebut dapat disebabkan karena konsumsi obat – obat yang menurunkan jumlah saliva dan penyakit sistemik yang mempengaruhi saliva. Salah satu cara meningkatkan kualitas saliva adalah dengan banyak mengkonsumsi air putih.
6. Penggunaan obat kumur antiseptik yang mengandung klorheksidin. Penggunaannya harus dikombinasikan dengan penyikatan gigi dan digunakan setelah menyikat gigi untuk mengurangi terjadinya plak. Obat kumur antiseptik tidak boleh digunakan dalam waktu lama karena dapat mengubah ekosistem flora normal rongga mulut. Jika ada radang dan karies yang banyak, penggunaannya boleh setiap hari dengan maksimal waktu penggunaannya selama 2 minggu. Obat kumur yang mengandung pewangi dan berfungsi sebagai penyegar mulut tanpa kandungan antiseptik, boleh digunakan setiap hari.

7. Penggunaan fluoride. Adanya peningkatan fluoride dalam rongga mulut dapat menghambat terjadinya demineralisasi. Umumnya dokter gigi akan memberikan secara topikal (dioleskan secara merata) pada seluruh permukaan gigi dan waktu pemberiannya sesuai dengan aturan pabrik yang tertera di kemasan masing – masing produknya. Kadar fluor yang diberikan biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan kadar fluor dalam pasta gigi.

3.4. USAHA KESEHATAN GIGI SEKOLAH (UKGS)
Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut merupakan salah satu kegiatan pokok Puskesmas yang dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu meliputi upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan. Kegiatannya dapat dilakukan didalam gedung Puskesmas dan di luar Gedung Puskesmas. Salah satu kegiatan di luar gedung Puskesmas adalah program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS).
UKGS adalah upaya kesehatan gigi sekolah yang ditujukan bagi anak usia sekolah di lingkungan sekolah dari tingkat pelayanan promotif, promotif-preventif, hingga pelayanan paripurna. UKGS menurut Depkes RI adalah bagian integral dari UKS yang melaksanakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara terencana, pada para siswa, terutama siswa Sekolah Tingkat Dasar (STD) dalam kurun waktu tertentu, diselenggarakan secara berkesinambungan melalui paket UKS yaitu paket minimal, paket standar dan paket optimal.
Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang telah berdiri sejak tahun 1951 merupakan suatu kegiatan yang sangat relevan dalam pelaksanaan upaya penanggulangan penyakit gigi dan mulut. Hal ini disebabkan karena kegiatanya diarahkan kepada penanaman kebiasaan pelihara diri kesehatan gigi sejak dini.

Pemerintah membuat program UKGS sebagai kegiatan puskesmas bertujuan untuk :
a. Meningkatkan taraf kesehatan gigi anak-anak sekolah dengan jalan mengadakan usaha preventif dan promotif.
b. Mengusahakan timbulnya kesadaran dan keyakinan bahwa untuk meningkatkan taraf kesehatan gigi perlu pemeliharaan kebersihan mulut (oral hygiene).
c. Mengusahakan agar anak-anak sekolah dasar itu mau memelihara kebersihan mulutnya di rumah (habit formation).
d. Meningkatkan taraf kesehatan gigi anak-anak sekolah dasar dengan menjalankan usaha kuratif apabila usaha prevensi gagal melalui sistem selektif.
e. Meningkatkan kesadaran kesehatan gigi dengan suatu sistem pembiayaan yang bersifat praupaya (prepayment system).

3.5. Perilaku Kesehatan Gigi dan Mulut
Perilaku adalah aksi, reaksi, terhadap perangsangan dari lingkungan.,1 bisa
berupa respon pasif atau tanpa tindakan, maupun aktif dengan tindakan. Perilaku
dapat mengalami suatu perubahan yang relative menetap. Perubahan perilaku terjadi melalui suatu proses belajar, latihan, dan pengalaman. Pendidikan kesehatan gigi dan mulut merupakan suatu proses pendidikan yang timbul atas dasar kebutuhan kesehatan gigi dan mulut yang bertujuan untuk menghasilkan kesehatan gigi dan mulut yang baik dan meningkatkan taraf hidup.
Perilaku manusia yang sangat dipengaruhi oleh karakteristik individu dan
lingkungannya. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan
perilaku atau kebiasaan individu. Kebiasan dilakukan dalam kehidupan seseorang
sehari-hari tanpa adanya perasaan terpaksa. Definisi lain menyebutkan bahwa
perilaku adalah kegiatan individu atas sesuatu yang berkaitan dengan individu
tersebut, yang diwujudkan dalam bentuk gerak atau ucapan. Dari kedua definisi
terlihat bahwa banyak faktor-faktor yang membentuk perilaku seseorang. Perilaku
setiap orang akan berbeda dengan orang lain, namun perlu diingat bahwa perilaku
dapat dibentuk sejak kecil. Lingkungan rumah terdekat yaitu orang tua, saudara kandung, dan pengasuh merupakan pembentuk tingkah laku utama pada anak.
Perilaku Kesehatan Gigi dan mulut yang sehat, adalah sebagai berikut :
a. Kumur-kumur dengan larutan fluor
Tujuannya adalah untuk mendapatkan lapisan gigi yang lebih tahan terhadap serangan asam. Asam merupakan hasil akhir dari sisa-sisa makanan terutama yang mengandung karbohidrat. Dengan lapisan email yang lebih tahan terhadap asam, diharapkan tidak akan cepat terjadi lubang pada gigi (karies).

b. Sikat gigi
Kepada setiap siswa/i diberikan pasta Fluocaril pada saat kegiatan ini berlangsung. Kegiatan ini dilakukan di tempat khusus yang sudah disediakan sekolah dan sebaiknya dilengkapi juga dengan cermin, sehingga mereka dapat melihat sendiri pada saat mereka menyikat gigi. Cara sikat gigi yang baik dan benar diajarkan oleh perawat yang bertugas di lokasi sekolah tersebut. Untuk menguji apakah siswa/i telah menyikat gigi dengan bersih diberikan suatu larutan (disclosing solution) yang berwarna merah. Jika masih banyak sisa-sisa makanan/lapisan plak yang menempel akan terlihat banyak bagian gigi (email) yang berwarna merah. Kepada siswa/i yang belum menyikat giginya dengan bersih dianjurkan untuk melanjutkan kegiatan menyikat gigi ini. Dengan cara tersebut diharapkan setiap siswa/i mempunyai pengalaman dan latihan untuk mengetahui berapa lama seseorang harus menyikat gigi sampai bersih betul. Kegiatan sikat gigi bersama ini dapat dilakukan beberapa kali dalam satu bulan.
c. Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut
Pada siswa/i TK dan SD diberikan pendidikan kesehatan gigi dan mulut dengan cara menggunakan buku pegangan yang bisa didapat dari Yayasan Kesehatan Gigi Indonesia. Buku-buku tersebut telah disusun berdasarkan urutan kelasnya yaitu buku I untuk kelas I dan seterusnya sampai buku VI dan dilengkapi dengan buku kerjanya masing-masing. Penyuluhan diberikan oleh dokter gigi dengan dibantu overhead projector, slide, gambar-gambar dan alat-alat peraga yang menarik seperti model gigi dan lain-lainnya sehingga penyuluhan itu tidak berkesan membosankan, selain tentang kesehatan gigi, diberikan juga penyuluhan tentang bagaimana menjaga kesehatan mulut yang nantinya akan berpengaruh pada kesehatan gigi. Kerjasama dengan kepala sekolah sangat diperluka karena penyuluhan ini dilaksanakan pada jam-jam sekolah dan seharusnya sudah dijadwalkan pada awal tahun pelajaran. Tujuan dari penyuluhan tersebut adalah agar siswa/i lebih sadar bagaimana seharusnya menjaga kesehatan gigi dan mulutnya masing-masing. Peran serta guru kelas dan kepala sekolah besar artinya dalam keberhasilan usaha kegiatan penyuluhan tersebut. Perawatan gigi dan mulut ditunjukkan dalam memperoleh pengobatan yang diperlukan, terutama pengobatan dalam menghilangkan rasa sakit, dan mencegah kerusakan gigi semakin parah. Sebaiknya sebelum dilakukan perawatan, terlebih dahulu diadakan pemeriksaan untuk membuat data dari setiap siswa/i. Pada tiap-tiap awal tahun pengajaran dilakukan pemeriksaan awal untuk dibuatkan kartu status tentang keadaan gigi geligi masing-masing juga tentang kesehatan mulut secara keseluruhan. Berdasarkan data-data tersebut, diperoleh gambaran mengenai berapa jumlah siswa/i yang memerlukan penambalan dan pencabutan diberikan surat untuk ditandatangani orang tuanya sebagai tanda persetujuan bahwa putra/i-nya diizinkan dirawat di sekolah. Mengingat UKGS bukanlah poliklinik, maka perawatan yang diberikan hanyalah penambalan tetap, pencabutan gigi susu yang sudah saatnya tanggal, pengobatan gigi untuk menghilangkan rasa sakit/pencegahan kerusakan lebih lanjut.
d. Makanan dan Minuman yang Sehat
Makanan yang buruk untuk gigi adalah makanan yang banyak mengandung gula dan lengket seperti coklat dan permen. Jika tidak dibersihkan dengan benar sisa-sisa makanan tersebut akan difermentasikan oleh bakteri-bakteri plak yang berakumulasi dan mengubahnya menjadi asam, kemudian asm tersebut akan melarutkan dan merusak jaringan keras gigi, dan terbentuklah kavitas. Begitu halnya dengan minuman, minuman yang manis mampu merusak jaringan keras gigi termasuk susu. Makanan yang baik untuk gigi adalah makanan sehat berupa buah dan sayur. Buah dan sayur adalah makanan yang kaya akan vitamin. Namun selain nutrisi yang dikandung oleh mereka, tekstur kasarnya sekaligus menjadi sikat gigi alami.
e. Pemakaian Dental Floss
Pemakaian dental floss mampu membantu untuk membersihkan sisa makanan yang menempel di sela-sela gigi
f. Kontrol ke Dokter Gigi 6 Bulan Sekali
Dengan cara mengontrol gigi ke dokter gigi kita akan dapat mengetahui apa saja yang mengenai gigi dan menjaga kesehatannya serta mengetahui langkah preventif mengenai kasus-kasus penyakit gigi dan mulut.
Pembentukan gigi pada anak sudah dimulai sejak ia masih dalam kandungan. Faktor gizi ibu hamil sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan janin, tak terkecuali bagian gigi dan mulutnya. Motivasi dari orangtua dan orang di sekitarnya sangat membantu anak untuk memperbaiki perilaku mereka, sehingga anak menjadi mudah untuk diajak bekerjasama ketika akan dilakukan perawatan gigi di dokter gigi.
Adapun pembagian perilaku anak dalam perawatan gigi, sebagai berikut:
1. Anak yang bisa diajak bekerjasama (Tipe Kooperatif)
Kebanyakan anak merupakan pasien yang kooperatif, dan hanya memiliki rasa takut yang minimal. Anak seperti ini, mau diajak bekerjasama, sehingga sangat membantu dokter gigi untuk bekerja secaraefektif dan efisien.
2. Tidak mampu menjadi kooperatif
• Anak yang masih sangat muda usianya. Anak usia muda, bukannya tidak mampu diajak kerjasama, tapi belum mampu. Pada kelompok anak ini, komunikasi masih belum bisa dilakukan karena anak belum mempunyai pemahaman. (anak di bawah usia 3 tahun)
• Anak cacat mental. Anak ini tidak mempunyai kemampuan untuk kooperatif karena kemampuannya terbatas.
3. Berpotensi untuk diajak bekerjasama (Berpotensi untuk kooperatif)
Pada kelompok anak ini, pada awal perawatan, biasanya anak tidak mau diajak kerjasama. Tapi dengan teknik pendekatan yang tepat, akhirnya si kecil dapat diajak bekerjasama.
Salah satu masalah serius yang mungkin timbul akibat gigi berlubang adalah gangguan jantung. Kuman yang bersarang pada gigi yang berlubang bisa menembus ke pembuluh darah, dan akhirnya mengumpul di jantung. Selain itu, bakteri juga bisa menempel pada lapisan lemak di pembuluh darah. Akibatnya, plak yang terbentuk menjadi makin tebal. Semua kondisi ini menghambat aliran darah ke jantung. Ini jugalah yang membuat penyaluran sumber makanan dan oksigen ke jantung tersendat. Jika berlangsung terus, jantung tak akan mampu berfungsi secara baik. Maka terjadilah penyakit jantung yang ditakutkan banyak orang. Pada kerusakan gigi yang parah, bakteri dapat masuk ke aliran darah dan mengganggu sistem kekebalan tubuh. Sel sistem kekebalan tubuh yang rusak melepaskan sejenis protein yang disebut cytokines. Unsur ini menyebabkan kerusakan sel pankreas penghasil insulin, hormon yang memicu diabetes.
Upaya untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut telah banyak dilakukan berbagai pihak sejak lama, baik melalui program pemerintah, media massa, iklan di televisi, atau penyuluhan di pusat kesehatan.

3.6. Pola Hidup Anak-anak
Pola hidup sehat anak dipengaruhi pola makan dan kebiasaan orangtua. Jika kedua orangtua menjalankan pola hidup sehat dengan gizi seimbang, maka kemungkinan besar dapat menunjang kesehatan fisik dan mental anak agar mereka bisa berprestasi dengan optimal.
Anak-anak adalah generasi penerus kita yang akan menggantikan keberadaan kita dan anak kandung adalah aset yang paling berharga ketika kita sudah tua renta nanti. Anak yang sehat umumnya akan tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa yang sehat. Orang yang sehat akan memiliki banyak peluang dalam kehdupan di dunia dibandingkan dengan orang yang sakit-sakitan.
Untuk itu mari kita ajarkan anak-anak kita dengan berbagai pemahaman dengan berbagai metode agar mereka dapat menjadi anak yang sehat. Mendidik anak haruslah sabar dan dilakukan dengan pendekatan yang baik dan jika perlu berikan penjelasan secara mendalam disertai dengan contoh, analogi, cerita, sejarah, gambar, audio, video, dan lain sebagainya.
Berikut ini adalah beberapa hal pola hidup anak-anak, yang tidak sehat, terutama untuk kesehatan gigi dan mulut :
a. Tidak Menggosok Gigi Secara Teratur
Kebanyakan dari anak-anak jadwal untuk sikat gigi minimal 2 kali sehari pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur jarang terealisasikan. Besar kemungkinan itu yang menyebabkan mudahnya anak-anak terserang karies pada tahap gigi susu. Maka dari itulah peran dan perhatian dari orang tua sangat besar dalam hal ini. Orang tua harus membuatkan jadwal dan turut membantu dalam pelaksanaan menggosok gigi setiap hari.
b. Melupakan Pentingnya Berkumur Terutama Menggunakan Mouthwash
Penggunaan mouth wash pada anak-anak memang tidak dianjurkan karena adanya rasa pedas dan menyengat yang ditimbulkan mouthwash itu sendiri. Padahal rasa pedas dan menyengat itulah yang menyebabkan menurunnya jumlah plak dalam mulut. Sehingga kebersihan dan kesehatan mulut dapat terjaga.
c. Malas ke Dokter Gigi
Rasa malas pada anak-anak untuk berkunjung ke dokter gigi mungkin disebabkan oleh rasa takut pada anak-anak terhadap segala sesuatu yang ada di ruang kerja atau ruang praktek dokter gigi. Rasa takut tersebut mungkin dikarenakan peralatan yang terlihat seram dan menakutkan seperti bunyi bor dan darah. Dan peran orang tua juga diperlukan dalam hal ini. Misalnya, orang tua dapat menemani sang anak untuk duduk di dental chair, untuk mengurangi rasa takut pada anak. Konsultasi dengan dokter gigi mampu memberikan wawasan terhadap anak maupun orang tua mengenai kesehatan gigi dan mulut.
d. Suka Coklat dan Permen
Memang kehidupan anak-anak tidak bisa terlepas dari coklat dan permen ataupun hal yang berasa manis. Sebagaimana kita ketahui bersama makanan yang mengandung gula danlengket seperti halnya permen dan coklat akan memperparah tingkat kesehatan gigi dan mulut, sehingga dianjurkan untuk anak-anak yang menyukai permen dan coklat untuk mengurangi jumlah pengkonsumsian dari permen dan coklat tersebut atau sehabis makan dan minum yang manis dan lengket dianjurkan untuk berkumur-kumur minimal dengan air putih.
e. Melupakan buah-buahan dan sayuran
Buah dan sayur adalah makanan yang kaya akan vitamin. Namun, selain nutrisi yang dikandung oleh mereka, tekstur kasarnya sekaligus menjadi sikat gigi alami yang bisa membersihkan sisa makanan pada sela-sela gigi.
3.7. Irene’s Donut
Irene’s Donut merupakan sebuah program yang dibuat berdasarkan penelitian Disertasi S3 Dr. drg. Irene Adyatmaka yang melibatkan 2.568 murid TK dan orang tuanya.
Irene’s Donut merupakan instrument penelitian dimana persentase yang tampak menggambarkan kemungkinan gigi akan berlubang. Program ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan gigi pada anak yang mungkin muncul dikarenakan prilaku anak dan terutama prilaku orang tua dari sang anak tersebut. Irene’s Donut mempunyai 20 buah pertanyaan dimana pertanyaan tersebut ditujukan pada orang tua siswa, dan dari beberapa pertanyaan terdapat bersedia atau tidaknya sikap orang tua siswa untuk berubah agar dapat menuju gigi dan mulut yang sehat.

3.8. ALUR PENYELESAIAN MASALAH
Persiapan alat-alat dan bahan
Wawancarai orang tua siswa dengan menggunakan Irene’s Donut
Mengukur Kadar pH Mulut Anak
Pemeriksaan Dasar (Oral Diagnosa)
Orang Tua Siswa Dan Anak
Hasil dan Saran-saran

BAB IV
PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1. REALISASI PENYELESAIAN MASALAH
Tahap pertama yang peneliti lakukan adalah menyiapkan alat dan bahan untuk penelitian, kemudian peneliti mengambil data (alamat) siswa SD N5 Baturiti, Kabupaten Tabanan perkelas untuk mengetahui rumah masing-masing siswa, kemudian pergi ke rumah masing-masing siswa sebanyak 10 orang (sampel). Setelah sampai di rumah siswa peneliti mengecek tingkat keasaman kuman dengan menggunakan plak check, dengan cara mengambil plak di gigi anterior anak, kemudian dicelupkan pada larutan A, tunggu selama lima menit. Setelah itu melakukan pemeriksaan dasar (Oral Diagnosa) untuk mengecek ada garis kehitaman dan karies atau tidak. Sambil menunggu hasil kadar Ph mulut, peneliti mewawancarai orang tua siswa dengan menggunakan aplikasi Irene Donut, serta ditulis dalam form penelitian yang telah disiapkan oleh peneliti. Dan yang mengisi form ini adalah peneliti dengan arahan dari orang tua siswa. Setelah mewawancarai orang tua siswa, peneliti memberikan saran untuk orang tua siswa agar kesehatan gigi dan mulut anak mereka terus meningkat. Untuk memperkuat hasil penelitian, peneliti meminta tanda tangan dan paraf orang tua siswa yang dibubuhkan di form penelitian dan daftar sampel, dimana tanda tangan ini akan menjadi bukti penelitian.
4.2. KHALAYAK SASARAN
Sasaran peneliti adalah siswa SD Negeri 5 Baturiti, Kecamatan Baturiti – Kabupaten Tabanan yang berumur mulai dari 6 tahun sampai 12 tahun bisa dikatakan mulai dari kelas I sampai kelas VI, dimana anak-anak tersebut sebagian besar belum paham benar mengenai pentingnya kesehatan gigi dan mulut untuk diri mereka sendiri. Perilaku anak-anak tersebut masih belum memenuhi criteria untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut, seperti masih suka makanan yang mengandung gula, sikat gigi yang digunakan berbanyak atau penggunaan sikat gigi yang sangat lama. Perilaku tersebut menyebabkan tingginya tingkat kerusakan gigi dan mulut.
Orang tua siswa SD Negeri 5 Baturiti, Kecamatan Baturiti – Kabupaten Tabanan sebagian besar memiliki pekerjaan sebagai petani dan pedagang, serta tempat tinggal mereka di Desa Pacung. Karena pekerjaan orang tua siswa sebagian besar sebagai petani dan pedagang, maka dapat dilihat bahwa pendidikan mereka juga rendah, dan dapat diketahui juga bahwa pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut juga rendah, sehingga menyebabkan perilaku orang tua siswa terhadap kesehatan gigi dan mulut sangatlah buruk. Dan tidak dapat memberikan contoh yang baik untuk anak-anak mereka.
4.3. METODE YANG DIGUNAKAN
Metode penelitian yang digunakan adalah survei deskriptif dengan pendekatan survei pada anak-anak SD Negeri 5 Baturiti, Kecamatan Baturiti – Kabupaten Tabanan . Teknis pengambilan sample yang digunakan adalah combined sampling, dimana gabungan dari quota sampling dan random sampling karena penelitian ini sudah memiliki ketetapan jumlah sampel yang akan diambil yaitu sebanyak 10 orang dari satu Sekolah Dasar dan diambil secara acak atau random untuk meneliti presentase perilaku orang tua siswa dalam peningkatan Kesehatan Gigi dan Mulut di SD Negeri 5 Baturiti, Kecamatan Baturiti - Kabupaten Tabanan.


BAB V
HASIL KEGIATAN

5.1. Hasil Pendataan Sampel
Data siswa SD Negeri 5 Baturiti , Kecamatan Baturiti – Kabupaten Tabanan peneliti dapatkan dari bagian Tata Usaha di SD Negeri 5 Baturiti, dengan format data sebagai berikut:
NO NAMA SISWA (SAMPEL) NAMA ORANG TUA SISWA KELAS ALAMAT
1. Kdk. Karunia Dewi I Wayan Patra III Pacung
2. I Md Yoga Bisama I Ketut Sudiarta V Pacung
3. Kt. Putra Sentana Ketut Suardana I Pacung
4. I Wayan Rai I Made Suputra VI Pacung
5. Ni Luh Gd Dewi R.M. I Gd Made Trimaya IV Pacung
6. Pd. Bgs. Ariestyawan Putu Ksamawan II Pacung
7. I Kdk. Soma Budiana I Wayan Duria I Pacung
8. Dw. Gd. Oka Saputera Dw Gd Prawira P. IV Pacung
9. I Pt. Pd. Dika Mugani I Gd Pande Riadnya VI Pacung
10. Linda Damayanti Nyoman Mastra V Pacung

5.2. Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian yang dilakukan pada orang tua siswa SD Negeri 5 Baturiti, Kecamatan Baturiti – Kabupaten Tabanan, diperoleh data sebagai berikut :
NO NAMA SISWA (SAMPEL) NAMA ORANG TUA SISWA SEBELUM (%) SESUDAH (%)
SEHAT RUSAK SEHAT RUSAK
1. Kdk. Karunia Dewi I Wayan Patra 20,98 79,02 43,50 56,50
2. I Md Yoga Bisama I Ketut Sudiarta 14,83 85,17 44,15 55,85
3. Kt. Putra Sentana Ketut Suardana 15,98 84,02 50,75 49,25
4. I Wayan Rai I Made Suputra 41,24 58,76 57,74 42,26
5. Ni Luh Gd Dewi R.M. I Gd Made Trimaya 57,89 42,11 63,88 36,12
6. Pd. Bgs. Ariestyawan Putu Ksamawan 15,25 84,75 64,33 35,67
7. I Kdk. Soma Budiana I Wayan Duria 12,55 87,45 63,88 36,12
8. Dw. Gd. Oka Saputera Dw Gd Prawira P. 29,46 70,54 63,26 36,74
9. I Pt. Pd. Dika Mugani I Gd Pande Riadnya 09,88 90,12 57,74 42,26
10. Linda Damayanti Nyoman Mastra 20,15 79,85 57,74 42,26

Hasil pada tabel diatas dapat menguraikan persentase sebelum perubahan sikap dan sesudah perubahan sikap. Dapat dilihat perilaku orang tua siswa (sampel) untuk menuju peningkatan kesehatan gigi yang baik sangatlah kecil. Dari 10 sampel hanya satu sampel yang perilaku untuk menuju kesehatan gigi dan mulut lebih dari 50% dan 9 sampel berada di bawah 50%. Untuk perilaku orang tua yang mengabaikan kesehatan gigi dan mulut sebagian besar berada di atas 50 % bahkan mendekati 100%, hanya satu sampel saja yang presentasenya di bawah 50 %. Hal ini dapat menjelaskan bahwa gigi 10 sampel siswa SD Negeri 5 Baturiti dalam keadaan yang buruk. Hal ini tentunya sangat tidak baik mengingat pertumbuhan gigi yang sangat optimal berada pada usia sekolah dasar.

5.3. Hasil Perhitungan Persentase Perubahan Dalam
Dari tabel diatas dapat dihitung presentase perubahan dalam sampel, dan diperoleh data, sebagai berikut :
NO NAMA SAMPLE NAMA ORANG TUA SISWA PERSENTASE PERUBAHAN DALAM (%)
1 Kdk. Karunia Dewi I Wayan Patra 22,52
2 I Md Yoga Bisama I Ketut Sudiarta 29,32
3 Kt. Putra Sentana Ketut Suardana 34,77
4 I Wayan Rai I Made Suputra 16,50
5 Ni Luh Gd Dewi R.M. I Gd Made Trimaya 05,99
6 Pd. Bgs. Ariestyawan Putu Ksamawan 49,08
7 I Kdk. Soma Budiana I Wayan Duria 51,33
8 Dw. Gd. Oka Saputera Dw Gd Prawira P. 33,80
9 I Pt. Pd. Dika Mugani I Gd Pande Riadnya 47,86
10 Linda Damayanti Nyoman Mastra 37,59

Dari tabel diatas dpat diuraikan bahwa untuk bertambahnya persentase perilaku orang tua siswa terhadap kesehatan gigi dan mulut, maka di butuhkan sikap perubahan yang dapat menguntungkan orang tua siswa dan tentunya anak itu sendiri. Setelah bersedianya dilakukan perubahan pada sikap orang tua siswa, maka data pada tabel diatas dapat menguaraikan persentase sikap setelah perubahan sikap menunjukan hasil yang baik. Perilaku orang tua siswa untuk menuju hidup yang sehat khususnya di dalam bidang kesehatan gigi dan mulut yang berada diatas 50 % ada 8 (delapan) sampel, dan 2 (dua) sampel berada dibawah 50 %. Sehingga persentase perilaku orang tua siswa dalam hal mengabaikan kesehatan gigi dan mulut sedikit banyak berkurang. Ada 8 (delapan) sampel yang berada di atas 50 % dan 2 (dua) sampel berada di bawah 50%. Persentase perubahan dalam yang tertinggi adalah 51,33% dan persentase perubahan dalam yyang terendah adalah 05,99%.
5.4. Faktor yang Mendasari Kerusakan Gigi Sampel
Dari sampel yang diteliti, sebagian besar ditemukan beberapa gigi yang berlubang, ini disebabkan oleh beberapa faktor yang mendasarinya, antara lain:
1. Kebiasaan dari anak-anak tersebut tidak menggosok gigi secara teratur.
2. Kebiasaan anak-anak yang malas ke dokter gigi.
3. Kebiasaan anak-anak suka makan coklat dan permen dan setelah makan tidak berkumur atau gosok gigi.
4. Kebiasan anak-anak yang melupakan buah-buahan dan sayuran yang biasa disebut 4 sehat 5 sempurna.
5. Kurangnya wawasan orang tua untuk kesehatan gigi anak-anaknya mulai dari cara menjaga kesehatan gigi anaknya hingga cara menggosok gigi yang benar.

5.5. Upaya yang dilakukan setelah Penelitian
Dari hasil penelitian diatas, peneliti dapat melakukan upaya-upaya berupa memberikan saran pada orang tua siswa dan siswa itu sendiri, antara lain :
1. Membatasi frekuensi minum soft drink dan minuman yang manis-manis
2. Tidak memberikan susu ditengah waktu tidur malam anak
3. Memastikan anak minum susu dan juice menggunakan gelas
4. Mengganti permen dengan aktivitas bermain
5. Mengusahakan anak untuk tidak mengemut makanan
6. Diperlukan melakukan Surface Protector atau pelapis permukaan gigi pada anak yang terdapat garis kehitaman pada gigi belakang anak
7. Mengoleskan CPP-ACP (Krim Calsium Phospat) 2 (dua) kali sehari
8. Untuk anak-anak 2 (dua) tahun keatas menggunakan pasta gigi sedikit saja, seukuran kacang polong. Untuk anak-anak 2 (dua) tahun kebawah, pasta gigi hanya dioleskan tipis
9. Membantu anak untuk menggosok gigi tiap malam sebelum anak tidur
10. Diperlukan penambalan gigi pada gigi anak yang berlubang


BAB VI
PENUTUP

6.1. SIMPULAN
Kesehatan gigi dan mulut anak sangat penting untuk dijaga sejak dini. Sehingga, peran serta dari orang tua sangatlah penting untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut anak. Jadi, peneliti melaksanakan penelitian yang menggunakan instrument Irene’s Donut untuk mengetahui seberapa besar persentase perilaku orang tua siswa untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut baik sebelum perubahan dan sesudah perubahan sikap. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
a. Persentase perilaku orang tua siswa sebelum bersedianya berubah untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut sangatlah buruk, karena sebagian besar presentase perilaku orang tua siswa menuju gigi dan mulut yang sehat dibawah 50% dan presentase perilaku orang tua siswa untuk menuju resiko gigi dan mulut tidak sehat atau rusak di atas 50 %. Jadi, Presentase perilaku orang tua siswa sebelum bersedianya berubah untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut lebih besar persentase perilaku orang tua siswa untuk menuju resiko gigi dan mulut tidak sehat atau rusak dari pada persentase perilaku orang tua siswa untuk menuju gigi dan mulut yang sehat.
b. Persentase perilaku orang tua siswa setelah bersedianya berubah untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut sedikit banyak terjadi perubahan. Sebagian besear persentase perilaku orang tua siswa menuju gigi dan mulut yang sehat lebih besar dari pada persentase perilaku orang tua siswa menuju resiko gigi dan mulut yang tidak sehat atau rusak.
c. Perubahan persentase yang paling besar adalah dari perilaku orang tua siswa menuju gigi dan mulut yang sehat sebelum perubahan sikap adalah 12,55 % ke perilaku orang tua siswa menuju gigi dan mulut yang sehat setelah perubahan sikap adalah 63,88 %. Jadi, jarak perubahan yang paling besar adalah 51,33 %.
d. Perubahan persentase yang paling kecil adalah dari perilaku orang tua siswa menuju gigi dan mulut yang sehat sebelum perubahan sikap adalah 57,89 % ke perilaku orang tua siswa menuju gigi dan mulut yang sehat setelah perubahan sikap adalah 63,88 %. Jadi, jarak perubahan yang paling kecil adalah 05,99 %.
e. Kesehatan gigi dan mulut anak tergantung dari perilaku orang tua anak untuk ikut berperan serta dalam menuju gigi dan mulut yang sehat dan mendampingi setiap perilaku anak.
f. Dengan menggunakan instrument Irene’s Donut, orang tua siswa dapat mengetahui cara-cara untuk mendidik anak-anak mereka untuk menuju gigi dan mulut yang sehat.
g. Setelah penelitian dilakukan, peneliti berupaya untuk memberikan saran kepada orang tua siswa dan siswa itu sendiri berupa saran-saran yang dapat meningkatkan kesehatan gigi dan mulut anak.
6.2. SARAN
Saran yang dapat penulis berikan untuk orang tua siswa, dan siswa itu sendiri, adalah sebagai berikut :
a. Membatasi frekuensi minum soft drink dan minuman yang manis-manis
b. Tidak memberikan susu ditengah waktu tidur malam anak
c. Memastikan anak minum susu dan juice menggunakan gelas
d. Mengganti permen dengan aktivitas bermain
e. Mengusahakan anak untuk tidak mengemut makanan
f. Diperlukan melakukan Surface Protector atau pelapis permukaan gigi pada anak yang terdapat garis kehitaman pada gigi belakang anak
g. Mengoleskan CPP-ACP (Krim Calsium Phospat) 2 (dua) kali sehari
h. Untuk anak-anak 2 (dua) tahun keatas menggunakan pasta gigi sedikit saja, seukuran kacang polong. Untuk anak-anak 2 (dua) tahun kebawah, pasta gigi hanya dioleskan tipis
i. Membantu anak untuk menggosok gigi tiap malam sebelum anak tidur
j. Diperlukan penambalan gigi pada gigi anak yang berlubang


DAFTAR PUSTAKA

Drg.Ny.Itjingningsih, 1991, Anatomi Gigi, Buku Kedokteran , Jakarta.
Edwina A. M. Kidd. Dan Sally Joyston-Bechal, 1991, Dasar-dasar Karies, Buku Kedokteran, Jakarta.
Tarigan, Rasinta, 1990, Karies Gigi, hipokrates, Jakarta.
http://www.pdgi-online.com/v2/index.php?option=com_content&task=view&id=731
http://www.ykgi.or.id/program.html
www.wextra.co.cc
More aboutPERSENTASE PERILAKU ORANG TUA UNTUK MENINGKATKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT ANAK PADA SD NEGERI 5 BATURITI, TABANAN

Pathofisiologi tentang RADANG

Posted by wawan yawarmansyah on Tuesday, June 7, 2011

I. KELAINAN RETROGRESI
A. Atrofi
Atrofi adalah pengecilan dari jaringan tubuh yang telah mencapai ukuran normal.
Mengecilnya alat tubuh tersebut terjadi karena sel-sel spesifik yaitu sel-sel parenchym yang menjalankan fungsi alat tubuh tersebut mengecil.

Macam - macam atrofi :
1. Atrofi fisiologis : alat tubuh yang dapat mengecil atau menghilang sama sekali selama masa perkembangan atau kehidupan . mis: pengecilan kelenjar thymus, ductus omphalomesentricus , ductus thyroglossus.
2. Atrofi Senilis : mengecilnya alat tubuh pada orang yang sudah berusia lanjut (aging process).
3. Atrofi setempat (local atrophy) : atrofi setempat akibat keadaan-keadaan tertentu.
4. Atrofi inaktifitas (Disuse atrophy) : atropi yang terjadi akibat in aktifitas otot-otot

yang mengakibatkan otot-otot tersebut mengecil. Mis. pada kelumpuhan otot akibat hilangnya persarafan seperti pada poliomyelitis (atrophy neurotrofik).
5. Atrofi Desakan (pressure atrophy) : yang terjadi karena desakan yang terus-menerus atau desakan untuk wakru yang lama dan mengenai suatu alat tubuh atau jaringan mis:
• Atrofi desakan fisiologis : pada gusi akibat desakan gigi yang mau tumbuh (pada anak-anak).
• Atrofi desakan patologis : pada sternum akibat aneurisma aorta. Pelebaran aorta di daerah substernal akibat syphilis. Akibat desakan yang tinggi dan terus menerus mengakibatkan sternum menipis.
6. Atrofi Endrokin : terjadi pada alat tubuh yang aktifitasnya bergantung pada rangsang hormon.

Pada sumber lain dikatakan bahwa berdasarkan penyebabnya, atrofi dibagi atas :
1. Atrofi Neurogen : akibat dari kelumpuhan saraf mis. pada orang yang lumpuh.
2. Atrofi Vaskuler : akibat dari gangguan sirkulasi darah, mis. pengecilan otak karena arteriosklerosis, pada usia lanjut.
3. Disuse Atrofi : akibat dari tidak dipergunakan dalam waktu yang lama, mis. pada orangsakit yang harus berbaring lama di tempat tidur.
4. Atrofi Endokrin : akibat dari pengaruh hormon, mis. pengecilan payudara pada wanita lanjut karena produksi hormon yang berkurang.

B. Perbedaan antara atrofi dan hipoplasia
Hipoplasia adalah organ tubuh yang berukuran kecil dan tidak pernah mencapai ukuran yang normal, karena ada gangguan didalam perkembangannya. Misalnya orang China, di mana sejak kecil mereka sudah dibiasakan menggunakan sepatu besi, sehingga kaki mereka kecil tidak pernah mencapai ukuran yang normal.
Jelaslah bahwa antara atrofi (seperti yang sudah dijelaskan terdahulu) dan hipoplasia terdapat perbedaan, di mana pada atrofi pengecilan jaringan tubuh terjadi karena pengecilan sel-sel parenkhim setelah jaringan tubuh tersebut mencapai ukuran normal. Sedangkan pada hipoplasia pengecilan terjadi karena gangguan didalam perkembangannya sehingga tidak pernah mencapai ukuran normal.

C. Gangren
Gangren adalah keadaan yang berawal dari infeksi bakteri yang mengakibatkan iskemik (gangguan sirkulasi) karena bakteri saprofit sehingga jaringan mengalami nekrosa koagulatifa .
Tanda dan gejalanya didasarkan pada jenisnya.
Gangren Kering :
• Daerah nekrotik kering dan hitam
• Batasnya jelas
• Sering terjadi di ekstremitas
• Tempat-tempat yang mudah terjadi penguapan
• Penyempitan lumen-lumen arteri

Gangren Basah :
• Jaringan nekrotik mencair, bengkak dan berwarna hitam kemerahan.
• Disertai dengan infeksi bakteri yang menghasilkan gas berbau busuk.
• Sering pada komplikasi DM, dan terjadi pada alat-alat tubuh yang banyak mengandung cairan karena obstruksi vena dan tempat yang tidak memungkinkan terjadinya penguapan, misalnya pada lambung, paru-paru, tungkai bawah ada obstruksi vena.

D. Nekrosis jaringan pada pasien TBC
Nekrosis jaringan yang ditemukan pada penderita TBC dikenal dengan nama nekrosis kaseosa (Nekrosis Perkijuan).
Infeksi bakteri TBC dapat menimbulkan sarang-sarang nekrosis dengan membentuk suatu masa yang rapuh, berbutir, berlemak, putihkuning seperti keju.

Mikroskopik :
Nampak sebagai masa eosinofilik amorf, tanpa sisa struktur sama sekali.Tempat implantasi basil tuberkel yang paling sering adalah di permukaan alveolar dari parenkhim paru-paru bagian bawah lobus atas atau bagian atas lobus bawah. Reaksi yang ditimbulkan berupa peradangan yang dapat sembuh atau peradangan berlanjut. Peradangan lanjut menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional yang dapat memanjang sehingga membentuk sel tuberkel epitheloid dan terjadi nekrosis bagian sentral lesi yang mengakibatkan terbentuknya suatu bentuk yang relatif padat seperti keju yang disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang mengalami nekrosis kaseosa disertai dengan jaringan granulasi di sekitarnya yang terdiri dari sel epitheloid dan fibroblas yang akan menimbulkan respon yang berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa, membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel. Respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis yaitu pencairan menuju ke bronchus dan akan menimbulkan rongga, masuk ke percabangan tracheobronchial dan dapat terbawa ke paru-paru bagian lain, laryng, telinga tengah, dan usus.

E. Icterus Neonatorum

Pada dasarnya icterus dapat terjadi baik secara fisiologis maupun secara patologis. Icterus fisiologis adalah ikterus yang timbul pada hari ke 2 atau ke 3 kelahiran yang tidak mempunyai dasar patologis, kadar billirubinnya tidak melampaui kadar membahayakan serta tidak menyebabkan kesakitan pada bayi. Sedangkan ikterus patologis mempunyai dasar patologis atau kadar billirubinnya mempunyai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia.

Jenis Ikterus :
• Ikterus Hemolitik: Ditemukan pada penyakit yang disertai hemolisis eritrosit, misalnya anemi hemolitik didapat, sferositosis heriter,sickle cell anemia, malaria, thalasemia, bakteremia, dan lain-lain.
• Ikterus Hepatoseluler : Ditemukan pada penyakit yang disertai kerusakan hati, misalnya hepatitis virus, penyakit Weill, keracunan, dll.
Ikterus Obstruktif : Biasanya disebabkan oleh batu, radang, neoplasma.
Selain yang sudah disebutkan diatas masih ada satu jenis ikterus yang digolongkan kedalam ikterus non hemolitik (nonhemolytic jaundice). Yang termasuk dalam kelompok jenis ini adalah ikterus fisiologik pada nonatus terutama pada prematuritas, sindrom Lucey-Driscoll, penyakit Gilbert, dll. Jadi jelaslah bahwa ikterus neonatorum digolongkan sebagai ikterus fisiologik dalam jenis nonhemolytic.

Mekanisme terjadinya meliputi :
• Peningkatan normal destruksi eritrosit yang menyebabkan produksi bilirubin meningkat.
• Kemungkinan penurunan pengambilan bilirubin oleh sel-sel hepar karena kadar Y & Z anion protein yang rendah.
• Penurunan kecepatan konyugasi bilirubin di hati.
• Penurunan konversi bilirubin menjadi urobilinogen oleh bakteri dalam usus yang akan menyebabkan reabsorbsi bilirubin yang diekskresi lebih banyak (sirkulasi enterohepatik).

Kemungkinan Penyebab
Ikterus timbul pada 24 jam pertama:
• Ketidak-cocokan darah rhesus, ABO atau lainnya.
Infeksi.

Ikterus timbul pada 24 - 72 jam :
• Umumnya ikterus fisiologis.
• Polisitemia
• Hemolisis dari perdarahan tertutup
• Hipoksia
• Dehidrasi asidosis

Ikterus timbul pada > 72 jam sampai akhir minggu I :
• Umumnya infeksi
• Dehidrasi asidosis
• Pengaruh obat-obatan
• Sindroma Criggler-Najjar


kterus timbul pada satu minggu atau lebih :
• Umumnya karena obstruksi
• Hipotiroid
• Breast milk jaundice
• Infeksi
• Hepatitis neonatal
• Galaktosemia

Penanganan
• Periksa kadar bilirubin
• K/P periksa inkompabilitas ABO
1. antagonis Rh
2. test combs
3. darah tepi
• Bayi ditelanjangi
• Mata ditutup dengan kain yang tidak tembus cahaya untuk menghindari kerusakan retina.
• Posisi bayi diubah-ubah; telentang, miring, tengkurap tiap 6 jam bila mungkin (untuk penyinaran yang merata).
• Bayi dengan IVFD, cukup dalam 2 posisi.
• Temperatur badan dipertahankan 36,5 - 37 derajat C.
• Pemasukan cairan diperhatikan sehingga tidak terjadi dehidrasi, bila perlu jumlah ditambah.
• Mata dibuka dan diperiksa di luar cahaya foto terapi (mis. waktu minum).
• Periksa kadar Hb.
• Cek bilirubin tiap 1 - 2 hari selama 3 hari sesudah foto terapi. Lama penyinaran 100 jam.(bila bilirubin serum sudah mencapai 7,5 mg % foto terapi dihentikan).


F. Kasus

Kelainan pada otot penderita merupakan pertanda “Disuse Atrofi” dimana terjadi pengecilan dari jaringan otot yang telah mencapai normal akibat dari tidak digunakan dalam waktu lama. Sedangkan kelainan pada kulit merupakan pertanda adanya terputus perbekalan suplai darah yang tertekan dalam waktu yang lama, sehingga daerah yang terkena menjadi padat/pucat dikelilingi oleh daerah yang Hemorhagik. Nekrosisi ini termasuk Nekrosis Koagulativa (coagulation necrosis).



Upaya preventif kelainan pada otot :
• Dilakukan latihan peregangan otot dan sendi (range of mation) secara teratur baik pasif maupun aktif. berikan penyangga untuk mencegah kontraktur pada telapak kaki, tungkai dan langan.
• Kolaborasi dengan bagian fisioterapi.

Upaya preventif pada kelainan kulit:
• Dilakukan massage pada daerah yang tertekan untuk membantu memperbaiki sirkulasinya dan berikan minyak pelumas/cream.
• Personal hygiene terutama pada daerah kulit yang tertekan harus diperhatikan.
• Merubah posisi tidur secara teratur tiap dua jam sekali.
• Diberikan cicin penyangga anti dikubitus pada kedua tumit, bantal angin pada bokong.
• Perhatikan intake nutrisi yang adekuat.

Prediksi atas pemulihan vitalitas fungsional organ terkait pada penderita :
Bila terapi dan perawatan dilakukan dengan baik maka kemungkinan komplikasi yang timbul dapat dihindari. Komplikasi tersebut antara lain : pneumonia, decubitus, atrofi otot, kontraktur, dll.

Imformasi tambahan yang ingin didapatkan untuk dasar pengelolaan lebih lanjut adalah :
• Data-data laboratorium lengkap (yang menunjang) baik urine, darah.
• Foto rongen
• EMG
Manfaatnya untuk mengetahui kondisi-kondisi organ vital pasien dengan seksama sebagai acuan dalam pelaksanaan terapi dan perawatan pasien lebih lanjut.

G. Penentuan waktu/jam kematian pada kasus

Kasus :
Ditemukan mayat dengan tanda-tanda :
• Tidak ada tanda luka atau kekerasan
• Ditemukan warna merah tua dipunggung
• Anggota badan lemas
• Di daerah perut kanan tampak warna hijau kebiruan

Dalam kasus diatas kita harus mengenal tanda-tanda perubahan-perubahan yang terjadi pada kematian (perubahan post morten). Seorang dikatakan mati apabila jantung tidak berdenyut lagi dan pernafasan juga terhenti. Namun pada akhir-akhir ini dengan kemajuan tehnologi seperti dalam transplantasi berbagai alat tubuh, timbul pertentangan pendapat mengenai saat yang tepat seseorang dapat dinyatakan mati.



Perubahan-perubahan yang terjadi post morten :
1. Algor Mortis : Perubahan suhu badan sehungga suhu badan kurang lebih sama dengan suhu lingkungan . Disebabkan karena metabolisme yang terhenti.
2. Rigor Mortis : Sesudah dua sampai tiga jam akan terjadi kaku mayat akibat terjadi kaku otot karena aglutinasi dan presipitasi protein pada otot. Kaku Mayat biasa menetap 2 - 3 hari dan keudian menghilang (melemas).
3. Liver Mortis : Perubahan warna yang terjadi karena sel-sel darah mengalami hemolisis dan darah turun ke tempat yang lebih rendah (bagian bawah) sehingga mengakibatkan lebam-lebam mayat pada bagian-bagian tersebut.
4. Pembekuan Darah : Terjadi setelah penderita meninggal. Bekuan darah yang terjadi setelah orang meninggal disebut Post Mortem Clot, warnanya merah, elastik/seperti agar-agar (Colour Clot). Bila bekuan darah terbentuknya lambat, maka bekuan darah napak berlapis-lapis, sel darah merah karena lebih berat menjadi lapisan terbawah.
5. Pembusukan (Putrefation) dan autolisis : Jaringan mengalami autodigestion akibat pengaruh fermen-fermen pada tubuh. Pada jaringan tertentu seperti pada mukosa lambung, kandung empedu, autolisis cepat terjadi. Pada umumnya makin tinggi diferensiasi jaringan makin cepat autolisis dibandingkan dengan jaringan penyokong. Pembusukan terjadi akibat masuknya kuman saprofitik. Biasanya kuman ini berasal dari usus. Akibat pembentukan gas H2Z maka jaringan sekitar usus tampak kehijauan.

Pada kasus di atas, berdasarkan data yang ada dapat disimpulkan bahwa mayat tersebut saat ditemukan sudah meninggal lebih dari tiga hari. Hal ini dapat dibuktikan oleh adanya data “mayat sudah dalam kondisi lemas”.




II. PATOGENESIS PENYAKIT DEFISIENSI PROTEIN, KARBOHIDRAT, DAN VITAMIN A.

a. Defisiensi Protein dan Karbohidrat
Defisiensi protein dan karbohidrat dapat mengakibatkan marasmus dan kwashiorkor.

Pada Marasmus :

• Terjadi katabolisme otot dan lemak untuk memlihara metabolisme sehingga pasien nampak hanya kulit pembalut tulang (nampak sangat kurus).
• Albumin serum masih normal maka tidak terjadi oedema.
• Enzim usus normal maka masih dapat mengabsorbsi makanan, sehingga pengobatan relatif lebih mudah.
Pada Kwashiorkor :

• Defisiensi protein kalori terjadi lebih berat.
• Albumin serum menurun sehingga terjadi oedema dan asites.
• Sintesis enzim menurun menyebabkan filli usus atropi sehingga absorbsi makanan sukar.
• Metabolisme terganggu sehingga timbul somnolen, apatis, lesu.
• Terjadi perlemakan hati.


b. Defisiensi Vitamin A

Fungsi fisiologis
Vitamin A mempunyai fungsi penting dalam sejumlah jaringan tubuh manusia. Meliputi adaptasi penglihatan gelap dan terang. Dari beberapa penelitian membuktikan bahwa vitamin mempunyai fungsi lain yang mempengaruhi integritas jaringan kulit, pertumbuhan dan fungsi reproduksi.

Penglihatan
Kemampuan mata untuk beradaptasi terhadap perubahaan cahaya tergantung pada adanya pigmen yang sensitif terhadap cahaya, rhodopsin pada sel batang di retina.
Substansi pembentuk retinal bercampur engan protein opsin membentuk pigmen penglihatan rhodopsin.
Ketika cahaya mengenai retina, rhodopsin terpecah menjadi 2 bagian, opsin dan retinal. Dalam kegelapan komponen-komponen ini bercampur kembali membentuk rhodopsin. Pada keadaan norrmal tersedia lebih dari cukup dalam lapisan pigmen. Disamping sel batang dan sel kerucut untuk penyesuaian yang konstan terhadap berbagai cahaya.
Tetapi bila tubuh kekurang vitamin A, ada sedikit retinal yang mampu membentuk visual purple (rhodopsin).Sel batang dan kerucut menjadi lebih sensitif terhadap perubahaan cahaya, hal ini dapat menyebabkan buta senja.
Kondisi ini dapat disembuhkan dalam waktu setengah jam atau dengan pemberian suntikan vitamin A (retinol) yang siap diubah menjadi retinal dan selanjutnya dapat menjadi rhodopsin.
Sel klerucut pada retinal mengandung pigmen lain ; visual violet yang mempengaruhi penglihatan terhadap warna dan kemampuan untuk melihat dalam cahaya yang terang. Vitamin A juga dibutuhkan sebagai komponen dalam pigmen, tetapi tidak ada fakta yang mendukung bahwa vitamin A dapat menyembuhkan buta senja.

Jaringan Epitel.
Vitamin A mempunyai peranan penting dalam menunjang dan mempertahankan kesehatan, fungsi jaringan epitel yang membentuk pertahanan tubuh primer terhadap infeksi. Jaringan epitel tidak hanya meliputi kulit, tetapi juga meliputi mukosa membran mata, rongga mata, saluran pencernaan dan saluran perkemihan. Fungsi fisiologi Vitamin A dalam mempertahankan integritas jaringan epitel menjadi dasar penelitian yang berhubungan dengan vitamin A ; retenoids dan karotin menjadi awal kanker jaringan epitel. Tampa vitamin A sel-sel menjadi kering, kehitaman secara perlahan mengeras membentuk keratin, prosesnya disebut keratinisasi. Keratin adalah protein yang membentuk jaringan kera dan kering seperti kuku dan rambut. Bila tubuh kekurangan Vitamin a banyak jaringan epitel mengalami keratinisasi.

1. Mata; Kornea menjadi kering dan mengeras, keadaan ini disebut Xeropthalmia. Pada kekurangan vitamin A yang ekstrim akan mempercepat kebutaan. Saluran air mata kering yang menghilangkan fungsi sebagai pembersih dan pelumas yang memungkinkan infeksi mudah terjadi.

2. Saluran Pernafasan; Epitel rambut di rongga hidung menjadi kering, rambut/bulu-bulu menjadi rontok. Pertahanan untuk mencegah masuknya infeksi menjadi kurang. Kelenjar ludah kering dan mulut menjadi kering dan pecah-pecah dan memudahkan organisme masuk.

3. Saluran Pencernaan; Fungsi secresi mukosa membran berkurang, dan jaringan menjadi lepas yang mempengaruhi pencernaan dan absorbsi.

4. Saluran Perkemihan; Jaringan epitelnya rusak timbul masalah-masalah seperti infeksi saluran perkemihan, batu saluran kemih, dan inveksi vagina yang menjadi hal umum.

5. Kulit; Menjadi kering dan bersisik, pustula-pustula kecil/besar, hiperpigmentasi, erupsi papila mungkin terjadi disekitar folikel rambut, keadaan ini disebut hiperkeratosis folliculer.

6. Pembentukan Gigi; Hanya sel-sel epitel tertentu disekitar gigi anak yang tertanam dalam gusi yang masih mudah akan membentuk menjadi organ yang istimewa yang disebut ameloblas. Organ tersebut membentuk email tempat tumbuhnya gigi. Masing-masing sel mengeluarkan produksi dan timbunan substansi pembentuk email yang ahirnya membentuk gigi

Pertumbuhan
Telah diobservasi bahwa defisiensi Vitamin A berhubungan dengan keterlambatan pertumbuhan, tetapi bagaimana mekanisme tersebut belum jelas. Defisiensi biasanya melibatkan banyak faktor, oleh karenanya sulit memisahkan pengaruh spesifik dari nutrisi ini. Untuk alasan tersebut banyak penelitian mangenai vitamin A pada pertumbuhan dilakukan pada hewan-hewan dimana fariabel-fariabelnya dapat dikontrol. kontribusi vitamin A memegang peran yang esensial dalam pertumbuhan tulang dan jaringan lunak, kemungkinannya terjadi melalui efek sintesis protein, mitosis atau stabilitas membran sel.

Reproduksi
Bahan pembentuk retina kecuali asam retinoid dibutuhkan untuk menunjang fungsi normal sistim reproduksi baik pada pria/wanita. Tes pada pemberian makanan binatang, hanya asam retinoid sebagai sumber vitamin A; Kekurangan retinol dan retinoid menyebabkan sterilitas, degenerasi testikuler pada pria, dan absorbsi atau kelainan pembentukan janin pada wanita. Tindakan preventif terhadap timbulnya defisiensi protein karbohidrat dan vitamin A adalah :
• Intake nitrisi yang seimbang sesuai dengan kebutuhan .
• Pemberian Vitamin A dosis tinggi pada balita enam bulan sekali

More aboutPathofisiologi tentang RADANG

cara membuat gambar animasi

Posted by wawan yawarmansyah

1. Anda harus membuat gambar animasi, kalau gak mau pusing buat gambar, anda bisa mencari gambar disini.
2. Copy alamat URL dari gambar tersebut, klik kanan pada gambar => Copy image Location
3. Login ke akun blog anda.
4. Layout => Edit HTML
5. Klik Expand Template Widget, lalu copy kode HTML lama anda ke notepad/catatan lain untuk memback up.
6. Letakan kode berikut ini tepat dibawah kode ]]>

7. Letakan kode berikut ini tepat diatas kode

9. Gantilah http://blogrone.com/ dengan nama blogmu
10. Ganti Mari NeBlog! sesuai keinginan anda. Kata ini muncul pada saat hendak diklik oleh mouse.
11. Ganti 175 dengan tinggi gambar yang sesuai
12. Ganti http://www.nonstopgifs.com/animated-gifs/games/games-animated-gif-002.gif dengan alamat URL sumber gambar
13. Ganti 150 dengan lebar gambar yang sesuai
14. Selesai ..
More aboutcara membuat gambar animasi