Pathofisiologi tentang RADANG

Posted by wawan yawarmansyah on Tuesday, June 7, 2011

I. KELAINAN RETROGRESI
A. Atrofi
Atrofi adalah pengecilan dari jaringan tubuh yang telah mencapai ukuran normal.
Mengecilnya alat tubuh tersebut terjadi karena sel-sel spesifik yaitu sel-sel parenchym yang menjalankan fungsi alat tubuh tersebut mengecil.

Macam - macam atrofi :
1. Atrofi fisiologis : alat tubuh yang dapat mengecil atau menghilang sama sekali selama masa perkembangan atau kehidupan . mis: pengecilan kelenjar thymus, ductus omphalomesentricus , ductus thyroglossus.
2. Atrofi Senilis : mengecilnya alat tubuh pada orang yang sudah berusia lanjut (aging process).
3. Atrofi setempat (local atrophy) : atrofi setempat akibat keadaan-keadaan tertentu.
4. Atrofi inaktifitas (Disuse atrophy) : atropi yang terjadi akibat in aktifitas otot-otot

yang mengakibatkan otot-otot tersebut mengecil. Mis. pada kelumpuhan otot akibat hilangnya persarafan seperti pada poliomyelitis (atrophy neurotrofik).
5. Atrofi Desakan (pressure atrophy) : yang terjadi karena desakan yang terus-menerus atau desakan untuk wakru yang lama dan mengenai suatu alat tubuh atau jaringan mis:
• Atrofi desakan fisiologis : pada gusi akibat desakan gigi yang mau tumbuh (pada anak-anak).
• Atrofi desakan patologis : pada sternum akibat aneurisma aorta. Pelebaran aorta di daerah substernal akibat syphilis. Akibat desakan yang tinggi dan terus menerus mengakibatkan sternum menipis.
6. Atrofi Endrokin : terjadi pada alat tubuh yang aktifitasnya bergantung pada rangsang hormon.

Pada sumber lain dikatakan bahwa berdasarkan penyebabnya, atrofi dibagi atas :
1. Atrofi Neurogen : akibat dari kelumpuhan saraf mis. pada orang yang lumpuh.
2. Atrofi Vaskuler : akibat dari gangguan sirkulasi darah, mis. pengecilan otak karena arteriosklerosis, pada usia lanjut.
3. Disuse Atrofi : akibat dari tidak dipergunakan dalam waktu yang lama, mis. pada orangsakit yang harus berbaring lama di tempat tidur.
4. Atrofi Endokrin : akibat dari pengaruh hormon, mis. pengecilan payudara pada wanita lanjut karena produksi hormon yang berkurang.

B. Perbedaan antara atrofi dan hipoplasia
Hipoplasia adalah organ tubuh yang berukuran kecil dan tidak pernah mencapai ukuran yang normal, karena ada gangguan didalam perkembangannya. Misalnya orang China, di mana sejak kecil mereka sudah dibiasakan menggunakan sepatu besi, sehingga kaki mereka kecil tidak pernah mencapai ukuran yang normal.
Jelaslah bahwa antara atrofi (seperti yang sudah dijelaskan terdahulu) dan hipoplasia terdapat perbedaan, di mana pada atrofi pengecilan jaringan tubuh terjadi karena pengecilan sel-sel parenkhim setelah jaringan tubuh tersebut mencapai ukuran normal. Sedangkan pada hipoplasia pengecilan terjadi karena gangguan didalam perkembangannya sehingga tidak pernah mencapai ukuran normal.

C. Gangren
Gangren adalah keadaan yang berawal dari infeksi bakteri yang mengakibatkan iskemik (gangguan sirkulasi) karena bakteri saprofit sehingga jaringan mengalami nekrosa koagulatifa .
Tanda dan gejalanya didasarkan pada jenisnya.
Gangren Kering :
• Daerah nekrotik kering dan hitam
• Batasnya jelas
• Sering terjadi di ekstremitas
• Tempat-tempat yang mudah terjadi penguapan
• Penyempitan lumen-lumen arteri

Gangren Basah :
• Jaringan nekrotik mencair, bengkak dan berwarna hitam kemerahan.
• Disertai dengan infeksi bakteri yang menghasilkan gas berbau busuk.
• Sering pada komplikasi DM, dan terjadi pada alat-alat tubuh yang banyak mengandung cairan karena obstruksi vena dan tempat yang tidak memungkinkan terjadinya penguapan, misalnya pada lambung, paru-paru, tungkai bawah ada obstruksi vena.

D. Nekrosis jaringan pada pasien TBC
Nekrosis jaringan yang ditemukan pada penderita TBC dikenal dengan nama nekrosis kaseosa (Nekrosis Perkijuan).
Infeksi bakteri TBC dapat menimbulkan sarang-sarang nekrosis dengan membentuk suatu masa yang rapuh, berbutir, berlemak, putihkuning seperti keju.

Mikroskopik :
Nampak sebagai masa eosinofilik amorf, tanpa sisa struktur sama sekali.Tempat implantasi basil tuberkel yang paling sering adalah di permukaan alveolar dari parenkhim paru-paru bagian bawah lobus atas atau bagian atas lobus bawah. Reaksi yang ditimbulkan berupa peradangan yang dapat sembuh atau peradangan berlanjut. Peradangan lanjut menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional yang dapat memanjang sehingga membentuk sel tuberkel epitheloid dan terjadi nekrosis bagian sentral lesi yang mengakibatkan terbentuknya suatu bentuk yang relatif padat seperti keju yang disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang mengalami nekrosis kaseosa disertai dengan jaringan granulasi di sekitarnya yang terdiri dari sel epitheloid dan fibroblas yang akan menimbulkan respon yang berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa, membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel. Respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis yaitu pencairan menuju ke bronchus dan akan menimbulkan rongga, masuk ke percabangan tracheobronchial dan dapat terbawa ke paru-paru bagian lain, laryng, telinga tengah, dan usus.

E. Icterus Neonatorum

Pada dasarnya icterus dapat terjadi baik secara fisiologis maupun secara patologis. Icterus fisiologis adalah ikterus yang timbul pada hari ke 2 atau ke 3 kelahiran yang tidak mempunyai dasar patologis, kadar billirubinnya tidak melampaui kadar membahayakan serta tidak menyebabkan kesakitan pada bayi. Sedangkan ikterus patologis mempunyai dasar patologis atau kadar billirubinnya mempunyai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia.

Jenis Ikterus :
• Ikterus Hemolitik: Ditemukan pada penyakit yang disertai hemolisis eritrosit, misalnya anemi hemolitik didapat, sferositosis heriter,sickle cell anemia, malaria, thalasemia, bakteremia, dan lain-lain.
• Ikterus Hepatoseluler : Ditemukan pada penyakit yang disertai kerusakan hati, misalnya hepatitis virus, penyakit Weill, keracunan, dll.
Ikterus Obstruktif : Biasanya disebabkan oleh batu, radang, neoplasma.
Selain yang sudah disebutkan diatas masih ada satu jenis ikterus yang digolongkan kedalam ikterus non hemolitik (nonhemolytic jaundice). Yang termasuk dalam kelompok jenis ini adalah ikterus fisiologik pada nonatus terutama pada prematuritas, sindrom Lucey-Driscoll, penyakit Gilbert, dll. Jadi jelaslah bahwa ikterus neonatorum digolongkan sebagai ikterus fisiologik dalam jenis nonhemolytic.

Mekanisme terjadinya meliputi :
• Peningkatan normal destruksi eritrosit yang menyebabkan produksi bilirubin meningkat.
• Kemungkinan penurunan pengambilan bilirubin oleh sel-sel hepar karena kadar Y & Z anion protein yang rendah.
• Penurunan kecepatan konyugasi bilirubin di hati.
• Penurunan konversi bilirubin menjadi urobilinogen oleh bakteri dalam usus yang akan menyebabkan reabsorbsi bilirubin yang diekskresi lebih banyak (sirkulasi enterohepatik).

Kemungkinan Penyebab
Ikterus timbul pada 24 jam pertama:
• Ketidak-cocokan darah rhesus, ABO atau lainnya.
Infeksi.

Ikterus timbul pada 24 - 72 jam :
• Umumnya ikterus fisiologis.
• Polisitemia
• Hemolisis dari perdarahan tertutup
• Hipoksia
• Dehidrasi asidosis

Ikterus timbul pada > 72 jam sampai akhir minggu I :
• Umumnya infeksi
• Dehidrasi asidosis
• Pengaruh obat-obatan
• Sindroma Criggler-Najjar


kterus timbul pada satu minggu atau lebih :
• Umumnya karena obstruksi
• Hipotiroid
• Breast milk jaundice
• Infeksi
• Hepatitis neonatal
• Galaktosemia

Penanganan
• Periksa kadar bilirubin
• K/P periksa inkompabilitas ABO
1. antagonis Rh
2. test combs
3. darah tepi
• Bayi ditelanjangi
• Mata ditutup dengan kain yang tidak tembus cahaya untuk menghindari kerusakan retina.
• Posisi bayi diubah-ubah; telentang, miring, tengkurap tiap 6 jam bila mungkin (untuk penyinaran yang merata).
• Bayi dengan IVFD, cukup dalam 2 posisi.
• Temperatur badan dipertahankan 36,5 - 37 derajat C.
• Pemasukan cairan diperhatikan sehingga tidak terjadi dehidrasi, bila perlu jumlah ditambah.
• Mata dibuka dan diperiksa di luar cahaya foto terapi (mis. waktu minum).
• Periksa kadar Hb.
• Cek bilirubin tiap 1 - 2 hari selama 3 hari sesudah foto terapi. Lama penyinaran 100 jam.(bila bilirubin serum sudah mencapai 7,5 mg % foto terapi dihentikan).


F. Kasus

Kelainan pada otot penderita merupakan pertanda “Disuse Atrofi” dimana terjadi pengecilan dari jaringan otot yang telah mencapai normal akibat dari tidak digunakan dalam waktu lama. Sedangkan kelainan pada kulit merupakan pertanda adanya terputus perbekalan suplai darah yang tertekan dalam waktu yang lama, sehingga daerah yang terkena menjadi padat/pucat dikelilingi oleh daerah yang Hemorhagik. Nekrosisi ini termasuk Nekrosis Koagulativa (coagulation necrosis).



Upaya preventif kelainan pada otot :
• Dilakukan latihan peregangan otot dan sendi (range of mation) secara teratur baik pasif maupun aktif. berikan penyangga untuk mencegah kontraktur pada telapak kaki, tungkai dan langan.
• Kolaborasi dengan bagian fisioterapi.

Upaya preventif pada kelainan kulit:
• Dilakukan massage pada daerah yang tertekan untuk membantu memperbaiki sirkulasinya dan berikan minyak pelumas/cream.
• Personal hygiene terutama pada daerah kulit yang tertekan harus diperhatikan.
• Merubah posisi tidur secara teratur tiap dua jam sekali.
• Diberikan cicin penyangga anti dikubitus pada kedua tumit, bantal angin pada bokong.
• Perhatikan intake nutrisi yang adekuat.

Prediksi atas pemulihan vitalitas fungsional organ terkait pada penderita :
Bila terapi dan perawatan dilakukan dengan baik maka kemungkinan komplikasi yang timbul dapat dihindari. Komplikasi tersebut antara lain : pneumonia, decubitus, atrofi otot, kontraktur, dll.

Imformasi tambahan yang ingin didapatkan untuk dasar pengelolaan lebih lanjut adalah :
• Data-data laboratorium lengkap (yang menunjang) baik urine, darah.
• Foto rongen
• EMG
Manfaatnya untuk mengetahui kondisi-kondisi organ vital pasien dengan seksama sebagai acuan dalam pelaksanaan terapi dan perawatan pasien lebih lanjut.

G. Penentuan waktu/jam kematian pada kasus

Kasus :
Ditemukan mayat dengan tanda-tanda :
• Tidak ada tanda luka atau kekerasan
• Ditemukan warna merah tua dipunggung
• Anggota badan lemas
• Di daerah perut kanan tampak warna hijau kebiruan

Dalam kasus diatas kita harus mengenal tanda-tanda perubahan-perubahan yang terjadi pada kematian (perubahan post morten). Seorang dikatakan mati apabila jantung tidak berdenyut lagi dan pernafasan juga terhenti. Namun pada akhir-akhir ini dengan kemajuan tehnologi seperti dalam transplantasi berbagai alat tubuh, timbul pertentangan pendapat mengenai saat yang tepat seseorang dapat dinyatakan mati.



Perubahan-perubahan yang terjadi post morten :
1. Algor Mortis : Perubahan suhu badan sehungga suhu badan kurang lebih sama dengan suhu lingkungan . Disebabkan karena metabolisme yang terhenti.
2. Rigor Mortis : Sesudah dua sampai tiga jam akan terjadi kaku mayat akibat terjadi kaku otot karena aglutinasi dan presipitasi protein pada otot. Kaku Mayat biasa menetap 2 - 3 hari dan keudian menghilang (melemas).
3. Liver Mortis : Perubahan warna yang terjadi karena sel-sel darah mengalami hemolisis dan darah turun ke tempat yang lebih rendah (bagian bawah) sehingga mengakibatkan lebam-lebam mayat pada bagian-bagian tersebut.
4. Pembekuan Darah : Terjadi setelah penderita meninggal. Bekuan darah yang terjadi setelah orang meninggal disebut Post Mortem Clot, warnanya merah, elastik/seperti agar-agar (Colour Clot). Bila bekuan darah terbentuknya lambat, maka bekuan darah napak berlapis-lapis, sel darah merah karena lebih berat menjadi lapisan terbawah.
5. Pembusukan (Putrefation) dan autolisis : Jaringan mengalami autodigestion akibat pengaruh fermen-fermen pada tubuh. Pada jaringan tertentu seperti pada mukosa lambung, kandung empedu, autolisis cepat terjadi. Pada umumnya makin tinggi diferensiasi jaringan makin cepat autolisis dibandingkan dengan jaringan penyokong. Pembusukan terjadi akibat masuknya kuman saprofitik. Biasanya kuman ini berasal dari usus. Akibat pembentukan gas H2Z maka jaringan sekitar usus tampak kehijauan.

Pada kasus di atas, berdasarkan data yang ada dapat disimpulkan bahwa mayat tersebut saat ditemukan sudah meninggal lebih dari tiga hari. Hal ini dapat dibuktikan oleh adanya data “mayat sudah dalam kondisi lemas”.




II. PATOGENESIS PENYAKIT DEFISIENSI PROTEIN, KARBOHIDRAT, DAN VITAMIN A.

a. Defisiensi Protein dan Karbohidrat
Defisiensi protein dan karbohidrat dapat mengakibatkan marasmus dan kwashiorkor.

Pada Marasmus :

• Terjadi katabolisme otot dan lemak untuk memlihara metabolisme sehingga pasien nampak hanya kulit pembalut tulang (nampak sangat kurus).
• Albumin serum masih normal maka tidak terjadi oedema.
• Enzim usus normal maka masih dapat mengabsorbsi makanan, sehingga pengobatan relatif lebih mudah.
Pada Kwashiorkor :

• Defisiensi protein kalori terjadi lebih berat.
• Albumin serum menurun sehingga terjadi oedema dan asites.
• Sintesis enzim menurun menyebabkan filli usus atropi sehingga absorbsi makanan sukar.
• Metabolisme terganggu sehingga timbul somnolen, apatis, lesu.
• Terjadi perlemakan hati.


b. Defisiensi Vitamin A

Fungsi fisiologis
Vitamin A mempunyai fungsi penting dalam sejumlah jaringan tubuh manusia. Meliputi adaptasi penglihatan gelap dan terang. Dari beberapa penelitian membuktikan bahwa vitamin mempunyai fungsi lain yang mempengaruhi integritas jaringan kulit, pertumbuhan dan fungsi reproduksi.

Penglihatan
Kemampuan mata untuk beradaptasi terhadap perubahaan cahaya tergantung pada adanya pigmen yang sensitif terhadap cahaya, rhodopsin pada sel batang di retina.
Substansi pembentuk retinal bercampur engan protein opsin membentuk pigmen penglihatan rhodopsin.
Ketika cahaya mengenai retina, rhodopsin terpecah menjadi 2 bagian, opsin dan retinal. Dalam kegelapan komponen-komponen ini bercampur kembali membentuk rhodopsin. Pada keadaan norrmal tersedia lebih dari cukup dalam lapisan pigmen. Disamping sel batang dan sel kerucut untuk penyesuaian yang konstan terhadap berbagai cahaya.
Tetapi bila tubuh kekurang vitamin A, ada sedikit retinal yang mampu membentuk visual purple (rhodopsin).Sel batang dan kerucut menjadi lebih sensitif terhadap perubahaan cahaya, hal ini dapat menyebabkan buta senja.
Kondisi ini dapat disembuhkan dalam waktu setengah jam atau dengan pemberian suntikan vitamin A (retinol) yang siap diubah menjadi retinal dan selanjutnya dapat menjadi rhodopsin.
Sel klerucut pada retinal mengandung pigmen lain ; visual violet yang mempengaruhi penglihatan terhadap warna dan kemampuan untuk melihat dalam cahaya yang terang. Vitamin A juga dibutuhkan sebagai komponen dalam pigmen, tetapi tidak ada fakta yang mendukung bahwa vitamin A dapat menyembuhkan buta senja.

Jaringan Epitel.
Vitamin A mempunyai peranan penting dalam menunjang dan mempertahankan kesehatan, fungsi jaringan epitel yang membentuk pertahanan tubuh primer terhadap infeksi. Jaringan epitel tidak hanya meliputi kulit, tetapi juga meliputi mukosa membran mata, rongga mata, saluran pencernaan dan saluran perkemihan. Fungsi fisiologi Vitamin A dalam mempertahankan integritas jaringan epitel menjadi dasar penelitian yang berhubungan dengan vitamin A ; retenoids dan karotin menjadi awal kanker jaringan epitel. Tampa vitamin A sel-sel menjadi kering, kehitaman secara perlahan mengeras membentuk keratin, prosesnya disebut keratinisasi. Keratin adalah protein yang membentuk jaringan kera dan kering seperti kuku dan rambut. Bila tubuh kekurangan Vitamin a banyak jaringan epitel mengalami keratinisasi.

1. Mata; Kornea menjadi kering dan mengeras, keadaan ini disebut Xeropthalmia. Pada kekurangan vitamin A yang ekstrim akan mempercepat kebutaan. Saluran air mata kering yang menghilangkan fungsi sebagai pembersih dan pelumas yang memungkinkan infeksi mudah terjadi.

2. Saluran Pernafasan; Epitel rambut di rongga hidung menjadi kering, rambut/bulu-bulu menjadi rontok. Pertahanan untuk mencegah masuknya infeksi menjadi kurang. Kelenjar ludah kering dan mulut menjadi kering dan pecah-pecah dan memudahkan organisme masuk.

3. Saluran Pencernaan; Fungsi secresi mukosa membran berkurang, dan jaringan menjadi lepas yang mempengaruhi pencernaan dan absorbsi.

4. Saluran Perkemihan; Jaringan epitelnya rusak timbul masalah-masalah seperti infeksi saluran perkemihan, batu saluran kemih, dan inveksi vagina yang menjadi hal umum.

5. Kulit; Menjadi kering dan bersisik, pustula-pustula kecil/besar, hiperpigmentasi, erupsi papila mungkin terjadi disekitar folikel rambut, keadaan ini disebut hiperkeratosis folliculer.

6. Pembentukan Gigi; Hanya sel-sel epitel tertentu disekitar gigi anak yang tertanam dalam gusi yang masih mudah akan membentuk menjadi organ yang istimewa yang disebut ameloblas. Organ tersebut membentuk email tempat tumbuhnya gigi. Masing-masing sel mengeluarkan produksi dan timbunan substansi pembentuk email yang ahirnya membentuk gigi

Pertumbuhan
Telah diobservasi bahwa defisiensi Vitamin A berhubungan dengan keterlambatan pertumbuhan, tetapi bagaimana mekanisme tersebut belum jelas. Defisiensi biasanya melibatkan banyak faktor, oleh karenanya sulit memisahkan pengaruh spesifik dari nutrisi ini. Untuk alasan tersebut banyak penelitian mangenai vitamin A pada pertumbuhan dilakukan pada hewan-hewan dimana fariabel-fariabelnya dapat dikontrol. kontribusi vitamin A memegang peran yang esensial dalam pertumbuhan tulang dan jaringan lunak, kemungkinannya terjadi melalui efek sintesis protein, mitosis atau stabilitas membran sel.

Reproduksi
Bahan pembentuk retina kecuali asam retinoid dibutuhkan untuk menunjang fungsi normal sistim reproduksi baik pada pria/wanita. Tes pada pemberian makanan binatang, hanya asam retinoid sebagai sumber vitamin A; Kekurangan retinol dan retinoid menyebabkan sterilitas, degenerasi testikuler pada pria, dan absorbsi atau kelainan pembentukan janin pada wanita. Tindakan preventif terhadap timbulnya defisiensi protein karbohidrat dan vitamin A adalah :
• Intake nitrisi yang seimbang sesuai dengan kebutuhan .
• Pemberian Vitamin A dosis tinggi pada balita enam bulan sekali

More about → Pathofisiologi tentang RADANG

cara membuat gambar animasi

Posted by wawan yawarmansyah

1. Anda harus membuat gambar animasi, kalau gak mau pusing buat gambar, anda bisa mencari gambar disini.
2. Copy alamat URL dari gambar tersebut, klik kanan pada gambar => Copy image Location
3. Login ke akun blog anda.
4. Layout => Edit HTML
5. Klik Expand Template Widget, lalu copy kode HTML lama anda ke notepad/catatan lain untuk memback up.
6. Letakan kode berikut ini tepat dibawah kode ]]>

7. Letakan kode berikut ini tepat diatas kode

9. Gantilah http://blogrone.com/ dengan nama blogmu
10. Ganti Mari NeBlog! sesuai keinginan anda. Kata ini muncul pada saat hendak diklik oleh mouse.
11. Ganti 175 dengan tinggi gambar yang sesuai
12. Ganti http://www.nonstopgifs.com/animated-gifs/games/games-animated-gif-002.gif dengan alamat URL sumber gambar
13. Ganti 150 dengan lebar gambar yang sesuai
14. Selesai ..
More about → cara membuat gambar animasi

Efektifitas Penggunaan Laboratorium Fisika Dalam Menunjang Kegiatan Praktikum di SMAN se-Kabupaten Lombok Tengah Tahun Ajaran 2007/2008

Posted by wawan yawarmansyah on Monday, June 6, 2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Memasuki era globalisasi, ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami kemajuan yang amat pesat yang mendorong setiap negara yang sedang berkembang, termasuk negara Republik Indonesia untuk mengembangkan sistem pendidikan nasional. Kesungguhan pemerintah ini terlihat dari adanya upaya peningkatkan mutu pendidikan, baik yang menyangkut perubahan kurikulum, peningkatan kualitas guru, dan penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran. Menurut Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pelaksanaan pendidikan tidak mungkin terlaksana dengan baik bilamana para tenaga kependidikan, peserta didik, dan kegiatan belajar mengajar tidak didukung oleh sumber belajar yang diperlukan. Salah satu sumber belajar yang sangat penting adalah alat praktik yang membantu guru memperjelas konsep dan melatih keterampilan siswa (Emha, 2002).
Proses belajar dengan menggunakan alat praktik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk dapat melihat, dan melakukan sendiri percobaan di laboratorium, sehingga peserta didik dapat memahami konsep melalui pengamatan dan percobaan secara langsung, meningkatkan kreativitas, dan keterampilan.

Laboratorium merupakan salah satu prasarana pendidikan, yang dapat digunakan sebagai tempat berlatih para siswa dalam memahami konsep-konsep IPA dengan melakukan percobaan dan pengamatan. Dengan demikian, laboratorium IPA-Fisika merupakan bagian yang integral tak dapat dipisahkan dari suatu pengajaran Fisika. Ilmu pengetahuan yang diperoleh dari hasil observasi, eksperimentasi dan harus siap diuji melalui observasi dan eksperimentasi lanjutan. Keberadaan laboratorium IPA-Fisika diperlukan untuk memberikan pengalaman langsung dari aplikasi teori yang diterima melalui kegiatan laboratorium/praktikum, untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di kelas. Praktikum IPA khususnya Fisika tidak hanya terbatas dilaksanakan di ruang laboratorium, tetapi dapat juga dengan memanfaatkan alam melalui kegiatan lapangan.
Berkaitan dengan hal di atas maka peranan laboratorium IPA-Fisika menjadi sangat penting, karena laboratorium merupakan pusat proses belajar mengajar untuk mengadakan percobaan, penyelidikan, atau penelitian dalam bidang IPA. Dengan demikian laboratorium mempunyai fungsi sebagai tempat kegiatan penunjang dari kegiatan kelas, atau sebaliknya kegiatan kelas menjadi penunjang kegiatan laboratorium. Di laboratorium siswa akan memperoleh keterampilan sebagaimana yang diharapakan oleh kurikulum.
Penggunaan laboratorium dapat berjalan secara optimal, apabila terdapat interaksi antara siswa, guru, alat, dan bahan serta waktu yang tersedia dalam pelaksanaan pembelajaran di laboratorium. Guru harus senantiasa membimbing dan menjelaskan hal-hal yang kurang dapat dipahami siswa baik mengenai materi maupun pengoperasiannya dari setiap alat dan bahan praktikum yang dilakukan. Keefektifan interaksi, akan menentukan keefektifan dari suatu laboratorium sebagai tempat dalam melaksanakan kegiatan praktikum.
Dalam Anonim (2003), menyatakan bahwa berdasakan hasil pemantauan dan evaluasi yang telah dilakukan oleh Direktorat Pendidikan Menengah Umum Dan Inspektorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, diperoleh informasi bahwa masih banyak laboratorium Fisika (secara umum laboratorium Ilmu pengetahuan Alam/IPA) yang belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya, bahkan pengelolaan dan pemanfaatannya sebagai sumber belajar belum optimal atau ada yang belum digunakan sama sekali,.masalah tersebut disebabkan oleh berbagai macam factor. Hal ini dapat berakibat, siswa belajar fisika yang bersifat hafalan, sehingga menjadi kurang bermakna dan berdampak pada pembelajaran yang kurang optimal.
Dari hasil observasi, dari 15 SMA negeri yang ada, terdapat 9 sekolah yang mempunyai laboratorium, dan sejauh mana penggunaan laboratorium untuk kepentingan praktikum fisika dalam menunjang kegiatan belajar mengajar di SMAN se-Kabupaten Lombok Tengah tahun 2007 belum ada informasi yang akurat. Hal itulah yang melatar belakangi penulis untuk meneliti tentang Efektifitas Penggunaan Laboratorium Fisika Dalam Menunjang Kegiatan Praktikum di SMAN se-Kabupaten Lombok Tengah Tahun Ajaran 2007/2008.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah penggunaan laboratorium IPA-Fisika dalam menunjang kegiatan praktikum fisika di SMAN se-kabupaten Lombok Tengah sudah efektif ?
2. Hambatan-hambatan apakah yang muncul selama penggunaan laboratorium IPA-Fisika dalam menunjang kegiatan praktikum fisika di SMAN se-kabupaten Lombok Tengah tahun ajaran 2007/2008 ?
3. Upaya-upaya apa yang dilakukan guru untuk mengatasi hambatan tersebut ?

1.3. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui efektifitas penggunaan laboratorium IPA-Fisika di SMAN se-kabupaten Lombok Tengah tahun ajaran 2007/2008.
2. Mengetahui hambatan-hambatan dalam penggunaan laboratorium IPA-Fisika.
3. Mengetahui upaya-upaya yang dilakukan guru dalam mengatasi hambatan tersebut

1.4. Batasan Masalah
Penelitian ini hanya dilakukan di SMA Negeri yang memiliki laboratorium IPA-Fisika se-kabupaten Lombok Tengah tahun ajaran 2007/2008 dengan objek penelitian yang dibatasi pada masalah penggunaan laboratorium IPA-Fisika untuk pengajaran fisika pada semester ganjil yaitu pada kelas X semester 1, kelas XI semester 3, dan kelas XI semester 5.


1.5. Manfaat Penelitian
1. Penelitian ini berguna sebagai informasi awal pelaksanaan kegiatan laboratorium Fisika di SMAN se-kabupaten Lombok Tengah.
2. Sebagai acuan bagi sekolah-sekolah agar lebih meningkatkan efektifitas penggunaan laboratorium IPA-Fisika sehingga dapat digunakan dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh hasil yang maksimal.
3. Sebagai masukan bagi dinas terkait untuk pengembangan laboratorium.

1.6. Definisi Operasional
Efektivitas artinya keberhasilan (Anonim, 2005). Efektifitas dalam hal ini keberhasilan suatu kegiatan praktikum yang dilakukan di laboratorium, sehingga laboratorium yang ada di sekolah digunakan semaksimal mungkin. Keefektifan penggunaan laboratorium dilihat dari beberapa indikator, yaitu frekuensi penggunaan laboratorium, kelengkapan alat-alat yang ada di laboratorium, kesesuaian materi dengan alat yang tersedia di laboratorium dan alokasi waktu yang cukup untuk kegiatan praktikum.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Laboratorium
Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali (Anonim, 2007). Sementara menurut Emha (2002), laboratorium diartikan sebagai suatu tempat untuk mengadakan percobaan, penyelidikan, dan sebagainya yang berhubungan dengan ilmu fisika, kimia, dan biologi atau bidang ilmu lain.
Pengertian lain menurut Sukarso (2005), laboratorium ialah suatu tempat dimana dilakukan kegiatan kerja untuk mernghasilkan sesuatu. Tempat ini dapat merupakan suatu ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka, misalnya kebun dan lain-lain.
Berdasarkan definisi tersebut, laboratorium adalah suatu tempat yang digunakan untuk melakukan percobaan maupun pelatihan yang berhubungan dengan ilmu fisika, biologi, dan kimia atau bidang ilmu lain, yang merupakan suatu ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka seperti kebun dan lain-lain.

2.2. Fungsi Laboratorium
Menurut Sukarso (2005), secara garis besar laboratorium dalam proses pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Sebagai tempat untuk berlatih mengembangkan keterampilan intelektual melalui kegiatan pengamatan, pencatatan dan pengkaji gejala-gejala alam.
2. Mengembangkan keterampilan motorik siswa. Siswa akan bertambah keterampilannya dalam mempergunakan alat-alat media yang tersedia untuk mencari dan menemukan kebenaran.
3. Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakekat kebenaran ilmiah dari sesuatu objek dalam lingkungn alam dan sosial.
4. Memupuk rasa ingin tahu siswa sebagai modal sikap ilmiah seseorang calon ilmuan.
5. Membina rasa percaya diri sebagai akibat keterampilan dan pengetahuan atau penemuan yang diperolehnya.
Lebih jauh dijelaskan dalam Anonim (2003), bahwa fungsi dari laboratorium adalah sebagai berikut :
1. Laboratorium sebagai sumber belajar
Tujuan pembelajaran fisika dengan banyak variasi dapat digali, diungkapkan, dan dikembangkan dari laboratorium. Laboratorium sebagai sumber untuk memecahkan masalah atau melakukan percobaan. Berbagai masalah yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran terdiri dari 3 ranah yakni: ranah pengetahuan, ranah sikap, dan ranah keterampilan/afektif.
2. Laboratorium sebagai metode pembelajaran
Di dalam laboratorium terdapat dua metode dalam pembelajaran yakni metode percobaan dan metode pengamatan

3. Laboratorium sebagai prasarana pendidikan
Laboratorium sebagai prasarana pendidikan atau wadah proses pembelajaran. Laboratorium terdiri dari ruang yang dilengkapi dengan berbagai perlengkapan dengan bermacam-macam kondisi yang dapat dikendalikan, khususnya peralatan untuk melakukan percobaan.

2.3. Peranan Laboratorium Sekolah
Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) guru fisika sangat dituntut dalam kreatifitas membuat alat-alat sederhana yang mampu menjelaskan teori dan konsep fisika, sesuai dengan peralatan yang ada dan kondisi daerahnya agar tervisualisasi sehingga mudah dipahami dan dimengerti siswanya. Untuk itu peranan laboratorium fisika menjadi sangat penting, karena laboratorium merupakan pusat proses belajar mengajar untuk mengadakan percobaan, penyelidikan atau penelitian (Ar1, 2007).
Adapun peranan laboratorium sekolah antara lain :
1. Laboratorium sekolah sebagai tempat timbulnya berbagai masalah sekaligus sebagai tempat untuk memecahkan masalah tersebut.
2. Laboratorium sekolah sebagai tempat untuk melatih keterampilan serta kebiasaan menemukan suatu masalah dan sikap teliti.
3. Laboratorium sekolah sebagai tempat yang dapat mendorong semangat peserta didik untuk memperdalam pengertian dari suatu fakta yang diselidiki atau diamatinya.
4. Laboratorium sekolah berfungsi pula sebagai tempat untuk melatih peserta didik bersikap cermat, bersikap sabar dan jujur, serta berpikir kritis dan cekatan.
5. Laboratorium sebagai tempat bagi para peserta didik untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya (Emha, 2002).

2.4 Pengelolaan Laboratorium
Selama ini pengelolaan laboratorium sekolah belum dapat dilakukan sebagaimana mestinya. Bahkan terkesan ruang laboratorium yang dibangun tidak berfungsi. Tidak sedikit ruangan yang dibangun bagi kegaiatan laboratorium sekolah ada yang berubah fungsi. Tentu saja hal tersebut sangat disayangkan dan merugikan.
Banyak faktor-faktor yang menyebabkan bergesernya laboratorium sebagai tempat untuk mengamati, menemukan, dan memecahkan suatu masalah manjadi ruang kelas ataupun gudang, antara lain :
1. Kurangnya kemampuan dalam mengelola laboratorium sekolah.
2. Kurangnya pemahaman terhadap makna dan fungsi laboratorium sekolah serta implikasinya bagi pengembangan dan perbaikan sistem pembelajaran IPA. Ironisnya keberadaan laboratorium sekolah dianggap membebani sehingga jarang dimanfaatkan sebagai mana mestinya.
3. Terbatasnya kemampuan guru dalam penguasaan mata pelajaran.
4. belum meratanya pengadaan dan penyebaran alat peraga Kit IPA sehingga menyulitkan bagi pusat kegiatan guru untuk menjalankan fungsi pembinaannya kepada para guru (Emha, 2002).
Berdasarkan hasil pemantauan Direktorat Pendidikan Menengah Umum dan Inspektorat Jendral dalam Anonim (2003), Laboratorium IPA-Fisika yang pemanfaatan dan pengelolaannya sebagai sumber belajar yang belum optimal atau tidak digunakan disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:
1. Kemampuan dan penguasaan guru terhadap peralatan dan pemanfaatan bahan praktek masih belum memadai
2. Kurang memadai baik secara kualitas maupun kuantitas tenaga laboratorium
3. Banyak alat-alat laboratorium dan bahan yang sudah rusak yang belum diadakan kembali
4. Tidak cukupnya/terbatasnya alat-alat dan bahan mengakibatkan tidak setiap siswa mendapat kesempatan belajar untuk mengadakan eksperimen.

2.5 Kelengkapan Alat Dan Bahan
Hal ini menuntut para guru fisika membuat lembar kerja siswa yang merangsang siswa untuk bekerja dan mencoba menemukan teori, konsep, rumus fisika sederhana, sehingga mereka dilatih untuk menjadi peneliti-peneliti muda.
Dalam proses belajar mengajar diperlukan berbagai peralatan yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini alat peraga mempunyai peranan yang sangat penting bahkan dapat menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan proses belajar mengajar. Secara garis besar alat peraga, ada yang mudah dibuat dan ada yang sukar dibuat. Alat yang mudah dibuat dinamakan alat peraga sederhana karena dapat menggunakan bahan murah dan mudah didapat dari lingkungan sekitar dan dapat pula dibuat sendiri oleh guru atau bersama-sama dengan peserta didik. Penggunaan dan pembuatan alat peraga sederhana dapat merangsang kreativitas para guru atau peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya dalam membuat alat peraga, sedangkan alat yang sukar akan dibuatkan oleh instansi yang memerlukan dan kemudian disebarkan ke sekolah (Emha, 2002).
Adapun administrasi alat praktek IPA menurut sukarso (2005), terdiri dari beberapa bagian antara lain :
1. Kartu stok adalah untuk mengetahui jumlah alat/bahan yang tersedia di laboratorium dan tempat penyimpanannya
2. Buku inventaris, memuat catatan tentang jumlah semua macam barang yang ada di laboratorium termasuk perabot laboratorium
3. Daftar alat/bahan sesuai LKS
4. Buku harian kegiatan laboratorium berguna untuk merekam semua kejadian dalam kegiatan laboratorium
5. Label, memuat kode alat, nama alat dan jumlah alat dan keterangan mengenai kondisi alat tersebut
6. Format permintaan alat/bahan, biasanya diisi oleh guru bila akan melaksanakan kegiatan laboratorium dan diberikan kepada laboran sebelum kegiatan dilakukan
7. Jadwal kegiatan laboratorium.
2.6 Pelaksanaan Kegiatan Praktikum Fisika
Untuk melaksanakan kegiatan di laboratorium fisika perlu perencanaan yang sistematis agar dapat dicapai tujuan pembelajaran secara optimal. Kegiatan praktikum fisika dapat dilaksanakan di dalam laboratorium atau di luar laboratorium (di lapangan), tergantung pada kepentingannya di dalam membahas konsep dan subkonsep. Dalam hal ini guru fisika dengan pertimbangannya dapat mengetahui alat mana yang dapat di bawa ke lapangan dan mana yang harus ada di laboratorium atau tidak mungkin di bawa ke luar.
Dalam anonim (2003), Langkah-langkah praktis pelaksanaan kegiatan laboratorium fisika adalah sebagai berikut :
1. Guru Fisika pada awal tahun pelajaran dan semester sebaiknya menyusun program semester yang ditanda tangani oleh kepala sekolah. Tujuannya untuk mengidentifikasi kebutuhan alat/bahan serta menyusun jadwal dan untuk keperluan supervisi bagi kepala sekolah.
2. Setiap akan melaksanakan kegiatan laboratorium, guru sebaiknya mengisi format permintaan/peminjaman alat/bahan kemudian diserahkan kepada penanggung jawab teknis laboratorium atau laboran. Ini diperlukan untuk mempersiapkan alat/bahan serta mengecek fungsi tiap-tiap alat.
3. Di laboratorium, guru tidak hanya memberikan bimbingan kepada siswa untuk melakukan eksperimen, tetapi guru dapat pula menyampaikan konsep atau subkonsep non eksperimen, yang memerlukan alat bantu, misalnya cara menggunakan osiloskop.
4. Kegiatan di lapangan juga dapat dilakukan yang merupakan laboratorium alam. Dalam melaksanakan kegiatan di laboratorium alam ini adalah untuk menyampaikan atau menerapkan aplikasi-aplikasi dari materi fisika dalam kehidupan sehari-hari. Guru harus sudah menyiapkan fasilitas, alat seadanya ataupun siap memberikan pemahan konsep tentang aplikasi dari materi.
Kegiatan praktikum fisika dapat dan seharusnya dilaksanakan di laboratorium, baik laboratorium yang disiapkan terlebih dahulu yang dilengkapi dengan segala macam peralatan yang dibutuhkan untuk praktik, dapat pula di laboratorium alam yang memiliki fasilitas seadanya sesuai dengan alam yang ada disekitar sekolah. Laboratorium ini diharapkan dapat menempatkan cara belajar fisika sebagaimana seharusnya yang akan dapat melibatkan siswa belajar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga siswa dapat lebih memahami materi dibandingkan dengan pembelajaran biasa.

2.7 Kerangka Berfikir
Laboratorium merupakan suatu tempat yang digunakan untuk melakukan percobaan maupun pelatihan khususnya yang berhubungan dengan ilmu fisika, yang merupakan suatu ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka seperti kebun dan lain-lain. Kegiatan praktikum fisika dapat dilaksanakan di dalam laboratorium atau di luar laboratorium (di lapangan), tergantung pada kepentingannya di dalam membahas konsep dan subkonsep. Keberadaan laboratorium tersebut jelas merupakan sarana dan prasarana pembelajaran yang dapat memudahkan proses belajar mengajar fisika dari guru kepada siswa. Efektivitas penggunaan laboratorium dalam menunjang kegiatan praktikum, didukung oleh beberapa komponen yang meliputi guru, siswa, alat dan bahan serta waktu yang mencukupi. Kesesuaian dari komponen-komponen tersebut merupakan indikator dari keefektifann laboratorium IPA fisika dalam kegiatan praktikum.


More about → Efektifitas Penggunaan Laboratorium Fisika Dalam Menunjang Kegiatan Praktikum di SMAN se-Kabupaten Lombok Tengah Tahun Ajaran 2007/2008

Sekilas Tentang Saya

Posted by wawan yawarmansyah

   Sedikit tentang saya sebelum menjelaskan tentang isi blog ini, saya sehari-hari adalah orang yang berusaha mencari pengetahuan baru. saya seorang lulusan Pendidikan Fisika di salah satu universitas swasta di Mataram, (bukan Mataram yang ada di Jawa sana, tapi mataram yang ada di pulau lombok). orang di sebelah saya adalah seseorang yang selalu mensupport saya dalam mengarungi hidup ini. (sedikit curhat). kembali kepada isi blog ini, blog ini berisi kumpulan skripsi dan karya ilmiah yang berasal dari teman-teman dan skripsi saya sendiri tentunya, yang sudah pasti skripsi ini sudah lulus uji dari para penguji di beberapa universitas yang ada di Indonesia. melalui blog ini saya cuma ingin memberi refrensi bagi teman-teman yang sedang menempuh skripsi. sehingga bisa di jadikan sumber dan bahan pertimbangan, dalam penyusunan skripsinya.
disini juga saya menyediakan file dalam format PDF, sehingga teman-teman dapat membaca skripsi dan karya ilmiahnya dalam bentuk utuh. 
semua tulisan yang saya POSTING di blog ini adalah kumpulan skripsi yang pernah saya cari untuk penyusunan skripsi saya, dan telah mendapat persetujuan sebelumnya dari pemilik aslinya. silahkan pelajari semuanya. Karena begitu indah bisa berbagi pengetahuan.

More about → Sekilas Tentang Saya

PENGEMBANGAN MISSION PUZZLE UNTUK PEMBELAJARAN IPA FISIKA BERBASIS PAKEM PADA SISWA KELAS IV DI SDN 16 MATARAM TAHUN AJARAN 2006-2007

Posted by wawan yawarmansyah on Sunday, June 5, 2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
IPA merupakan pengetahuan tentang alam sekitar kita. IPA untuk tingkat dasar terdiri atas Biologi dan Fisika. Fisika sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu pelajaran yang sudah mulai diajarkan pada anak Sekolah Dasar (SD) kelas rendah dengan memakai istilah sains.
Banyak siswa takut dengan pelajaran fisika. Fisika dianggapnya sebagai pelajaran yang sulit dan memusingkan. Padahal, fisika merupakan pelajaran yang sangat menarik. Banyak hal yang terlihat aneh dan unik dapat dijelaskan dengan konsep-konsep fisika dengan mudah.
Agar siswa menyenangi dan menyukai fisika maka guru perlu mengembangkan berbagai pendekatan dan metode yang bervariasi sehingga siswa akan terhindar dari rasa bosen dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Guru hendaknya mengajar dengan menggunakan pendekatan yang dapat meningkatkan aktifitas dan kreatifitas siswa
sehingga siswa itu terlatih dan termotivasi dalam belajar.
Salah satu pendekatan pembelajaran yang sudah digunakan dalam pembelajaran di sekolah yaitu pendekatan yang berbasis PAKEM atau pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Pemilihan sekolah dasar didasarkan atas pertimbangan bahwa secara psikologis, anak-anak sekolah dasar masih berada pada kondisi “suka bermain”, sehingga pembelajaran yang divariasikan dengan permainan akan lebih disukai.
Jenis permainan yang bisa dimanfaatkan di sini adalah permainan mission puzzle yang dapat dikembangkan sebagai media pembelajaran IPA-FISIKA yang berbasis PAKEM. Agar tidak mengganggu aktifitas pembelajaran formal di kelas, permainan ini juga bisa diberikan di luar jam kelas sebagai pembelajaran tambahan atau dikenal dengan pembelajaran suplemen.
Permainan mission puzzle merupakan salah satu variasi dari permainan puzzle tetapi pada permainan ini kita menyisipkan misi-misi tertentu yang harus dipecahkan oleh siswa tersebut. Permainan ini tidak hanya sekedar sebagai alat untuk bermain saja tapi bisa dimanfaatkan untuk mengasah otak dan menambah wawasan/pengetahuan bagi siswa, karena permainan ini sarat dengan materi pembelajaran yang ingin disampaikan kepada siswa.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas,maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah mengembangkan mission puzzle sebagai media pembelajaran IPA-FISIKA?
2. Bagaimanakah respon siswa SD Negeri 16 Mataram terhadap model permainan mission puzzle untuk pembelajaran IPA-FISIKA?
3. Bagaimanakah prestasi (peningkatan pengetahuan) dan motivasi belajar siswa kelas IV di SDN 16 Mataram tahun ajaran 2006/2007?
1.3 Hipotesis
1. Ha (hipotesis alternatif): permainan mission puzzle (fisika) berpengaruh terhadap peningkatan prestasi (peningkatan pengetahuan) dan motivasi belajar siswa kelas IV SDN 16 Mataram tahun ajaran 2006/2007.
2. Ho (hipotesis awal): permainan mission puzzle (fisika) tidak berpengaruh terhadap peningkatan prestasi (peningkatan pengetahuan) dan motivasi belajar siswa kelas IV SDN 16 Mataram tahun ajaran 2006/2007.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengembangkan mission puzzle sebagai media pembelajaran IPA-FISIKA.
2. Mencari tahu respon siswa SDN 16 Mataram terhadap permainan mission puzzle untuk pembelajaran IPA-FISIKA.
3. Mengetahui pengaruh permainan mission puzzle terhadap peningkatan prestasi (peningkatan pengetahuan) dan motivasi belajar siswa kelas IV SDN 16 Mataram tahun ajaran 2006/2007.
1.5 Batasan Masalah
Untuk menghindari luasnya ruang lingkup penelitian, maka batasan masalah pada penelitian ini adalah:
1. Siswa yang diteliti adalah siswa kelas IV semester kedua SDN 16 Mataram tahun ajaran 2006/2007.
2. Penelitian ini hanya berfokus pada pengembangan mission puzzle (fisika) sebagai media pembelajaran yang berbasis PAKEM dan juga bagaimana pengaruhnya terhadap prestasi serta mengetahui respon mereka terhadap pendekatan pembelajaran ini.
3. Media pembelajaran ini bisa disajikan dalam pembelajaran formal maupun pembelajaran non-formal.
4. Materi permainan mission puzzle (fisika) mengacu pada silabus pengetahuan sains untuk sekolah dasar pada kelas IV khususnya materi/ bab “ Benda dan sifatnya “ serta “ Bumi dan permukaannya “.
1.6 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:
1. Bagi Mahasiswa
Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan pola fikir dan daya kreativitas mahasiswa FKIP sebagai calon guru khususnya mahasiswa fisika dalam mengembangkan media pembelajaran yang inovatif, menarik, dan kreatif sebagai salah satu upaya dalam peningkatan kualitas pengajaran.
2. Bagi Guru
Media pembelajaran dengan menggunakan mission puzzle fisika ini diharapkan bisa dijadikan sebagai alternatif lain dalam melaksanakn kegiatan belajar mengajar, sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi lebih efektif.
3. Bagi Siswa
Kehadiran permainan mission puzzle fisika ini diharapkan dapat dijadikan sebagai motivator dan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar dan alternatif permainan yang menarik serta konstruktif di sekolah.

1.7 Definisi Operasional
Untuk memudahkan memahami isi penelitian ini perlu didefinisikan beberapa istilah sebagai berikut:
1. Permainan mission puzzle merupakan suatu bentuk media pembelajaran yang berbasis permainan yang bisa mengasah dan menambah wawasan tentang pengetahuan fisika dan juga tokoh-tokoh ilmuan fisika..
2. PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) yaitu pendekatan pembelajaran yang bertujuan untuk menciptakan suatu lingkungan belajar yang lebih melengkapi peserta didik dengan keterampilan-keterampilan, pengetahuan dan sikap bagi kehidupannya kelak (Depdiknas, 2004).
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadaan alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, atau hal-hal yang dijadikan bahan belajar (Dimyati dan Mudjiono,2006:7).
Belajar merupakan usaha sadar yang dilakukan individu atau manusia untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan dalam interaksinya dengan lingkungan. Perubahan tingkah laku hasil belajar bersifat positif. Misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi terampil dan lain-lain. Di samping itu, hasil belajar tidak hanya menyangkut pengetahuan, tetapi juga berkaitan dengan sikap dan keterampilan. (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1104/29/0314.htm).
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang dilakukan oleh seseorang/individu untuk memperoleh pengetahuan/keterampilan yang dengan pengetahuan/keterampilan itu ia bisa menjadi pribadi manusia seutuhnya yang menyangkut unsur cipta, rasa, karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pengetahuan tersebut bisa berasal dari alam sekitar baik itu keadaan alam dan sebagainya.
2.2 Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti “tengah”, “perantara”, atau “pengantar”.
Gerlach dan Ely (1971) dalam Arsyad (2000) mengatakan bahwa “ media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap”.
Media bisa diistilahkan sebagai suatu obyek yang bisa digunakan untuk menyampaikan/mengantarkan pesan-pesan atau informasi khususnya dalam hal ini pesan-pesan/informasi pengajaran. Media pembelajaran ini bisa berbentuk apa saja asalkan itu masih berkaitan dengan kegiatan pembelajaran.
2.3 Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan suatu gambaran dari penguasaan kemampuan para peserta didik sebagaimana telah ditetapkan untuk suatu pelajaran tertentu.Setiap usaha yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran baik oleh guru sebagai pengajar , maupun oleh peserta didik sebagai pelajar bertujuan untuk mencapai prestasi yang setinggi - tingginya. Berdasarkan batasan pengertian prestasi belajar tersebut , dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar Fisika adalah hasil yang telah dicapai siswa melalui suatu kegiatan belajar Fisika.Kegiatan belajar dapat dilakukan secara individu maupun dan secara kelompok (http://artikel.us/art05-57.html.).
Prestasi juga bisa diistilahkan sebagai hasil atau tolak ukur dari suatu kegiatan pembelajaran apakah kegiatan tersebut berhasil/telah mencapai target/tujuan yang ingin dicapai. Prestasi belajar yang dicapai oleh siswa biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mengakibatkan prestasi belajar mereka ada yang tinggi dan ada yang rendah.


Perkembangan Kemampuan Berfikir Anak Tingkat Sekolah Dasar
Menurut Jean Piaget, anak usia SD tergolong pada tahap concrete-operational. Pada fase ini kemampuan berpikirnya masih bersifat intuitif, yakni berpikir dengan mengandalkan ilham.
Dalam periode ini, anak memperoleh tambahan kemampuan yang disebut system of operations (satuan langkah berpikir). Kemampuan satuan langkah berpikir ini berfaedah bagi anak untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri. Anak sudah berkembang ke arah berpikir konkrit dan rasional. Piaget menamakannya sebagai masa operasi konkrit, masa berakhirnya berpikir khayal dan mulai berpikir konkrit.
Dalam intelegensi operasional anak yang sedang berada pada tahap kongkret operasional terdapat sistem operasi kognitif yang meliputi;
1) conservation
2) addition of classes
3) multiplication of classes
Conservation adalah kemampuan anak dalam memahami aspek-aspek kumulatif materi, seperti volume dan jumlah. Anak yang mampu mengenali sifat kuantitatif sebuah benda akan tahu bahwa sifat kuantitatif benda tersebut tidak akan berubah secara sembarangan.
Addition of classes adalah kemampuan anak dalam memahami cara mengkombinasikan beberapa golongan benda yang dianggap berkelas lebih rendah, dan menghubungkannya dengan benda yang berkelas lebih tinggi. Di samping itu, kekampuan ini juga meliputi kecakapan memilah-milah benda-benda yang tergabung dalam sebuah benda yang berkelas tinggi menjadi benda-benda yang berkelas rendah.
Multiplication of classes yakni kemampuan yang melibatkan pengetahuan mengenai cara mempertahankan dimensi-dimensi benda untuk membentu gabungan golongan benda. Selain itu, kemampuan ini juga meliputi kermampuan memahami cara sebaliknya, yakni cara memisahkan gabungan golongan benda-benda menjadi dimensi-dimensi tersendiri. (http://www.dikdasdki.go.id/download/standarbuku/ips.doc).
2.5 Model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan
( PAKEM).
PAKEM bertujuan untuk menciptakan suatu lingkungan belajar yang lebih melengkapi peserta didik dengan keterampilan-keterampilan, pengetahuan, dan sikap bagi kehidupannya kelak (Depdiknas,2004).
Aktif diartikan peserta didik maupun guru berinteraksi untuk menunjang pembelajaran. Guru harus menciptakan suasana sehingga peserta didik aktif bertanya, memberikan tanggapan, mengungkapkan ide dan demonstrasikan gagasan atau idenya.
Kreatif diartikan guru memberikan variasi dalam kegiatan belajar-mengajar dan membuat alat bantu mengajar, bahkan menciptakan teknik-teknik mengajar tertentu sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik dan tujuan belajarnya. Peserta didik akan kreatif, bila diberi kesempatan merancang/membuat sesuatu, menuliskan ide dan gagasan.
Efektif yang diartikan sebagai ketercapaian suatu tujuan (kompetensi) merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. Pembelajaran yang nampaknya aktif dan menyenangkan, tetapi tidak efektif akan hanya sekedar permainan belaka dan tanpa belajar (Depdiknas,2004).
Menyenangkan diartikan sebagai suasana belajar-mengajar yang “hidup” semarak, terkondisi untuk terus berlanjut, ekspresif, dan mendorong pemusatan perhatian peserta didik terhadap belajar. Agar menyenangkan, diperlukan afirmasi (penguatan,penegasan), memberi pengakuan dan merayakan kerja kerasnya dengan tepuk tangan, poster umum, catatan pribadi, atau saling menghargai (Depdiknas,2004).
Pengertian permainan mission puzzle
Menurut Sudjana (2001) dalam Khaerani (2006),” Permainan (game) digunakan untuk menyampaikan informasi kepada peserta didik dengan menggunakan simbol-simbol atau alat-alat komunikasi lainnya”.Setiap permainan memiliki empat kelompok komponen utama, yaitu: adanya pemain, lingkungan di mana pemain berinteraksi, aturan main, dan tujuan-tujuan tertentu yang ingin dicapai.
Permainan puzzle adalah sebuah permainan konstruksi melalui kegiatan memasang atau menjodohkan kotak-kotak, atau bangun-bangun tertentu sehingga akhirnya membentuk sebuah pola tertentu. Apabila kotak atau bengun tertentu tersebut dimuati dengan konsep-konsep sains sehingga untuk memasangkannya diperlukan pengetahuan tentang sains itu, maka puzzle tersebut menjadi salah satu media pembelajaran yang inovatif dan berbasis pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Permainan mission puzzle adalah salah satu bentuk permainan yang dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan informasi berupa materi IPA-FISIKA melalui pertanyaan-pertanyaan konsep atau subkonsep dalam fisika. Selain pertanyaan-pertanyaan yang terdapat didalamnya terdapat materi tambahan yaitu mengenai nama dan gambar ilmuan tokoh fisika yang dapat diketahui dari pertanyaan misi yang ada dalam permainan tersebut.
More about → PENGEMBANGAN MISSION PUZZLE UNTUK PEMBELAJARAN IPA FISIKA BERBASIS PAKEM PADA SISWA KELAS IV DI SDN 16 MATARAM TAHUN AJARAN 2006-2007