LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK PADA KASUS DIABETES MILLITUS

Posted by wawan yawarmansyah on Friday, June 3, 2011

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
PADA KASUS DIABETES MILLITUS

Diabetes mellitus merupakan suatu gangguan sistem endokrin yang sering menyerang anak usia sekolah.

PATHOGENESIS
Disfungsi dari sel – sel beta pulau langerhans di panereas yang dapat disebabkan oleh adanya tumor, pangkreatitis, penggunaan Corticosteroid yang akan mengganggu sekresi insulin. Tiga efek utama gangguan / kekurangan insulin :
Pengurangan penggunaan glukosa oleh sel – sel tubuh dengan akibat peningkatan konsentrasi glukosa darah.
Peningkatan nyata mobilisasi lemak dari daerah – daerah penyimpanan lemak menyebabkan kelainan metabolisme lemak maupun pengendapan lipid pada dinding vaskuler.
Pengurangan protein dalam jaringan tubuh. Dapat juga defisit insulin akan terjadi perubahan metabolic : Transport glukosa yang melintasi membran sel – sel berkurang. Glikogenesis berkurang dan tetap terdapat kelebihan glukosa dalam darah
Glikolisis meningkat sehingga cadangan glikogen berkurang dan glukosa hati dicurahkan kedalam darah secara terus menerus melebihi kebutuhan.
Glukoneogenesis meningkat dan lebih banyak lagi glukosa hati yang tercurahkan kedalam darah dari hasil pemecahan asam amino dan lemak sehingga menyebabkan konsetrasi glukosa melebihi ambang ginjal, maka timbul glukosuria. Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang meningkatkan pengeluaran urine (poli uri) akan timbul rasa haus (polidipsi), karena kalori negatif dan berat badan berkurang rasa lapar semakin besar (palipagi) mungkin timbul sebagai akibat kehilangan kalori.
Pada anak Diabetes terjadi rata – rata, penurunan produsi insulin akan berakibat penurunan kemampuan memperoleh energi yang berasal dari nutrisi yang dibutuhkan
oleh anak. Karena kehilangan berat badan dan pertumbuhan yang lambat, gabungan kegagalan akan memambah berat badan dan mengurangi energi secara tiba – tiba yang akan membawa perhatian kesehatannya seberapa jauh. Anak mungkin melihat kesehatannya dari gejala sampai terlihat jelas.
Gejala – gejala tersebut biasanya disertai dengan penurunan berat badan atau kegagalan untuk memambah berat badan dan kekurangan energi. Gejalanya biasanya terjadi secara tiba – tiba. Jika seorang anak tidak tampak adanya gejala, dan mengarah kediagnos, mungkin gangguan tersebut akan berkembang pada asidosis Diabetes karena tidak adekuatnya produksi insulin, karbohidrat tidak dapat dipakai sebagai bahan bakar penghasil energi, kemudian lemak dimobilisir untuk energi yang proses oksidasinya tidak lengkap, akan menghasilkan ketone bodies (acetone, acid diacetid, oxybatyric acid) terjadi penumpukan keton bodies siap di ekskresi ke dalam urine, tetapi di dalam ekresi akan menyebabkan gangguan keseimbangan cairan yang menyebabkan acidosis dengan karakteristik.

GEJALA
Pada timbul dibetes mellitus ada rasa haus, penurunan berat badan, kencing banyak, lesu dan ngompol waktu malam. Gejala – gejala ini mampak selama beberapa minggu.
Ketoasidosis yang nampak pada anak harus diperlakukan sebagai keadaan gawat dan anak harus dirawat dirumah sakit.
Insulin komponen tunggal berisi porsin murni (misalnya Actrapid MC atau Leo Neutral) diberikan melalui infus pelan menggunakan pompa infus yang memberikan 2,5 atau 5 unit perjam secara teratur tergantung usia anak. NaCl 0,9  diberikan secara intravena sampai gula darah mendekati harga normal (11 mmo1/1) kemudian diganti dengan NaCl 0,45 % ditambah Dekstrosa 5 %. Natrium bikarbonat dan garam kalium ditambahkan bila perlu.
Pada penyembuhan secara bertahap diberikan diet yang sesuai tergantung usia anak. Insulin diberikan sesuai hasil pemeriksaan air kencing sebelum makan. Dalam waktu singkat anak makan seperti biasa dan dapat dimulai dengan insulin “ long acting “ sebagai pengobatan pemeliharaan.
Rapitard MC (Novo) 1 atau 2 kali sehari atau gabungan seperti :
Monotard MC (Novo) + Actrapid MC (Novo) pagi hari atau
Leo Retard + Leo Neutral pada pagi hari
Anak usia 6 tahun keatas dapat diajar memakai insulinnya dengan pengawasan ibunya. Tempat suntikan dipindah setiap hari dari depan / sisi lateral pada mengikuti pola tertentu. Mereka harus memeriksa air kencing mereka setengah jam sebelum makan. Kandung kencing harus dikosongkan setengah jam sebelum mendapatkan bahan pemeriksaan yang menggambarkan glukosa darah waktu itu.
Glukose merupakan sumberenergi utama untuk sel. Insulin merupakan fasilitas peningkatan glukosa intravaskuler melalui muskulus dari cell lemak, memfasititasi penyimpanan glukosa menjadi glikogen didalam liver dan sel muskulus dan secara tidak langsung mencegah metabolisme lemak, kekurangan insulin berperan penting terjadinya hyperglikemia karena glucosa intravascular tidak akan masuk ke dalam sel. Lever merespon kekurangan glukosa intraselluler melalui glukoncogenesis dan glyconolysis dan lebih lanjut akan memperberat hyperglikemia. Hyperglikemia menyebabkan diuresis osmotic yang berlanjut kehilangan cairan ekektrolit dan rata – rata akan terjadi dehidrasi.
Ketidakmampuan glukosa masuk ke sell, memacu katabolise di proses katabolisme tubuh menggunakan lemak dan protein sebagai energi dan walaupun intake makanan meningkat terjadi penurunan berat badan. Ketika lemak digunakan sebagai energi, liver merubah peningkatan lemak bebas didalam darah menjadi ketone bodies. Penumpukan sirkulasi akumulasi keton bodies akan mempengaruhi PH darah yang akan mempengaruhi ketoacidasi. Selama acidosis potassium (kalium) tubuh menurun secara signifikan. Tanda – tanda kenaikan aceton dan ketoacid ialah pernafasan berbau buah – buahan, kussmaul, nyeri abdominal, muntah. Saat terjadi muntah cairan banyak keluar dan terjadi gangguan keseimbangan dan diperlukan peningkatan intake, dan kondisi anak dapat lebih cepat memburuk.
Anak dengan diabetes dengan riwayat poliuri, polidipsi, poliphagia dan penurunan berat badan, banyak yang mengalami ketoacidosis. Anak dengan diabetes ketoacidosis dengan tanda – tanda klasik dan hyperglikemia (glokusa darah lebih dari 300 mg / dl), ketonemia, acidosis / PH < 7.30, bicarbnat < 15 mEq / 1, glucosuria, ketonuria. Fokus treatment anak dengan diabetes keseimbangan metabolisme. Treatment jangka panjang berusaha untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal dan memberi tekanan tidak bergantung dan mengurangi efek psychososial. Treatment termasuk pendidikan anak dan keluarga untuk monitoring glukosa, pemberian insulin, diet, exercise, management, hyperglydemia dan hypoglikemia. DIAGNOSIS Hati – hati obsevasi gejala / tanda di dalam anggota keluarga yang mempunyai riwayat Diabetes, misalnya frekwensi BAK, rasa haus, kehilangan berat badan dan yang merupakan reseko tinggi diharapkan untuk secara rutin periksa, dengan finger stickglucose monitoring atau test glicosuria apabila level glukosa darah > 200 mg / dl atau glycosuria, dan adanya tanda poliuria dan penurunan berat badan, polipagia.
Walaupun test toleransi glukosa dapat menggambarkan Diabetes pada dewasa, tidak dapat digunakan untuk anak – anak. Test oral glukosa toleransi sering tidak cocok / mendapatkan sukses pada anak karena mereka memuntahkan glukosa padat / pekata yang seharusnya ditelan.
Treatment untuk anak diabetes melibatkan keluarga anak dan tim kesehatan (perawat, gizi, dokter). Setelah anak terdiagnosa Diabetes, untuk beberapa waktu akan masuk rumah sakit, sampai keadaan stabil dibawah supervisor. Untuk beberapa saat perawat harus memahami perasaan emosi klien.
Reaksi insulin yaitu shock. Hipoglikemia, karena kebanyakan insulin akan mengakibatkan kecepatan metabolisme glukosa di dalam tubuh, saat terjadi perubahan di dalam tubuh yang seharusnya dengan syarat, kesembronoan dalam diet, kesalahan dalam pengukuran insulin atau berlebihan exercise karena Diabetes pada anak mudah labil. Tanda hypoglikemia irritabilitas, diaphoresis, mengantuk, perubahan tingkat kesadaran. Tanda hyperglikemia : polipagia, poliuri, membran mucosa kering, letargi, perubahan tingkat kesadaran.
Pada anak – anak reaksi insulin sering terjadi lebih pagi, oleh karena itu dibutuhkan observasi lebih dini selama malam hari ( setiap 2 jam ). Oleh karena itu monitoring glukosa darah harus dilakukan lebih pagi khususnya bila di Rumah Sakit.
Teatment bila terjadi reaksi insulin, anak diberikan gula, permen, orenge juice atau salah produk yang digunakan untuk penanganan emergency lalu konsultasi dokter bila anak tidak dapat peroral, dapat diberikan glikogen subcutan untuk meningkatkan glukosa darah. Glukogon adalah hormon yang dihasilkan oleh sel beta di pancreas, dimana peninggian kadar glukosa darah akan membebaskan insulin ( pada normalnya orang ) tetapi glukosa darah menurun statimulasi pembebasan glikogen. Pembebasan glukoge di dalam darah akan meningkatkan penghancuran glukogen dihati dan glukosa dihasilkan.

ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian :
Penurunan berat badan
Appetiti
Polydipsia
Dehidrasi
Irritablity
Kelemahan
Tinggi badan, berat badan
Kelembaban kulit
Turgor
Tanda – tanda vital
Kolekting urine spesimen
Gukosa darah meningkat
Perkembangan anak usia sekolah.


Psikososial :
Dapat menyelesaikan tugas – tugasnya sampai menghasilkan sesuatu
Belajar bersaing dan koperatif dengan orang lain

Psikoseksual :
Berorentasi pada sosial, kelompok bermain
Mulai berkembang intelektual dan socsal

Intelektual :
Mulai berpikir logis, terarah, dapat mengelompokkan fakta –fakta berfikir abstrak
Mengatasi masalah secara nyata dan sistematis.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko injuri berhubungan dengan kekurangan insulin
2. Tidak efektifnya koping keluarga ; kompromi berhubungan dengan perawatan rumah dalam mencegah hypo dan hyperglikemia
3. Ketakutan anak berhubungan dengan pemberian insulin
4. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari berhubungan dengan, penurunan produksi insulin
5. Resiko infeksi berhubungan dengan gangguan sirkulasi / sensori
6. Kecemasan anak / keluarga berhubungan dengan diagnosis diabetes dan komplikasi
7. Gangguan selfesteem berhubungan dengan penyakit kronik dan ketergantungan insulin

PERENCANAAN DAN IDENTIFIKASI OUT COME
Tujuan secara garis besarnya adalah :
Mencegah injuri dan infeksi
Eliminir ketakutan saat pemberian insulin
Maintenance nutrisi yang adekuat
Self konsep yang positif
Tidak bergantung
Untuk keluarga menjaga agar anak tidak terjadi hipoglikemia, pemberian insulin nutrisi untuk anak
Untuk anak agar dapat belajar merawat diabet supaya terhindar dari komplikasi.



Mencegah injuri
Monitoring level glukosa darah; 2 kali sehari, sebelum makan pagi dan makan malam
Membantu expresikan perasaan ketakutan saat dilakukan test glukosa darah ( finger stick )
Fase sekolah ; Industri  tertarik dengan informasi agar anak kooperatif
Monitor tanda – tanda hiperglikemia

Meningkatkan koping keluarga dalam manajemen hypoglikemia dan hyperglikemia
Pendidikan / HE tentang tanda – tanda hypoglikemia dan hyperglikemia dan bagaimana penanganan seperlunya untuk mengatasi
Cara penanganan apabila gula darah < 60 mg/dl, juice, gula, soda non diet, apabila glukosa tidak dicek beri karbohidrat simple apabila ada tanda hipoglikemia Apabila anak mendapat therapi glukagon atau dextrose dari dokter, ajari bagaimana pemberian glukagon secara intra muscular Anjurkan anak membawa bekal dan dimakan apabila ada tanda – tanda hipoglikemia (bekalnya karbohidrat complex misalnya cake, crakers, roti, kacang dan sebagainya ) Catat pola terjadinya hipoglikemia dan buat jadwal rencana pengambilan keputusan agar tidak terjadi hipoglikemia Apabila anak mengalami sakit ( panas, infeksi, muntah, mual, tidak mau makan ) hubungi dokter Ajari cara pemberian insulin secara subcutan Memastikan tepat dan adekuatnya nutrisi Melibatkan anak dalam rencana pemberian nutrisi Membantu anak agar ikut terlibat dalam program diet Apabila anak akan pulang terlambat untuk makan siamg dianjurkan membawa makanan karbohidrat komplek Anjurkan anak agar dapat bagaimana mengatasi makan di sekolah dan lingkungan sosial Mencegah infeksi dan kerusakan kulit Ajarkan cara mengobservasi, tentukan kulit setiap hari ( setelah mandi ) biasanya yang mudah mengalami kerusakan pada lipatan – lipatan ( axilla, paha ) Perhatikan penggunaan sepatu yang baik Observasi kedua kaki untuk pecah –pecah, potong kuku sesuai garis, gunakan kaos kaki yang bersih dan jangan tidak menggunakan pengalas kaki Infeksi yang sering adalah sistem urinary dan sistem respirasi atas ajarkan mengenal tanda – tanda infeksi urinary ; gatal, rasa panas pada sistem urinary bila terjadi hubungi dokter Mengurangi kecemasan anak dan keluarga Anjurkan kepada anak dan keluarga untuk mengungkapkan perasaannya ( rasa bersalah, marah, penolakan ) Anjurkan banyak membaca untuk menambah pemahaman tentang penyakitnya Berikan informasi yang jujur dan jelas Meningkatkan self care dan self esteem yang positif Anjurkan untuk saling mengunjungi antar anak yang sakit Menjelaskan bahwa anak diabetes dapat melakukan aktifitas yang sama seperti anak lainnya EVALUASI Anak tidak mendapat injuri Anak dan keluarga dapat menunjukkan cara penanganan hypoglikemia dan hyperglikemia Anak dan keluarga dapat menunjukkan cara pemberian insulin Anak dan keluarga dapat menunjukkan nutrisi yang dibutuhkan Anak tidak mendapatkan kulit yang rusak atau infeksi Anak dan keluarga dapat menunjukkan perawatan dirumah untuk jangka panjang Anak dan keluarga dapat menunjukkan sikap positif didalam segala kondisi KEPUSTAKAAN Dr. Sidhartani Zain. (1981), Ilmu Kesehatan Anak Untuk Perawat, Ikip Semarang, Semarang. Dr. Sidhartani Zain. (1991), Penatalaksanaan Kegawatan Neonatus, Universitas Diponegoro Semarang, Semarang. Marilynn. E. Doenges, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. EGC. Jakarta.
More aboutLAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK PADA KASUS DIABETES MILLITUS

Identifikasi Strategi Pembelajaran Matematika dalam Menyikapi Pergeseran Paradigma dari Teacher centered ke Student centered pada Guru SMP/MTs Negeri di Kota Mataram

Posted by wawan yawarmansyah

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sejak dulu hingga saat ini, orang sudah sering mengungkapkan fakta tentang rendahnya minat siswa atau bahkan tingginya ketakutan siswa pada pelajaran Matematika. Hal ini merupakan salah satu dampak dari adanya kesalahan proses pembelajaran yang menyebabkan siswa yang pada dasarnya suka pada pelajaran Matematika, namun seiring waktu harus merasa jenuh karena mereka merasa terus disuapi dengan angka-angka dan merasa ketakutan karena harus berpikir keras menguras otak untuk mendapatkan jawaban dari suatu perhitungan. Fenomena lain yang juga nyata terlihat bahwa mungkin saja ada beberapa siswa dengan mudah menebak dan menemukan solusi dari suatu perhitungan matematika namun solusi tersebut mereka peroleh tanpa adanya proses mengerti.
Usaha untuk memperbaiki kesalahan proses pembelajaran matematika telah berlangsung sejak lama dan hingga kini masih berlanjut, termasuk didalamnya berkaitan dengan kurikulum pelajaran Matematika. Kurikulum pelajaran Matematika telah mengalami 5 kali pergantian, yaitu kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, suplemen kurikulum 1999, dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang kini diganti pula dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah diserukan oleh pemerintah untuk diterapkan mulai tahun ajaran 2006/2007.
BAB I
Salah satu tuntutan penting KBK adalah adanya perubahan paradigma atau reorientasi terhadap proses pembelajaran dan prosedur penilaian hasil belajar.
Perubahan dari pembelajaran yang mekanistik, dan berpusat pada guru (teacher centered), serta besifat “mencekoki” (telling/transfering) ke pembelajaran yang kreatif, berdasarkan masalah real yang dekat dengan kehidupan siswa (contextual) dan berorientasi pada siswa aktif (active learning/student centered), serta mendorong siswa untuk menemukan kembali (reinvention) dan membangun (construction) pengetahuan secara mandiri (Sudiarta, 2005:330).
Karnadi (2006:1) mengungkapkan bahwa implementasi KTSP sebenarnya membutuhkan penciptaan iklim pendidikan yang memungkinkan tumbuhnya semangat intelektual dan ilmiah bagi setiap guru, mulai dari rumah, di sekolah, maupun di mayarakat. Hal ini berkaitan dengan adanya pergeseran peran guru yang semula lebih sebagai instruktur dan kini menjadi fasilitator pembelajaran.
Selanjutnya usaha perbaikan kesalahan proses pembelajaran matematika dari segi yang lebih sempit, yaitu strategi pembelajaran. Sentyasa (2003:125) menyatakan bahwa beberapa strategi dalam mengembangkan kemandirian peserta didik, antara lain dengan menerapkan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), belajar melalui modul dan paket belajar. Pengajaran berprogram strategi-strategi belajar tersebut dapat terlaksana apabila lembaga pendidikan, utamanya sekolah, didukung oleh bahan pustaka yang memadai dan pusat sumber belajar.
Namun dewasa ini pada umumnya strategi belajar lebih difokuskan pada penggunaan pendekatan, metode, dan media pembelajaran. Penggunaan pendekatan, metode, dan media dalam suatu kegiatan pembelajaran harus dirancang secara cermat. Guru senantiasa perlu memperhatikan karakteristik pokok bahasan, TPK (Tujuan Pembelajaran Khusus), materi, dan siswa. Kecermatan guru dalam memahami karakteristik ini sangat menentukan ketepatan pemilihan pendekatan metode dan media (Heryanto, 2001:874).
Akhir-akhir ini maraknya para peneliti dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menerapkan pembelajaran matematika dengan pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning), PMRI (Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia), dan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan).
Pembelajaran dengan pendekatan CTL harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan “menerima“ pengetahuan. Dalam proses pembelajaran siswa membangun sendiri pengetahuan mareka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru (Depdiknas, 2004 : 11).
PMRI merupakan pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik (pembelajaran yang dimulai dengan hal-hal nyata) yang memberikan kesempatan pada anak untuk saling bekerja sama dalam pembelajaran, jadi pembelajaran ini tidak fokus pada guru (Qozimah, 2005:3).
Hal yang biasa terdengar di telinga kita bahwa umumnya siswa takut dengan pelajaran Matematika, ketakutan siswa ini berusaha digantikan menjadi suatu hal yang menyenangkan melalui pembelajaran dengan pendekatan PAKEM. Dari hal menyenangkan diharapkan siswa mampu dengan sendirinya menjadi lebih aktif dalam pembelajaran.
Dari uraian di atas, titik kesamaan dari adanya implementasi kurikulum baru yaitu KBK dan KTSP yang saat ini sedang gencar diterapkan di sekolah-sekolah serta maraknya penerapan pendekatan-pendekatan baru pada pelajaran Matematika adalah usaha untuk mengubah paradigma (reorientasi) pembelajaran matematika dari teacher centered ke student centered. Akibatnya, para guru matematika memiliki tugas berat untuk menerapkan perubahan paradigma pembelajaran ini.
Guru matematika harus pintar memilih dan menerapkan strategi-strategi pembelajaran matematika yang sesuai dengan kondisi siswa di kelas, khususnya siswa yang duduk di bangku SMP/MTs. Anak-anak SMP/MTs pada umumnya masih memiliki sifat kekanak-kanakan karena peralihan dari SD (Sekolah Dasar). Guru di SMP/MTs tidak hanya dituntut mempunyai kemampuan mengajar yang baik tetapi juga kemampuan merancang dan mengelola pembelajaran. Itu berarti penguasaan terhadap bidang ajaran (subject matter) bukan lagi menjadi tekanan utama. Sebaliknya bagaimana mengelola kelas dan mengemas bahan ajar secara menarik sehingga dapat merangsang minat belajar siswa.
Untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat, diharapkan kota Mataram yang dikenal sebagai kota pendidikan sekaligus Ibu Kota Nusa Tenggara Barat telah mampu menemukan dan menerapkan strategi-strategi pembelajaran matematika untuk menyikapi perubahan paradigma ini.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji dan meneliti masalah ini dengan mengambil judul penelitian “Identifikasi Strategi Pembelajaran Matematika dalam Menyikapi Pergeseran Paradigma dari Teacher centered ke Student centered pada Guru SMP/MTs Negeri di Kota Mataram”.

1.2 Fokus Penelitian
Untuk memperoleh kedalaman studi dalam konteksnya, maka situasi sosial yang ditetapkan sebagai tempat penelitian adalah SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan MTsN 1 Mataram.
Situasi sosial yang diambil dalam penelitian ini adalah single social situation yaitu satu situasi sosial yang terdiri atas satu orang, dengan aktivitas tertentu dan tempat tertentu, sehingga subyek penelitian yang diambil adalah satu orang guru untuk masing-masing situasi sosial yang telah ditetapkan.
Untuk mempertajam penelitian, peneliti menetapkan fokus penelitian (batasan masalah). Fokus penelitian ditetapkan berdasarkan teori-teori dan referensi yang telah ada. Adapun Fokus penelitian diarahkan pada :
1. Pengetahuan guru SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan MTsN 1 Mataram tentang pembelajaran student centered.
2. Perencanaan pembelajaran student centered yang disiapkan oleh guru SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan MTsN 1 Mataram.
3. Proses pelaksanaan pembelajaran student centered yang dilakukan oleh guru SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan MTsN 1 Mataram.
4. Teknik penilaian pembelajaran student centered yang diterapkan oleh guru SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan MTsN 1 Mataram.

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan fokus penelitian yang ditetapkan tersebut, maka masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Bagaimana pengetahuan guru SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan MTsN 1 Mataram tentang pembelajaran student centered?
2. Bagaimana perencanaan pembelajaran student centered yang disiapkan oleh guru SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan MTsN 1 Mataram?
3. Bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran student centered yang dilakukan oleh guru SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan MTsN 1 Mataram, khususnya metode, pendekatan, dan media yang digunakan dalam pembelajaran serta bagaimana keaktifan siswa?
4. Bagaimana teknik penilaian pembelajaran student centered yang diterapkan oleh guru SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan MTsN 1 Mataram?

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi strategi pembelajaran matematika menyikapi pergeseran paradigma dari teacher centered ke student centered pada guru SMP/MTs Negeri di Kota Mataram. Namun secara spesifik tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1. Pengetahuan guru SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan MTsN 1 Mataram tentang pembelajaran student centered.
2. Perencanaan pembelajaran student centered yang disiapkan oleh guru SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan MTsN 1 Mataram.
3. Proses pelaksanaan pembelajaran student centered yang dilakukan oleh guru SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan MTsN 1 Mataram. khususnya metode, pendekatan, dan media yang digunakan dalam pembelajaran serta bagaimana keaktifan siswa.
4. Teknik Penilaian pembelajaran student centered yang diterapkan oleh guru SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan MTsN 1 Mataram.

1.5 Manfaat Penelitian
Bila tujuan penelitian ini dapat tercapai, maka hasil penelitian akan memiliki manfaat teoritis dan praktis.
1.5.1 Manfaat teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah untuk menambah corak ilmu pengetahuan khususnya dalam profesi keguruan pada aspek strategi pembelajaran matematika. Penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan atau referensi untuk penelitan lebih lanjut.
1.5.2 Manfaat praktis
Bila proses perencanaan, pelaksanaan, dan teknik penilaian pembelajaran student centered yang dilakukan oleh guru SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan MTsN 1 Mataram telah ditemukan, maka akan bermanfaat untuk :
a) Guru
Sebagai masukan mengenai strategi pembelajaran matematika dalam rangka menyikapi pergeseran paradigma dari teacher centered ke student centered bagi guru matematika SMP/MTs khususnya guru yang masih menggunakan strategi pembelajaran teacher centered.

b) FKIP
Dapat dijadikan acuan dalam mempersiapkan lulusan yang berkompeten dan dapat lebih banyak membekali lulusannya dengan pengetahuan tentang strategi pembelajaran matematika yang student centered.
c) Mahasiswa
Agar mahasiswa calon guru khususnya mahasiswa FKIP program studi pendidikan matematika dapat lebih mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang lebih besar yang berkaitan dengan penerapan strategi pembelajaran menyikapi perubahan paradigma pembelajaran matematika dari teacher centered ke student centered.
d) Peneliti
Peneliti memperoleh pengetahuan mengenai strategi pembelajaran matematika student centered serta dapat melihat langsung bagaimana implementasinya.
e) Lembaga penelitian
Bagi lembaga penelitian maupun perorangan dapat dijadikan titik tolak dalam melakukan penelitian lanjutan mengingat keterbatasan dalam penelitian ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Strategi Pembelajaran Matematika
Sudjana (2000:6) mengungkapkan bahwa pembelajaran adalah upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Dalam pembelajaran guru menciptakan kondisi-kondisi atau mengatur lingkungan sedemikian rupa sehingga terjadi interaksi antara murid dengan lingkungan, guru, alat pelajaran dan sebagainya sehingga tercapai tujuan pelajaran yang ditentukan.
Sedangkan menurut Aqib (2002:41), pembelajaran adalah upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar siswa.
Winataputra (1997:2) mengungkapkan bahwa pembelajaran merupakan sarana untuk memungkinkan terjadinya proses belajar dalam arti perubahan perilaku individu melalui proses yang diciptakan dalam rancangan proses pembelajaran. Pembelajaran harus melahirkan proses belajar melalui berbagai aktivitas yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan tertentu.
Hamzah (2006:145) mengemukakan bahwa dalam strategi pembelajaran menjelaskan komponen umum suatu perangkat material pembelajaran dan mengembangkan materi secara prosedural yang berdasarkan karakteristik siswa. Strategi pembelajaran merupakan hasil nyata yang digunakan untuk mengembangkan material pembelajaran, menilai material yang ada, merevisi material, dan merencanakan kegiatan pembelajaran.
Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Ada dua hal yang patut dicermati dari pengertian di atas. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode atau pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Oleh sebab itu, sebelum menetapkan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi (Sanjaya, 2007:124).
Sedangkan menurut Ahmadi (2005:12) strategi berarti pilihan pola belajar mengajar yang diambil untuk mencapai tujuan secara efektif.
Mengadopsi definisi-definisi di atas dalam pembelajaran matematika, berarti strategi pembelajaran matematika adalah upaya pendidik dalam mengorganisasi baik dalam merencanakan berupa penggunaan pendekatan, metode, dan sumber daya pembelajaran yang berdasarkan karakteristik siswa maupun dalam mengembangkan, menilai, dan merevisi material pembelajaran matematika yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pelajaran Matematika secara efektif.
2.2 Perubahan Paradigma dalam Pembelajaran Matematika
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, paradigma adalah kerangka berpikir atau model dalam teori ilmu pengetahuan. Sesuai dengan definisi tersebut, tentunya orang-orang yang bergelut di bidang pendidikan menginginkan adanya suatu kerangka berpikir yang dapat dijadikan model (paradigma) baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya pelajaran Matematika karena memang belajar maupun mengajar matematika tidaklah mudah.
Perubahan paradigma ini tentunya memiliki latar belakang yang perlu kita ketahui khususnya bagi guru matematika maupun kalangan pendidikan matematika lainnya. Dengan memahami secara memadai latar belakang perlunya dilakukan perubahan paradigma pembelajaran matematika maka diperoleh semangat positif dalam mengembangkan model dan strategi pembelajaran yang sesuai dan berdampak pada kualitas pembelajaran matematika di kelas serta berdampak positif pula terhadap sikap, minat, apresiasi, dan prestasi siswa dalam pelajaran Matematika.
Menurut Sudiarta (2005:321), dari hasil penelitiannya terdapat 4 dasar pemikiran perubahan paradigma dalam pembelajaran matematika yang dapat dijadikan latar belakang munculnya paradigma baru dalam pendidikan matematika, khususnya latar belakang perlunya perubahan dalam pembelajaran matematika yaitu dasar faktual, dasar filosofis, dasar metodologis, dan dasar kurikulum.

1. Dasar Faktual
Selama ini orang lebih memperhatikan tentang rendahnya prestasi belajar matematika siswa yang ditunjukkan dengan angka-angka, namun sangat jarang orang mencermati bagaimana proses pembelajaran matematika sehingga terjadi rendahnya prestasi belajar matematika siswa tersebut.
Proses pembelajaran matematika sangat bergantung pada kualitas pembelajaran di sekolah dan fakta yang ditemukan bahwa kualitas pembelajaran matematika di sekolah masih rendah karena pembelajaran matematika di kelas pada umumnya masih dengan rutinitas yang sama yaitu kegiatan yang diawali dengan penjelasan konsep yang diperjelas dengan contoh, kemudian dilanjutkan dengan latihan soal-soal matematika, sehingga tak jarang ditemukan banyak siswa yang merasa kesulitan ketika disuruh menyelesaikan soal yang berbeda dengan contoh yang diberikan oleh guru.
Kesulitan yang dirasakan oleh siswa dipengaruhi oleh penyajian masalah matematika dalam bentuk tertutup yaitu masalah (soal) matematika yang dirumuskan hanya memiliki satu jawaban yang benar dan satu cara pemecahan. Fakta ini menuntut adanya perubahan dalam pembelajaran sehingga pembelajaran matematika tidak berkutat hanya pada penyampaian masalah tertutup namun lebih kepada pembelajaran yang benar-benar memberikan kekuatan lebih besar kepada siswa sehingga ide-ide yang telah ada dalam pikiran mereka dapat dijadikan konsep yang lebih bermakna.
Dengan adanya perubahan dalam pembelajaran matematika, diharapkan siswa memiliki kemampuan berpikir sesuai dengan enam jenjang kognitif yang dikemukakan oleh Bloom yaitu : 1) tahap pengetahuan, berupa kemampuan mengerjakan algoritma rutin; 2) tahap pemahaman, berupa pemahaman konsep, prinsip, aturan, generalisasi, dan struktur matematika; 3) tahap aplikasi, berupa kemampuan untuk memilih, menggunakan, dan menerapkan dengan tepat suatu teori atau cara pada situasi baru; 4) tahap analisis, berupa kemampuan untuk menguraikan suatu masalah (soal) menjadi bagian-bagian yang lebih kecil serta mampu untuk memahami hubungan di antara bagian-bagian tersebut; 5) tahap sintesis, berupa kemampuan untuk menyusun kembali elemen masalah dan merumuskan suatu hubungan dalam penyelesaiannya; 6) tahap evaluasi, berupa kemampuan untuk mendapatkan pertimbangan terhadap suatu situasi, ide, dan metode berdasarkan suatu patokan atau kriteria.
Tak hanya dari segi kognitif, perubahan pembelajaran matematika juga diharapkan dapat meningkatkan ranah kognitif maupun afektif siswa sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara interaktif.

2. Dasar Filosofis
Cara pandang atau persepsi terhadap suatu hal sangat mempengaruhi perlakuan atau interaksi seseorang dengan hal tersebut. Begitu juga dengan cara pandang atau persepsi terhadap matematika. Proses penyusunan kurikulum matematika (isi, pendekatan, strategi, dan prosedur evaluasi pembelajaran) dan pembelajaran matematika di kelas dipengaruhi oleh cara pandang atau persepsi terhadap matematika. Secara historis dan filosofis, ada beberapa cara pandang matematika yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan yang berdampak pada terbentuknya metode dan perlakuan terhadap siswa dalam pembelajaran matematika.
Ada beberapa cara pandang matematika yang sejalan dengan kaum behavioristik yang memunculkan adanya pembelajaran teacher centered, antara lain the platonic view yaitu pandangan yang berasumsi bahwa matematika cenderung hanya cocok untuk orang berbakat saja, jadi bagi orang yang tidak memiliki bakat tersebut akan sia-sia saja usaha mereka untuk memahami palajaran matematika.
Pandangan the platonic view senada dengan the instrumentalist view, yang memandang matematika itu sebuah keranjang alat-alat (a bag of tools) yang terdiri atas kumpulan prosedur dan teknik menghitung atau a body of computational rules and prosedure (Resnick dalam Sudiarta, 2005:325). Implikasi pandangan ini adalah dominannya pembelajaran matematika yang menekankan penguasaan fakta-fakta, prosedur, dan teknik-teknik atau algoritma rutin matematika, sehingga pembelajaran sering direduksi menjadi training dan drill rutin mengerjakan soal matematika. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa sejak lama pembelajaran matematika di sekolah-sekolah didominasi oleh metode pembelajaran yang diilhami oleh pandangan tersebut di atas.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan muncullah beberapa pandangan yang barlawanan dengan pandangan tadi yaitu pandangan yang memposisikan siswa sebagai pusat pembelajaran (student centered) yang memiliki seperangkat konsep alternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya. pandangan-pandangan tersebut antara lain the problem solving view, yang memposisikan matematika itu bukan sebagai pengetahuan akhir, tetapi sebagai continually expanding field of human creation and invention (Ernest dalam Sudiarta, 2005:326). Pandangan inilah yang mengilhami perubahan pendekatan pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran berpendekatan pemecahan masalah.
Pandangan the problem solving view sebenarnya bukanlah suatu yang baru, paling tidak secara historis dan filosofis, pernah diwakili oleh filosuf idealis seperti George Berkeley (1753), Immanuel Kant (1780), namun sekitar awal tahun 1970-an pandangan ini muncul lagi dalam bentuk constructivism dan mendapat sambutan luas di dunia pendidikan.
Esensi dari pandangan konstruktivisme adalah bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila itu dimungkinkan informasi itu menjadi milik mereka sendiri (Depdiknas, 2004:11) sehingga kontruktivisme ini mengilhami terjadi pergeseran paradigma dalam pendidikan matematika, terutama di negara-negara barat seperti Belanda dan Jerman. Belanda dengan bendera Realistic Mathematics dan Jerman dengan bendera Cognitive Mathematics sama-sama mengklaim bahwa pelajaran Matematika merupakan human activity baik mental maupun fisik berdasarkan real life yang dapat dilakukan oleh semua orang.

3. Dasar Metodologis
Karena mengajar matematika tidaklah mudah, maka diperlukan suatu pedoman dalam mengajar matematika yang benar-benar menjadikan siswa mengalami apa yang dialami bukan hanya ”mengetahui”nya. Para ahli atau peneliti dalam bidang matematika berpendapat bahwa tidak cukup mengandalkan teori psikologi atau metode-metode umum dalam ilmu psikologi sebagai pedoman dalam mengajar matematika. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa tidak selamanya teori sejalan dengan kenyataan yang ada, walaupun teori tersebut terbentuk dari adanya penelitian terhadap suatu kenyataan.
Melihat kenyataan tersebut sudah seharusnya disediakan ”ilmu psikologi khusus” sebagai cabang ilmu yang mewadahi penelitian pendidikan yang ”menyentuh” substansi matematika itu sendiri. Sebagai contoh, tidaklah cukup mengatakan bahwa metode belajar tertentu, metode kartu kerja misalnya, dapat meningkatkan prestasi belajar matematika tanpa menyentuh dan menguraikan apa konsep matematika yang dituangkan dalam lembaran kartu kerja tersebut, mengapa konsep matematika tersebut dituangkan dalam lembaran kartu kerja, dan bagaimana implementasi konsep matematika itu dituangkan dalam kartu kerja tersebut.
Dengan adanya dasar filosofi yang berupa pandangan-pandangan tentang matematika seperti yang telah diuraikan di atas, memunculkan pertanyaan implikasi metodologis yaitu pendekatan dan metode pembelajaran apa yang sesuai untuk masing-masing cara pandang atau persepsi terhadap matematika tersebut. Jika matematika itu di pandang sebagai proses konstruksi human thinking (konstruktivisme) maka pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan paradigma pembelajaran saat ini yaitu CTL (Contextual Teching and Learning) dan PMRI (Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia) yang diadopsi dari RME (Realistic Mathematic Education) yang dibentuk dan dikembangkan oleh Belanda.

4. Tuntutan Kurikulum
Amerika dengan NCTM-nya (National Council of Teachers of Mathematics) dapat dipandang sebagai kiblat reformasi dan inovasi pembangunan kurikulum matematika sedunia. Sejak Agenda For Action (1980) diluncurkan, NCTM merekomendasikan bahwa problem solving menjadi fokus pendidikan dan pembelajaran matematika. Walaupun agak terlambat kini diadopsi dengan baik dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang telah diujicobakan dan dikembangkan di Indonesia sejak tahun 2001. Namun sejak tahun 2006 pemerintah Indonesia telah mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Baik KBK maupun KTSP menuntut adanya perubahan paradigma terhadap proses pembelajaran dan prosedur penilaian hasil belajar siswa, namun dalam KTSP guru diharapkan dapat lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan bahan ajar sesuai kebutuhan sekolah.

2.3 Paradigma Pembelajaran dari Teacher centered ke Student centered
Sebelum munculnya istilah pembelajaran teacher centered, telah sering terdengar istilah-istilah seperti pembelajaran konvensional atau pembelajaran teacher oriented. Seperti yang diungkapkan oleh Wicaksono (2007:1) bahwa pada dasarnya, ketiga bentuk pembelajaran yaitu pembelajaran teacher centered, teacher oriented maupun pembelajaran konvensional merupakan model pembelajaran kaum behavioristik.
Wicaksono (2007:1) dalam artikelnya mengungkapkan bahwa kalangan behaviorist berasumsi bahwa : 1) Proses belajar dapat berlangsung dengan tanpa mempertimbangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik. Potensi peserta didik hanya menentukan tingkat kecepatan perubahan perilaku sebagai hasil belajar; 2) Proses belajar dapat berlangsung tanpa mempertimbangkan kesadaran dan kemauan peserta didik.
Wicaksono (2007:1) juga mengungkapkan bahwa kaum behaviorist ini mengembangkan sebuah model pembelajaran teacher centered. Tujuan Pembelajaran ditentukan oleh pengajar atau institusi, peserta didik tidak perlu punya kehendak sendiri. Segala macam potensi peserta didik harus diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang implikasinya sebagai berikut :
• Materi pelajaran hanya ditentukan oleh institusi dan pengajar. Pengajar aktif menerangkan materi pelajaran, peserta didik hanya memasukkan materi tersebut ke dalam otaknya. Setelah periode tertentu dilakukan evaluasi berupa menjawab soal-soal yang berasal dari materi yang diterangkan tadi. Bisa dikatakan, guru telah menjadi satu-satunya sumber belajar peserta didik.
• Model reward dan punishment merupakan satu-satunya cara untuk merangsang motivasi belajar. Pengkondisian ini harus diakui cukup berhasil. Pengejaran tersebut seolah telah menjadi tujuan belajar itu sendiri. Mereka telah melupakan bahwa belajar adalah untuk mengembangkan segala potensi diri dan memperoleh keterampilan untuk hidup mereka kelak.
• Tak jarang menjadikan peserta didik sebagai alat mencapai kebanggaan institusi. Salah satu kriteria untuk disebut sekolah unggul adalah jika sebagian besar besar lulusannya memperoleh Danem tinggi. Untuk mencapai itu, kebanyakan sekolah-sekolah kita memberi pelajaran tambahan untuk latihan mengerjakan soal-soal yang di-UAN-kan. Akibatnya, segala potensi, kemauan, dan waktu peserta didik terserap ke sini.
Dewasa ini, telah banyak penelitian yang mengungkapkan perlunya bahkan suatu keharusan untuk mengubah paradigma pembelajaran dari teacher centered ke student centered.
”Pembelajaran student centered (student centered learning) merupakan pembaharuan metode pembelajaran konvensional teacher centered learning” (UNAS, 2004:1).
Sentyasa (2003:126) menarik kesimpulan sebagai berikut :
”Dalam rangka mengatasi kelemahan-kelemahan pendidikan esensialis dan behavioristik, sistem pendidikan hendaknya menerapkan paradigma pendidikan progresif futuristik. Terdapat tiga pilar utama pendidikan progresif. Pertama, pendidikan berpusat pada anak. Pendidikan ini akan mengembangkan kemampuan individu, kreatif, mandiri, dan mengembangkan secara optimal potensi anak-anak ...”

Sapaat (2002:1) menegaskan bahwa situasi pembelajaran yang student centered menuntut guru agar lebih proaktif dalam membantu perkembangan belajar siswa dengan menjadi fasilitator.
Lebih lanjut Soenardiyanto (2004:17) menuliskan dalam penelitiannya:
”untuk menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar peserta didik, pembelajaran di sekolah harusnya berubah dari yang teacher centered menjadi yang student centered. Permasalahan tersebut membutuhkan suatu solusi yang konkret ... adalah dengan meningkatkan mutu proses belajar mengajar, antara lain dengan menerapkan metode-metode belajar yang lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan semua potensi yang dimiliki dengan paradigma pembelajaran baru. Pembelajaran yang menggunakan paradigma baru tersebut adalah pembelajaran kontekstual (contextual learning) (Depdiknas, 2002:1)”.
More aboutIdentifikasi Strategi Pembelajaran Matematika dalam Menyikapi Pergeseran Paradigma dari Teacher centered ke Student centered pada Guru SMP/MTs Negeri di Kota Mataram

Penerapan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik dengan metode Preview-Question-Read-Reflect-Recite-Review (PQR4) untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa pada pembelajaran pokok bahasan bilangan pecahan di kelas VII

Posted by wawan yawarmansyah on Thursday, June 2, 2011

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Informasi yang diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan Ibu Aminah selaku guru mata pelajaran matematika kelas VII SMP Negeri 13 Mataram, bahwa di dalam mengajar sering menggunakan metode ekspositori. Pada kondisi ini, siswa cenderung menghafal contoh-contoh yang diberikan oleh guru tanpa terjadi pembentukan konsep yang benar pada struktur kognitif siswa. Hal ini juga akan berdampak pada perilaku siswa yang kurang percaya diri baik dalam bertanya, menyampaikan ide maupun dalam proses pemecahan masalah yang dihadapi. Bagi siswa, belajar matematika hanya pada saat akan menghadapi ulangan atau ujian dan terlepas dari masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari sehingga pelajaran matematika dirasakan tidak bermanfaat, tidak menarik, dan membosankan yang akhirnya akan bermuara pada rendahnya prestasi belajar matematika siswa. Rendahnya prestasi belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 13 Mataram dapat dilihat dari hasil ulangan harian kelas VII semester I tahun ajaran 2007/2008 pada tabel 1.1 sebagai berikut.


Tabel 1.1 Nilai Ulangan harian kelas VII semester 1 tahun ajaran 2007/2008
No Kelas Jumlah Siswa Nilai Rata–rata Kelas
1 VIIA 38 60,65
2 VIIB 38 61,34
3 VIIC 38 58,74
4 VIID 38 60,23
(Sumber : Daftar nilai guru matematika)
Berdasarkan pengalaman mengajar Ibu Aminah sebelum tahun ajaran 2007/2008, materi yang dianggap paling rendah penguasaannya bagi siswa kelas VII yaitu bilangan pecahan. Walaupun materi ini telah dipelajari siswa di Sekolah Dasar (SD), namun pada kenyataannya siswa belum menguasai materi tersebut. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1.2 berikut.

Tabel 1.2 Rata-rata nilai matematika per pokok bahasan kelas VII semester I tahun ajaran 2006/2007
Kelas Pokok bahasan
Bilangan bulat Bilangan pecahan Aljabar dan Aritmetika SPLV Perbandingan
VIIA 62,40 52,02 60,25 60,00 61,54
VIIB 63,33 51,45 61,29 60,75 59,85
VIIC 60,25 50,44 60,37 59,45 60,50
(sumber: daftar nilai guru matematika)
Pada saat observasi terlihat ada potensi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran matematika. Hal ini terlihat dari antusiasme siswa dalam mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Potensi tersebut dapat dikembangkan oleh guru dengan memilih pendekatan, strategi, metode dan model pembelajaran yang tepat. Menurut Sudjana (1989:73), tinggi rendahnya kegiatan belajar siswa juga dipengaruhi oleh model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Selain pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi yang diperlukan juga pemilihan alat peraga yang tepat untuk mengurangi sifat abstrak dari objek matematika. Hal ini diharapkan dapat memberikan sumbangan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.
Untuk mengatasi permasalahan di atas, dapat disikapi melalui suatu tindakan berupa penerapan pendekatan pendidikan matematika realistik dengan metode Preview-Question-Read-Reflect-Recite-Review (PQR4). Pendidikan matematika realistik (PMR) diadopsi dari kata Realistic Mathematic Education (RME). Pada konsep PMR, pengembangan suatu konsep matematika dimulai dari siswa secara mandiri berupa kegiatan eksplorasi sehingga memberikan peluang pada siswa untuk berkreasi mengembangkan pemikirannya. Pengembangan konsep berawal dari pengalaman siswa dan siswa menggunakan strateginya masing-masing dalam memperoleh suatu konsep. Guru diharapkan tidak tergesa-gesa menyampaikan pemikirannya kepada siswa tentang suatu hal yang dibahas. Bila suatu materi dirasa sulit, maka siswa dapat membentuk kelompok kecil, sehingga tejadi negosiasi antar siswa dalam mendiskusikan materi tersebut. Peranan guru hanya sebagai fasilitator atau pendamping yang akan meluruskan arah pemikiran siswa, jika tidak mengarah pada konsep yang akan dibangun. Pembelajaran berpendekatan PMR dengan metode PQR4 diharapkan dapat membantu siswa mengatasi kesulitan dalam mempelajari pokok bahasan bilangan pecahan. Disamping itu, memudahkan guru untuk memperbaiki cara berfikir dan keterampilan komunikasi siswa serta dapat mengoptimalkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pada kondisi ini, diharapkan materi yang dipelajari siswa akan melekat untuk waktu periode yang lebih lama.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengadakan penelitian tindakan kelas yang berjudul Penerapan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik dengan metode Preview-Question-Read-Reflect-Recite-Review (PQR4) untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa pada pembelajaran pokok bahasan bilangan pecahan di kelas VII.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: ”Apakah dengan penerapan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik dengan metode PQR4 dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa pada pembelajaran pokok bahasan bilangan pecahan di kelas VII SMP Negeri 13 Mataram tahun ajaran 2007/2008?”.

C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas VIIC tahun ajaran 2007/2008 melalui penerapan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik dengan metode PQR4 pada pembelajaran pokok bahasan bilangan pecahan.





E. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagi Siswa, dapat merangsang kemampuan berfikir siswa dalam pemecahan masalah dan menambah rasa percaya diri siswa serta dapat meningkatkan pemahaman siswa
2. Bagi Guru, memberi wawasan baru sebagai bahan alternatif model pembelajaran matematika yang dapat mendayakan potensi belajar siswa.
3. Bagi Sekolah, penelitian ini memberi sumbangan pemikiran bagi pengelola sekolah untuk perbaikan teknik dan model pembelajaran.
More aboutPenerapan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik dengan metode Preview-Question-Read-Reflect-Recite-Review (PQR4) untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa pada pembelajaran pokok bahasan bilangan pecahan di kelas VII

Kumpulan tutorial para blogger master

Posted by wawan yawarmansyah

script selamat datang
postingan kali ini saya ingin mencoba merangkum hasil blog walking saya selama ini, kesempatan kali ini saya membagi sebuah script selamat datang seperti berikut ini
berikut ini scriptnya

<script> function MYALERT() { alert("Selamat Datang di blog wawan yawarmansyah"); } MYALERT() </script>

Cara Membuat Menu Scrolling

Dengan membuat menu scroll untuk menyimpan catatan kita, link, atau banner akan menghemat tempat pada blog kita. Apa menu scroll itu? Baiknya langsung saja liat contoh dibawah ini!
http://wanmustafa.wordpress.com/2011/06/12/proses-belajar-dan-mengajar/
http://wanmustafa.wordpress.com/2011/06/12/model-pembelajaran/
http://wanmustafa.wordpress.com/category/educations/
http://wanmustafa.wordpress.com/category/peluruhan-gamma/




Cara buat menu scroll seperti diatas:

Copi code berikut:

Setelah itu paste pada tempat yang sobat inginkan di blog sobat , apakah pada postingan, sidebar dll. Untuk alamat URLnya sobat ganti dan sesuaikan sendiri!

Untuk memasangnya pada postingan sobat harus berada dalam tab edit HTML, sedangkan untuk memasangnya pada sidebar saran saya untuk sobat agar tak bingung menyesuaikan dengan lebar sidebar ganti lebarnya menjadi 100% kodenya widht: 100% cara memasangnya (untuk yang belum tahu ni):

Login ke blogger
Pada bagian dasbor pilih menu layout/ tata letak
Klik elemen halaman
Tambah gadget pada sidebar yang anda ingin tampilkan menu scroolnya!
Pilih tambah HTML/JavaScript
Beri titel, simpan codenya dalam konten
Save, lihat hasilnya diblog sobat !
Semoga bermanfaat!
More aboutKumpulan tutorial para blogger master

penerapan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya khususnya dalam pembelajaran mata pelajaran matematika pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel kelas II-4 semester I di SMP Negeri 3 Mataram dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

Posted by wawan yawarmansyah on Sunday, May 29, 2011

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran matematika kels II SMP Negeri 3 Mataram tahun pelajaran 2005/2006 terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi, terutama adalah rendahnya prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai yang mereka peroleh pada saat mereka masih duduk di kelas I
Prestasi belajar siswa yang rendah tersebut lebih disebabkan karena terdapat permasalahan pembelajaran matematika dan sulitnya guru menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dalam proses pembelajaran. Padahal guru sudah menerapkan metode mengajar dari sistem yang klasikal yaitu guru sebagai pusat informasi, juga metode kelompok yaitu guru sebagai fasilitator dan pengarah yang bertujuan agara siswa bersama-sama lebih terpacu dalam meningkatkan prestasi belajar. Tetapi, metode yang pernah diterapkan ternyata kurang optimal, dilihat dari proses pembelajaran yang tidak kondusif
dan suasana proses pembelajaran
tidak berjalan baik yaitu melihat sering ributnya peserta didik, baik ribut bertanya kepada rekan kelas mereka tentang pelajaran maupun mengerjakan hal lain di luar pelajaran. Keadaan ini juga dipengaruhi oleh kurang simpatinya siswa kepada gurunya. Hal ini dapat diamati di lapangan, yaitu banyaknya siswa yang ragu bertanya kepada gurunya dan jarangnya siswa mengeluarkan ide atau pendapat pada saat pelajaran berlangsung ataupun di luar jam pelajaran, sehingga guru sulit juga menangkap kemampuan verbal mereka yang tidak nampak. Hal ini didukung oleh kurang adilnya guru dalam menempatkan siswanya dalam proses pembelajaran, yaitu menganggap bahwa kemampuan rata-rata siswa adalah sama, sehingga ada siswa yang lambat dalam belajar merasa tertinggal dan yang cepat (pandai) terpaksa tertahan kemajuannya.
Melihat fenomena seperti yang diuraikan di atas, maka pemilihan pendekatan, strategi, metode dan model pembelajaran harus dipertimbangkan dengan baik oleh guru, yaitu dengan melihat keberagaman (heterogen) nya kelas, terutama dari segi prestasi peserta didik dan mempertimbangkan permasalahan yang muncul. Artinya bahwa guru dituntut agar dapat menciptakan proses pembelajaran yang inovatif dan kreatif yang mampu memotivasi siswa untuk memahami pelajaran matematika agar lebih mudah dipelajari. Sehingga keragaman tidak dijadikan sebagai penyebab lemahnya prestasi siswa, tetapi bagaimana keragaman itu dijadikan motivasi bersama agar prestasi siswa dapat meningkat secara merata.
Keberagaman siswa dalam hal ini dilihat pada prestasi siswa, juga diperhatikan dari sulitnya guru menangkap kemampuan verbal siswa seperti yang telah disebutkan di atas. Karena kesempatan yang telah diberikan untuk mengemukakan pendapat untuk berdiskusi atau bertanya kepada guru tidak dimanfaatkan oleh siswa dengan baik. Bahkan cenderung ribut bertanya kepada temannya. Karena di dalam kesehariannya siswa akan lebih mudah untuk menerima ”bantuan” pengajaran dari teman-teman nya daripada dari gurunya. Hal ini disebabkan karena biasanya seorang teman tidak memiliki rasa enggan ataupun rendah diri untuk bertanya dan meminta bantuan kepada teman yang lain.
Melihat kenyataan tersebut di atas, untuk mengoptimalkan pembelajaran dari segi proses maupun waktu pelaksanaan pembelajaran dan agar siswa mampu mengungkapkan kesulitan-kesulitannya untuk memaksimalkan kemampuan individu mereka, dengan melihat kenyataan bahwa mereka banyak bertanya kepada teman sekelasnya dibandingkan dengan guru, maka perlu respon guru untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan mengoptimalkan potensi siswa yang berprestasi sebagai basis pembelajaran. Karena walaupun rata-rata nilai yang diperoleh relatif rendah, namun ada beberapa orang siswa yang nilainya lebih dari rata-rata nilai kelas, hal ini menunjukan bahwa siswa-siswa yang berprestasi tersebut dapat dijadikan tutor untuk membantu rekannya dalam memahami materi yang diajarkan.
Sehubungan dengan itu, peneliti ingin mengkaji model pembelajaran kooperatif yang berbasis tutor sebaya, karena dalam setingan kooperatif siswa lebih banyak belajar dari satu teman ke teman yang lain dari pada belajar dengan guru. Menurut Slavin dalam Nurhadi (2000:16), teknik pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan pengalaman belajar individual atau kompetitf.
Untuk penelitian ini, yang akan menjadi sampelnya adalah kelas II-4 pada tahun pelajaran 2006 / 2007, merupakan tingkatan kelas bagi kelas I-4 untuk yang naik ke kelas II, karena di SMP Negeri 3 sendiri tidak ada sistem roling kelas seperti yang terjadi di sekolah yang lain. Dengan melihat rendahnya nilai rata-rata matematika yang diperoleh oleh mereka pada tahun ajaran sebelumnya yang terlihat pada tabel 1.
Untuk diketahui, kurikulum terbaru 2006 ini di kelas II semester satu dibagi menjadi dua garis besar materi yang di ajarkan yaitu 1) Aljabar, terdiri dari Faktorisasi Suku Aljabar, Fungsi, Persamaan garis lurus, dan Sistem persamaan Linear dua variabel, dan 2) Geometri dan pengukuran yaitu Dalil Phytagoras. Dari peneliti sendiri mengambil pokok bahasan Sistem Persamaan Linear dua Variabel sebagai pokok bahasan yang akan diteliti, dilihat dari karakteristik materi. Sistem persamaan linear variabel terdiri dari tiga sub pokok bahasan, yaitu : Persamaan Linear dua Variabel ,Sistem Persamaan Linear dengan dua Variabel , dan Menyelesaikan Soal Cerita yang Berkaitan dengan Sistem Persamaan Linear dua variabel.
Seperti yang dipaparkan sebelumnya bahwa di dalam kegiatan pembelajaran di kelas ada beberapa orang siswa yang cepat memahami materi pembelajaran, sehingga pembelajaran pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel tidak terlalu sulit dipelajari dan masih berkaitan dengan materi pelajaran sebelumnya yaitu pokok bahasan bentuk aljabar, persamaan garis lurus dan sistem persamaan linear satu variabel, yang menjadi pokok bahasan prasyarat atau pendukung materi pelajaran Sistem persamaan linear dua variabel. Berdasarkan hal tersebut maka rekan kelas yang memiliki kemampuan pemahaman cepat dapat memberikan bimbingan bagi rekan kelas yang lain yang lambat dalam memahami pelajaran, sehingga peran guru dapat dibagi kepada siswa yang dijadikan tutor bagi rekan kelas mereka. Apabila ada di antara tutor yang menemukan kesulitan dalam menyampaikan materi terkait dengan pemodelan matematika dari pernyataan soal cerita, maka di sinilah peran guru sebagai pembimbing.
Sehingga dari penjelasan di atas maka pembelajaran dengan tutor sebaya dapat diterapkan pada pokok bahasan Sistem persamaan linear dua variabel dengan menggunakan pembelajaran kooperatif untuk mengefektifkan pembelajaran dan mempermudah guru dalam memantau maupun mengevaluasi perkembangan prestasi akademik siswa.
Berdasarkan uraian di atas maka perlu diadakan penelitian untuk melihat bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya khususnya dalam pembelajaran mata pelajaran matematika pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel kelas II-4 semester I di SMP Negeri 3 Mataram dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
B. Identifikasi Masalah
Adapun masalah-masalah yang ada dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 3 Mataram, antara lain :
1. Pembelajaran yang cenderung klasikal dan monoton yang menyebabkan kebosanan dan antipatinya siswa terhadap pelajaran yang diajarkan.
2. Siswa malu dan ragu bertanya kepada gurunya apabila mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran.
3. Kurangnya interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran.
Keadaan inilah yang menyebabkan adanya tuntutan kepada guru untuk mengantisipasi hal tersebut, yaitu dengan menerapkan suatu model pembelajaran yang kreatif, maksudnya walaupun model tersebut sudah sering digunakan maka dicobalah dengan pendekatan yang lebih inovatif, yaitu model pembelajaran yang akan memaksimalkan kondisi belajar demi tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan, dengan memanfaatkan tutor sebaya sebagai basis pembelajarannya untuk membimbing rekan-rekan sekelasnya. Sehingga diharapkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa, khususnya pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel kelas II-4 semester I SMP Negeri 3 Mataram.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka yang menjadi rumusan permasalahannya adalah “Bagaimana meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas II-4 semester I SMP Negeri 3 Mataram dengan penerapan pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya”.


D. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, melalui perapan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya.
E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Pengembangan Ilmu
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran excact, dan dalam pembelajarannyapun perlu metode-metode dalam menciptakan pemahan. Untuk itulah penerapan model pembelajaran ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi dalam mengembangkan strategi pembelajaran matematika.
2. Penerapan dan kemanfaatan
a. Bagi Guru, Hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman bagi guru, untuk mengajar sebagai model pembelajaran alternatif. Dan dapat memanfaatkan model pembelajaran ini sebagai pengalaman manajemen kelas untuk mengenal karakteristik dan keragaman peserta didik
b. Bagi siswa, mengembangkan sikap kebersamaan, dan menerapkan kerjasama postitif , saling memberikan motivasi, dan kepemimpinan.
c. Bagi sekolah, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan yang baik dalam perbaikan pembelajaran dan peningkatan mutu dalam proses pembelajaran.
d. Bagi peneliti, diupayakan sebagai titik awal perbandingan untuk penelitian berikutnya.
More aboutpenerapan model pembelajaran kooperatif berbasis tutor sebaya khususnya dalam pembelajaran mata pelajaran matematika pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel kelas II-4 semester I di SMP Negeri 3 Mataram dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.